Showing posts with label Curhatku. Show all posts
Showing posts with label Curhatku. Show all posts

Saturday, February 2, 2013

Belitung, Apa Kabarmu?

Kalau ada yang mengira aku akan menulis tentang jalan-jalanku ke Belitung, maaf aku mengecewakan kalian. Ini bukan cerita senang-senang, tapi ini cerita tentang kegagalan. Kegagalanku menjangkau Belitung. Kegagalanku menapakkan kaki di bumi Laskar Pelangi itu. Sejak bertahun-tahun yang lalu keinginanku ingin jalan-jalan kesana sudah membara di hati. Tapi bagaikan sebuah cinta yang tak direstui, berkali-kali aku harus mengalami kegagalan. Mungkin memang aku dan belitung tak berjodoh. Hiks

gambar pinjam dari sini
Kegagalan yang pertama terjadi beberapa tahun yang lalu. Sesaat sebelum aku memesan tiket online. Tiba-tiba temanku yang tinggal di Bali "memaksa"ku berkunjung ke pulau dewata itu. Dengan segala rayuan tingkat dewa, tentu saja membuatku takluk juga. Bagaimana tidak, aku dijanjikan keliling bali, segala akomodasi dan transportasi for free. Tentu saja ini tak bisa kudapatkan jika aku ke belitung, dimana segalanya harus kutanggung secara mandiri. Menimbang semua hal tersebut, maka aku alihkan liburan ke belitung menjadi ke bali. Dan aku sama sekali tak menyesal.

Kegagalan kedua terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Aku sudah menyiapkan dana untuk keliling Belitung. Tapi dana tersebut malah terpakai untuk keperluan mudik lebaran. Yah, mau bagaimana lagi, masa' mau jalan-jalan harus ngutang. Terpaksa harus aku batalkan.

Dan kegagalan yang ketiga adalah kegagalan yang terparah sepanjang masa. Semoga teman-teman tak ada yang mengalaminya. Sekitar 3 bulan yang lalu aku sudah membeli tiket pesawat Batavia Air tujuan Tanjung Pandan, untuk penerbangan bulan Mei 2013 nanti. Biasalah, aku memanfaatkan momen promo, jadi belinya jauh-jauh hari. Tapi siapa sangka 3 hari yang lalu Batavia Air dinyatakan pailit, dan tidak beroperasi lagi. Aku langsung shock mendengar berita itu. Namun, aku tetap berusaha menenangkan diri dan berbaik sangka. Ya sudahlah kalau batal terbang, yang penting tiketnya bisa direfund.

Tapi makin hari aku malah makin galau, karena sampai detik ini masih belum ada kejelasan apakah tiketnya bisa direfund. Didatangi ke kantornya, ternyata sudah tutup. Aku telpon ke kantornya yang di bandara sukarno hatta, tak ada yang mengangkat. Sampai menghubungi kuratornya, tetap tidak ada penjelasan. Katanya dialihlan ke maskapai lain, tapi kenyataannya harga tiketnya menjadi jauh lebih mahal, sampai lebih dari 2 kali lipat harga tiket dari Batavia Air. Kenapa jadi konsumen yang dirugikan begini? Sungguh tak ada perlindungan bagi kami. Harga tiket Rp 2,5 juta bukan nilai yang sedikit bagiku. Rasanya sungguh menyesakkan dada, jika uang sebanyak itu harus hilang sia-sia.

Gagal sudah rencana ke Belitung, dan uang tiket terancam hangus. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan berdoa, semoga pihak terkait mau bertanggung jawab.

Belitung, apa kabarmu? Kabarku tidak baik-baik saja.


*Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan #7HariMenulis dari @birokreasi*


Thursday, January 3, 2013

Terjebak Ramalan


Di akhir tahun maupun di awal tahun, sudah sangat lazim kita temui berbagai media masa menampilkan rubrik dan acara ramalan. Majalah, koran, dan tabloid yang terbit di minggu ini, hampir semua menyisipkan bonus berjudul ramalan 2013. Dari ramalan zodiak hingga ramalan trend fashion. Bahkan kalau kita lihat di televisi, makin sering bermunculan paranormal yang meramalkan nasib artis-artis yang lagi naik daun. Dan yang paling fenomenal, Mama Loreng semasa hidupnya pernah meramalkan bencana yang akan menimpa negeri kita. Wuiih..sehebat itukah manusia? Aku sendiri sebenarnya tak percaya hal-hal seperti itu. Apalagi aku pernah 'trauma' oleh sebuah ramalan. Bukan ramalan zodiak dari sebuah majalah, atau ramalan fashion yang salah. Tapi dari orang tak dikenal yang mengaku punya keahlian meramal, dan memaksa meramalku.

Ceritanya begini. Kira-kira 2 tahun yang lalu di suatu pagi yang cerah di kantorku. Saat itu aku bertugas di front office (semacam costumer service). Tidak terlalu ramai hari itu, setidaknya aku tak perlu menangani antrian yang panjang. Datanglah seorang laki-laki sekitar usia 40an. Dari warna kulit dan mata sipitnya jelas kentara kalau dia keturunan Tionghoa. Penampilannya biasa saja layaknya bapak-bapak pada umumnya. Tapi dari tampilan kasualnya menandakan dia bukan pekerja kantoran.  Dan benar dugaanku, dia seorang pedagang.

Awalnya tak ada yang aneh. Sebagai petugas pelayan masyarakat tentunya aku berusaha melayaninya sebaik mungkin. Dan sepertinya dia puas. Dibuktikan dengan senyum santunnya sesaat sebelum meninggalkan mejaku. Namun tak berapa lama kemudian, entah apa yang membuatnya kembali ke arahku, dan berkata "Mbak, boleh ya saya ramal?". Sejenak aku bingung. Logat cinanya membuat telingaku rancu menangkap antara kata 'ramal' dengan 'lamar'. Duh kirain dia naksir aku..haha. Setelah dia memintaku "Boleh lihat telapak tangannya?", barulah aku paham dia mau meramalku. Tapi tetap saja aku bingung, apa maksudnya orang ini tiba-tiba mau meramalku. "Eh maaf, nggak usah, saya nggak butuh diramal kok? tolakku dengan halus. "Nggak papa kok. Nggak bayar. Saya memang bisa baca garis tangan" bujuknya. Ya sudah, sepertinya dia memaksa. Aku bagaikan tokoh di cerita film yang tiba-tiba didatangi peramal misterius yang meramalku dengan ramalan tak masuk akal. Dan parahnya lagi, setelah mendengar ramalannya pagi itu, hari-hariku tak lagi sama.

Aku terpaku oleh ramalannya. Bahkan setelah dia pergi dari hadapanku, aku masih termangu. Inilah kata-kata ramalannya yang sangat janggal itu..
"Kamu akan menjalani 3 kali pernikahan". Tentu saja aku kaget, satu saja nggak habis-habis, bagaimana caranya bisa nikah 3 kali?.
Dia menarik nafas sesaat dan melanjutkan..
 "Pernikahanmu yang pertama, diawali dengan masa pacaran yang cukup lama. Kemudian menikah, hingga punya 2 anak. Tapi sayang, pernikahan itu harus berakhir, cerai"
Hah?! Bagaimana mungkin?. Jelas sekali yang dia maksud itu pernikahan yang kujalani sekarang. Bagaimana dia tahu masa pacaranku lama? Bagaimana dia tahu anakku ada 2? Raut muka si peramal misterius ini tampak serius. Itu artinya dia tidak bercanda.
"Setelah itu kamu menikah lagi. Tapi pernikahan kedua ini tak berlangsung lama. Cerai lagi. Tak berapa lama kamu menikah lagi untuk yang ketiga. Dan kali ini berlangsung sampai akhir hayatmu".
Aku hanya diam. Tak ada komentar dari mulutku. Bagiku ramalan itu terdengar sangat aneh.

Memang saat ini aku menganggap ramalan itu konyol. Tapi tidak saat itu. Aku yang kala itu sedang mengalami masa-masa sulit di kehidupan rumah tanggaku, mau tak mau termakan juga oleh ramalan tak berdasar itu. Hingga tiap ada masalah, aku kepikiran ramalan itu "Apa benar aku akan cerai?". Sungguh pikiran yang salah. Bukannya fokus mencari pemecahan masalah, eh malah mikirin ramalan yang makin memperparah kegalauan hati. Yah, memang kalau jiwa sedang labil, jadi mudah terpengaruh hal-hal buruk. Untungnya itu tak berlangsung lama. Alhamdulillah, Allah menuntunku kembali ke jalan yang benar :).

Nah, jelas kan tak ada untungnya mikirin ramalan, apalagi mempercayainya. Eh, tapi tadi pagi nggak sengaja aku baca 'Ramalan zodiak 2013' di sebuah tabloid (katanya nggak percaya tapi dibaca juga -___-), pas ramalan untuk zodiakku semuanya baguuuus.. boleh dipercaya nggak ya..? hihihi.. :P

Monday, November 26, 2012

Galau v.s Gaza


Pernahkah teman-teman merasa sedih, terluka, tersakiti, terdzolimi tanpa bisa membela diri? Atau putus asa karena apapun usaha untuk memperbaiki keadaan tak kunjung mendapatkan hasil. Bahkan kondisinya semakin buruk saja. Dan diri ini semakin terjebak dalam belenggu tekanan batin yang tak berkesudahan. Kemana aku harus mencari perlindungan bagi batinku ini? Luka yang dulu pernah tertoreh belum lagi sembuh, kini semakin parah dengan goresan luka baru yang lebih dalam.

Apapun kondisi batinku saat ini, aku mencoba untuk bersikap senormal mungkin. Tetap tersenyum manis saat teman menyapa, dan tetap tertawa mendengar canda tawa mereka, seolah aku ini bahagia. Bagiku itu terapi bagi jiwaku. Mensugesti diri bahwa aku ini baik-baik saja. Meyakinkan diri bahwa aku ini kuat jiwa dan raga. Kucoba melakukan aktivitasku seperti biasanya. Bekerja, berbagi ide, dan cerita dengan teman-teman sekantor. Walaupun sesekali aku tak bisa fokus dengan obrolan mereka itu.  Rasa perih karena luka yang tak kasat mata ini, sempat beberapa kali membuyarkan konsentrasiku.

"Pray for Gaza" kulirik judul pamflet yang ditempel di papan pengumuman. Siang ini ada pengajian di masjid kantorku. Kulangkahkan kakiku menuju rumah Allah tersebut. Sesuatu yang jarang aku lakukan, karena aku lebih sering sholat di ruanganku. Tak ada yang kuharapkan dari pengajian itu. Aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah. Dan aku bersyukur karena kakiku melangkah ke arah yang benar.

Topik pengajian kali ini membuatku benar-benar merasa malu. Rasanya tak pantas aku berkeluh kesah karena masalah sepele ini. Iya sepele, karena walaupun sakit hatiku parah, tapi aku masih bisa bekerja dengan tenang, bercanda dengan teman, dan menjalani kehidupan normalku yang lain. Jauh sekali dengan yang dialami penduduk Palestina saat ini. Mereka harus memperjuangkan hidup dan agama dibawah tekanan serangan bom tak berkesudahan. Walaupun rumah, masjid sekolah, semua hancur, tapi semangat mereka tak pernah hancur. Betapa banyak kehilangan yang mereka alami, harta benda, keluarga, anak-anak dan sanak saudara. Tapi mereka tak gentar sedikitpun. Tak bisa membayangkan kalau aku mengalami yang dialami warga Palestina saat ini.

Masih pantaskah aku berkeluh kesah? Dikaruniai hidup damai tentram, dan punya banyak hal yang tidak dipunyai semua orang. Punya saudara dan keluarga yang lengkap, serta anak-anak yang cerdas dan sehat. Tinggal di Indonesia yang indah dan kaya. Sungguh begitu melimpah nikmat yang Allah berikan padaku. Tapi aku putus asa hanya karena satu masalah saja.. Astaghfirullah..

Sunday, November 11, 2012

Siti Pembantu Seksi

"Bu, ini teman kakak saya yang mau kerja di sini, namanya Siti" kata pembantu tetanggaku malam itu, saat mengantar pembantu baru untukku. Kemudian seorang gadis berkulit cerah yang disebut namanya itu mengulurkan tangan padaku, sambil tersenyum ramah. Ah, ini pembantu baruku. Dari pandangan pertama, penampilan Siti memang berbeda dari pembantu kebanyakan. Rambut hitam lurusnya berpotongan pendek dengan poni menyamping ala personil girlband masa kini. Blouse ketat lengan pendek yang dikenakannya sangat modis dengan pernak-pernik ala artis korea. Dipadukan dengan celana pendek di atas lutut, yang makin memperjelas bentuk tubuhnya. Ditambah dengan tata rias di wajahnya yang membuat penampilannya makin mencolok. Dalam hati aku menggumam "Dia ini mau jadi pembantu atau mau ikut audisi girlband? ". Bagi kebanyakan majikan perempuan pasti merasa terancam oleh kehadiran makhluk seperti ini di runahnya. Makhluk dengan label "pembantu seksi". Tapi tidak denganku. Aku tak terlalu memperdulikan itu. Karena aku merasa diriku lebih seksi. Justru aku berpikir, anak ini punya style dan keberanian untuk tampil beda. Cuma memang keseksiannya agak mengganggu, dan itu bisa diarahkan. Don�t judge the book by its cover lah, masa� gara-gara penampilan aku menolak dia? begitulah pikiranku saat itu.

Malam itu aku manfaatkan untuk sesi perkenalan dan menggali latar belakangnya. Darinya aku tahu bahwa Siti ini mantan TKI. Beberapa bulan yang lalu sempat kerja di Singapura selama 2 tahun. Awalnya aku agak ragu juga, jangan-jangan dia minta gaji tinggi. Tapi setelah aku tanya ternyata dia dengan senang hati mau menerima standar gaji di kampung ini, yang tentunya sangat jauh di bawah standar Singapura. Diapun cerita, kalau dia kembali ke Indonesia karena tak mau jauh dari ayahnya yang kesehatannya sudah menurun. Selain di Singapura, ternyata dia pernah kerja di Hongkong pula. Wah banyak juga pengalamannya. Aku aja seumur hidup belum pernah ke luar negeri *ngiri*. Pantas saja gayanya beda dari pembantu lainnya. Tapi dari obrolan kami itu, aku cukup lega karena aku tak melihat ada kesan genit padanya. Dan aku percaya dengan penilaianku itu. Singkat kata, malam itu aku resmi menerimanya menjadi pembantu rumah tangga di rumahku.

Beberapa hari berselang, tak ada kekacauan yang kurasakan. Sepertinya Siti lumayan bisa diandalkan. Tak sia-sia dia jadi TKI bertahun-tahun. Aku tak perlu mengerahkan banyak energi untuk memandorinya. Dari segi pekerjaan sepertinya tak ada masalah. Tapi dari segi cara berpakaian tetap tak jauh beda dengan pakaian yang dia pakai saat pertama kali datang. Hingga suatu saat datang komplain yang datang justru dari tetanggaku, si bu RT. Sepertinya beliau ini merasa galau, resah, gelisah, oleh kehadiran Siti, pembantu seksi. Dari sumber yang kurang bisa dipercaya, katanya si ibu RT bilang "Dia itu kan cuma pembantu, kok penampilannya genit begitu. Bilangin dong kalau pakai baju jangan kaya' gitu". Waduh kok komplainnya bernada amarah gini. Sebagai majikannya tentu aku merasa tak enak. Aku harus cari cara agar bisa menasehatinya dengan cara yang halus, dan tidak menyakiti hatinya.

Sebelumnya, sebagai second opinion, aku konfirmasi dulu ke suamiku, sebagai makhluk cowok di rumah ini, tentang pembantuku ini. Karena sepertinya suamiku tak pernah komplain tentang penampilan Siti. "Pa, menurut papa sebagai cowok, gimana penampilan Siti?" tanyaku. "Ya sebenarnya aku merasa risih juga sih. Make pakaiannya pendek-pendek, ketat-ketat gitu�" Jawaban suamiku membuatku agak sewot. "Risih tapi kok nggak pernah bilang.. Risih tapi kok diem-diem aja.. Risih ato menikmati?!". Ah, dasar laki-laki. Dan makin kuat hasratku untuk mengambil tindakan medis.

Dari pengamatanku aku ambil kesimpulan, bahwa Siti memang tidak mempunyai baju yang 'normal'. Kopernya yang gede itu diisi dengan selusin baju 'seksi'. Kalau hanya menasehati agar tidak memakai baju-baju itu lagi, tentunya percuma saja, karena hanya baju-baju seperti itu yang dia punya. Satu-satunya cara adalah dengan mengganti baju-bajunya dengan yang lebih layak. Dan mau tak mau aku harus membelikannya baju layak pakai. Duh, kapan lagi aku harus nyari, hari kerjaku jadwalnya sangat padat. Apalagi ini tanggal tua, jadi tambah mikir-mikir lagi. Tiba-tiba aku ingat, sepertinya aku masih punya beberapa baju baru yang belum sempat kupakai. Malam itupun aku mengobrak-abrik lemari pakaianku. Dan lumayan membuahkan hasil. Aku menemukan 4 kaos dan 2 celana baru, yang semuanya masih belum kunodai alias belum dipakai sejak aku beli. Lita yang dari tadi mengamati aksiku berkata "Mama yakin mau ngasih baju-baju itu ke Mbak Siti? Kan bajunya bagus-bagus ma.. Mama nggak sayang? Ntar mama nyesel loh". "Nggak lah.. Mama kan masih bisa beli lagi" balasku dengan senyuman. Padahal dalam hati aku bilang "Ya mau gimana lagi? Tak ada pilihan lain. Daripada kestabilan rumah tangga terancam" haha..:P.

Dan malam itu juga, segera aku berikan baju-baju baruku itu ke Siti. Dan dia menerima dengan senang hati. Alhamdulillah, sejak saat itu dia mulai memakai baju-baju yang aku berikan, dan tidak lagi berseksi-seksi ria. Lega, akhirnya misiku berhasil. Dan aku jadi sadar, pendapat dan penilaianku tidak selalu sama dengan orang lain. Yang menurutku baik-baik saja, belum tentu baik bagi orang lain. Bisa jadi malah meresahkan. Itulah pentingnya kepekaan terhadap sekitar, terutama terhadap suami sendiri. Agar suami tetap terjaga hati dan pandangannya.

Thursday, August 9, 2012

Bosan Jadi Pegawai

Berangkat ke kantor dari jam 6 pagi, pulang kantor jam 7 malam. Begitu setiap hari. Belum lagi di kantor dijejali beban kerja yang tinggi yang sangat menguras energi fisik dan mental. Ditambah lagi dengan lalu lintas di perjalanan yang selalu macet dan makin menambah stres saja. Sesampainya di rumah, aku tak bisa leyeh-leyeh begitu saja. Segala urusan rumah tangga dan anak-anak siap menunggu untuk kutangani. Beginilah kondisiku sehari-hari sebagai wanita bekerja sekaligus ibu rumah tangga. Alhamdulillah sejauh ini dapat aku jalani, walaupun dengan kemampuan yang terbatas. Tapi meskipun begitu, aku sering mengalami kebosanan atas berbagai rutinitasku itu. Rasanya diri ini disetir dan diprogram untuk melakukan hal-hal yang itu-itu saja, tanpa kebebasan sejenak untuk menjalanin kesenangan pribadi, dan menjalani hal-hal yang aku senangi.

Sering aku merenungi apa yang aku kujalani kini. Alhamdulillah aku punya pekerjaan, bisa menafkahi anak-anakku dengan cukup, bisa sesekali mengirim uang untuk orang tua dan adikku. Tidak jarang beberapa orang iri dengan yang aku raih sekarang. Tapi tidak tahukah mereka bahwa yang aku jalani ini memaksaku untuk mengorbankan sesuatu yang berharga yaitu freedom, time and passion. Freedom adalah kebebasanku, karena sebagai pegawai aku harus mengikuti segala aturan yang ada, termasuk waktu kerja. Telat sedikit saja gaji dipotong. Sedangkan kalau bekerja sampai lewat waktu tak diberi reward. Tidak adil memang. Time adalah waktuku bersama anak-anakku. Bisa dibayangkan dari dini hari hingga malam hari aku di luar rumah, pasti waktu untuk bersama anak-anak sangat sedikit. Passion adalah hasrat dan gairah untuk mewujudkan impianku. Karena pekerjaan yang aku jalani sekarang bukanlah passionku.

Terpikir olehku untuk mengundurkan diri dari pekerjaan demi mengembalikan freedom, time and passionku. Tapi untuk mundur tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Terutama faktor finansial yang pasti akan berkurang karena tak ada lagi income yang aku hasilkan. Mau tak mau hal ini pasti mengganggu kestabilan rumah tangga. Bagiku mungkin mudah untuk menyesuaikan diri hidup pas-pasan. Tapi bagi anak-anak tentu itu sangat sulit.

Karena itu aku ingin merintis usaha sendiri agar di saat aku resign nanti, aku punya pegangan. Tapi sampai sekarang memang belum ada yang aku jalani serius. Pernah beberapa kali karena diajak teman, aku ikut bisnis semacam MLM. Dan beberapa kali terbengkalai begitu saja. Mungkin karena tak ada passion di bidang ini. Pernah juga aku membantu temanku dagang baju muslim untuk anak-anak. Tapi proses kulakannya benar-benar merepotkan. Dan aku kapok menjalaninya. Mungkin karena cuma membantu, jadi masalah bagi keuntungan juga tak jelas. Menjadi penjual bantal juga pernah, dan tidak laku. Akhirnya bantalnya aku pakai sendiri..hehe..

Setelah aku gagal dengan bisnis yang berhubungan dengan perdagangan barang, aku mulai berpikir, mungkin aku lebih berbakat di bidang penjualan jasa. Waktu kuliah dulu, aku pernah menjadi guru les privat, dan alhamdulillah hasilnya lumayan. Aku cukup laris di masa itu. Aku bisa menabung, beli baju buat sendiri dan buat adikku, beli tiket pulang kampung, dan bisa mentraktir teman-temanku. Sepertinya aku cukup berbakat di bidang ini. Mengingat keberhasilan itu, aku berniat ingin bisa kembali menjalaninya dengan lebih serius. Tapi bukan berbentuk les privat yang datang ke rumah. Rencananya aku akan membuka tempat les di rumahku. Untuk awalnya aku akan membuka les baca, tulis, dan hitung untuk anak-anak yang akan masuk SD. Kupikir pangsa pasarnya cukup lumayan karena sebagian besar warga komplekku adalah pasangan usia muda yang anak-anaknya masih kecil-kecil, antara usia TK dan SD. Selain itu bisnis ini tak membutuhkan modal uang yang banyak. Paling hanya untuk menata salah satu  ruangan di rumah sebagai tempat belajar mengajar. Selebihnya hanya modal ilmu, mental, kesabaran, dan kecintaan pada anak-anak. Semoga rencanaku ini bukan hanya jadi wacana saja.





NB:
Maaf ya jeng Popi.. postingannya jadi lebih dari satu paragraf, soalnya sekalian numpang curhat.. hehe..  Anggap saja yang diikutsertakan GA yang paragraf terakhir saja. Semoga tetap berkenan ya.. :)


Sunday, July 29, 2012

Senyum Membawa Luka

Senyum itu sedekah, senyum itu ibadah. Senyum adalah sedekah yang paling murah, dan ibadah yang paling mudah, tapi memberi dampak yang besar. Senyum tak hanya menyenangkan orang lain, tapi juga menenangkan diri sendiri. Dan bagiku senyuman tak pernah gagal memperbaiki suasana hati dan memberi semangat. Seperti lirik lagu "Pasti Bisa"nya Citra Solastika berikut ini.. ? Akuu.. ingin lepaskan seluruh bebanku.. Dan kujalani hidupku dengan senyumaaan..?. 



Aku tak pernah kesulitan untuk tersenyum pada orang lain, apalagi pada diri sendiri (sambil ngaca..eh..). Tak terkecuali di kantor. Bertemu teman-teman dan memberikan senyum penuh kehangatan, terasa menyenangkan bukan? Apalagi kalau teman kita itu membalas senyuman kita dengan ketulusan yang sama, ditambah dengan sapaan, tentu makin menambah keakraban. 

Tapi ternyata tidak semua orang seperti itu. Aku beberapa kali menemui orang yang tidak mau membalas senyumku. Padahal kami tinggal di satu atap dan di satu lantai (tapi tidak satu rumah..halah). Intensitas bertemupun bisa dibilang lumayan sering. Walaupun kami memang belum pernah ngobrol. Tapi itu tentu bukan alasan untuk tidak membalas senyumku. Sampai sekarang aku masih tak tahu alasannya, kenapa ada orang yang tidak mau membalas senyuman orang lain. Kalau aku pribadi, baik orang dikenal maupun tak dikenal, tersenyum padaku, aku pasti akan membalas senyumnya. Tentu saja orangnya orang normal ya..bukan orang gila. Hehe..

Eh ngomong-ngomong tentang orang gila, aku sempat trauma membalas senyuman orang gila ini. Ceritanya begini.. Beberapa tahun yang lalu, saat aku masih muda belia, saat itu baru lulus SMA, aku pergi ke Jogja sebatang kara. Saat naik kobutri (bis kotanya Jogja), tiba-tiba ada seorang ibu dengan wajah full make up tersenyum dan menghampiriku. Refleks aku balas senyumnya, dan tak ada pikiran buruk sama sekali. Karena di mataku ibu itu tampak sangat normal. Namun tiba-tiba ibu itu bukannya ramah melihat senyumku, tapi malah marah-marah. Sumpah serapah tak jelas ditujukan padaku.  Salah satu kalimat yang berhasil aku tangkap adalah �Heh! Kowe ki sopo?! Wani-wanine numpak kobutriku!�. Kalau ditranslate dalam bahasa nasional artinya begini �Heh! Kamu ini siapa?! Berani-beraninnya naik kobutriku!�. Aku bingung sekali dan ngeri. Adakah yang salah dengan senyumku hingga membuat orang jadi kalap begini? Walaupun rasa hatiku tak karuan, aku tetap berusaha tenang dan berdoa dalam hati, semoga ibu ini tidak mencakar-cakar mukaku atau menamparku. Kalau sampai terjadi bisa-bisa muka mulusku ini jadi buruk rupa seumur hidup *lebay*.

Semua mata di dalam kobutri yang penuh itu memandangku. Ada pandangan iba, ada pandangan ngeri, tapi ada pula yang malah geli. Duuh malu sekaliii.. Untung bantuan segera datang. Sang kondektur buru-buru menghalau ibu itu dari hadapanku. Dia berkata �Dia gila mbak.. dah sering banget bikin rusuh�. Dan aku baru sadar, kalau aku baru saja dimaki-maki orang gila. Hadeeh..gara-gara membalas senyumannya. Oh..inikah yang disebut dengan senyum membawa luka.. -___-

Nah teman-teman.. Tetaplah tersenyum, tapi jangan tersenyum pada orang gila. Dan jangan senyum-senyum sendiri, karena bisa-bisa dikira gila. Keep smiling friends.. Makasih udah membaca postinganku yang kurang bermutu ini... ^^

Thursday, July 12, 2012

Tentang Uang

Ini tentang uang�

Aku ingat belasan tahun yang lalu ketika aku masih remaja muda belia. Dulu aku termasuk anak gadis yang malas, terutama untuk urusan kerjaan rumah, seperti masak, beres-beres rumah, nyapu, ngepel, dan sebangsanya. Kadang ibuku sampai kesal dengan kemalasanku itu, karena aku sangat jarang membantunya. Kalaupun aku mau membantu, pasti hasilnya tidak memuaskan.  Hingga sering kali ibuku berkata "Oalah nduk, bisamu tuh apa toh? Besok kalau kamu berumah tangga sendiri trus piye?". Tapi dengan entengnya aku jawab "Ibuk nggak usah kuatir. Besok kalau aku udah berumah tangga, aku nggak bakal ngerjain kerjaan kek gini bu. Aku bakal punya banyak duit. Bisa bayar pembantu. Nggak usah repot-repot ngerjain sendiri". Ibuku hanya mengamini kata-kataku itu.

Dan alhamdulillah, belasan tahun kemudian kata-kataku dulu itu terwujud. Setidaknya aku memang punya cukup uang untuk membayar pembantu. Tapi masalahnya tidak semudah itu. Nyatanya walaupun aku punya cukup uang, bukan berarti aku mudah mendapatkan pembantu. Semua tak sesederhana bayangan masa mudaku dulu. Mencari pembantu yang pas di hati, tak hanya cukup dengan uang. Hingga sekarang aku belum mendapatkan orang yang tepat. Dan mau tak mau aku harus mengerjakan sendiri semua pekerjaan yang dulu sering aku hindari. Ternyata uang tidak selalu bisa menyelesaikan segala urusan.

 ****

Masih tentang uang�

Kebanyakan perempuan pasti suka belanja. Aku juga begitu. Walaupun tak punya uang, aku tetap menyukai jalan-jalan di tempat perbelanjaan untuk sekedar survey harga atau melihat-lihat saja. Istilah kerennya 'window shopping'. Biasanya pasti ada saja barang yang menarik hati. Tapi berhubung aku belum punya uang, aku terpaksa menunda mempersunting barang idamanku itu. Bersabar hingga saatnya aku punya uang.

Beberapa hari kemudian, uangpun di tangan. Dan bergegas aku menuju tempat di mana barang incaranku dijual. Tak sabar ingin segera membawanya pulang. Tapi apa daya, saat aku sampai di sana, barang idamanku sudah tidak ada. Padahal aku sudah punya uang cukup untuk membelinya. Terbukti bahwa uang tidak selalu bisa mewujudkan segala keinginan. Apalah artinya uang, kalau aku tak bisa mendapatkan barang yang aku inginkan.

****

Uang memang penting, tapi bukan segalanya. Kalau ada yang berpendapat sebaliknya, tolong pikir sekali lagi.

Thursday, May 10, 2012

A Messy Free Day

Yihaaa.. setelah berkutat dengan segala macam kesibukan, akhirnya aku punya waktu juga untuk sendiri. Berhubung aku berhasil menyelesaikan tugas kantor sebelum waktunya (pekerjaan yang seharusnya diselesaikan dalam 2 hari, berhasil aku selesaikan dalam waktu 1 hari), maka hari ini aku bisa bebas kabur dari kantor secara legal. Dan satu hari bebas ini kumanfaatkan sebaik-baiknya, karena kesempatan seperti ini sangat-sangat langka bagiku. 

Akhirnya kuputuskan untuk bersantai-santai saja, nongkrong di mall favoritku, sambil belajar. Deuuh.. tetep loh.. walaupun lagi santai, tapi tetap aja bawa buku. Sebenarnya bukan mau benar-benar belajar sih, tapi buat menenangkan hati saja, karena dua hari lagi aku harus ujian, walaupun bukunya belum tentu dibaca juga...hehe.. Okelah kalau begitu, selamat menyimak kegiatan �me time�ku yaaa..


Di perjalanan menuju mall...
Demi kenyamanan dan demi menyingkat waktu, aku sengaja menggunakan taksi menuju mall yang lokasinya di Bintaro itu. Sudah terbayang rencana indahku di sana nanti. Tapi ternyata kenyataan tak seindah bayanganku. Tak kusangka, di perjalanan terjadilah kekacauan. Dan kekacauan itu terjadi karena penyakit kronisku kumat lagi, yaitu penyakit suka nyasar. Penyebabnyapun masih sama seperti dulu, aku salah menyebutkan arah, tertukar antara arah kanan dan kiri. Alhasil aku malah terjebak kemacetan yang tak kunjung berakhir. Dan aku terpaksa turun dari taksi, jalan kaki untuk mencari tukang ojek. Apesnya lagi, ternyata pangkalan ojeknya masih jauh dari tempatku turun dari taksi. Duuuh.. panasnya.. jalan kaki di siang bolong yang terik ini. Padahal kalau nggak nyasar, seharusnya aku sudah ngadem di mall. It�s okay.. rencana �me time� ku tak boleh berantakan hanya karena sedikit kekacauan ini.


Di Gramedia...
Akhirnya dengan sedikit usaha lebih, aku berhasil sampai di mall. Mmm.. mau nongkrong di mana ya? Mending ke gramedia dulu, lihat-lihat buku. �Lihat-lihat aja ya, tak usah beli, karena saat ini aku belum punya waktu untuk membaca buku lain, selain buku kuliah� pikirku dalam hati. Lagi pula aku ke sini bukan untuk belanja kok. Tapi beberapa saat kemudian di gramedia... �Duuh..  tapi ada buku yang oke nih, sayang kalau tak dibeli, belum tentu besok-besok masih ada� kataku sambil nyomot buku berjudul Travelove. �Eh iya, kemarin Lita bilang pengen komik Miiko.. ya udah dibeli aja yang nomer 14� comot lagi. �Lah kalau Lita dibeliin, pasti Ariq ngiri juga� akhirnya kuambil satu buku lagi buat Ariq. �Eh, buku yang ini oke juga� comot lagi. Duuh.. dasar emak-emak, katanya cuma mau lihat-lihat, eh kok jadinya mborong gini. Uang ratusan ribu melayang deh, padahal lagi mau berhemat   -___- .


sebagian belanjaan
 Di warung makan...
Masih belum jam 12 siang, tapi aku sudah kelaparan. Sepertinya gara-gara jalan kaki plus kepanasan tadi. Daripada aku pingsan *lebay*, mending aku makan dulu, sambil nongkrong dan leyeh-leyeh seperti rencanaku semula. Sepertinya Warung Bebek Bali tempatnya bagus juga, nyaman, tenang, luas dan menunya cukup menggiurkan. Tapi lagi-lagi yang terjadi tidak sesuai prediksiku. Tempat yang tadinya tenang, tiba-tiba jadi hiruk pikuk karena ada rombongan emak-emak arisan yang jumlahnya puluhan. Haduuuh.. gimana bisa nongkrong dengan tenang, kalau berisik gini.. huhuuu.. Tapi aku coba menikmati. Sesekali aku mencuri dengar obrolan mereka, dan mengamat-amati penampilan mereka. Kadang aku jadi agak geli, maklumlah kalau emak-emak berkumpul, pastilah kehebohan yang terjadi.. hehe. Dan makin lama makin heboh, hingga aku tak tahan lagi dengan suasana yang berisik itu. Akhirnya setelah buru-buru menghabis menu bebek betutu yang porsinya kecil itu, aku pun bergegas meninggalkan keributan yang terjadi di sana. Gagal nongkrong deh.
Alih-alih mau nongkrong, aku malah berputar-putar di mall tak tentu arah. Hasilnya malah beli-beli macem-macem lagi. Duuuh.. Mending pulang sajalah sebelum lebih banyak uang kuhabiskan.


Di perjalanan menuju rumah...

Tak mau peristiwa nyasar terjadi lagi, aku memilih jasa tukang ojek yang sudah tahu arah ke rumahku, jadi aku bisa tenang di perjalanan. Namun,lagi-lagi ada saja peristiwa di luar rencana. Di perjalanan, ban belakang motor si tukang ojek tertusuk kawat yang tebal dan panjang. Dan kawat itu masih nyangkut di ban, dan membuat suara berisik yang sangat mengganggu. Akhirnya kami harus berkali-kali berhenti untuk mengecek kondisi motor, takut bocornya makin parah dan memaksaku turun di jalan. Tapi alhamdulillah, sampai juga aku di rumah, walaupun agak was-was di perjalanan.


Aaah.. �me time� yang tak terlalu sukses. Tapi tetap ku syukuri, setidaknya aku bisa bebas dari beban rutinitas sehari-hari, walaupun hanya sehari :).

Thursday, May 3, 2012

Di Balik Rinai Hujan

�Tik.. tik..tik..� perlahan hujan turun membasahi kaca jendela di samping kubikelku. Kulayangkan pandanganku keluar. Aku menyukai hujan. Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi, sungguh terasa menyejukkan. Tapi makin lama pandanganku makin kabur, tertutup oleh air hujan yang makin lama makin deras. Kabur dan semakin tak jelas. Seperti itulah yang kurasakan atas hidupku ini. Sesuatu yang tampak jelas dulu, kini lama-lama semakin samar. Segala hal yang kurencanakan, kuimpikan dan kudambakan, yang kulihat begitu indah dulu, dan yakin bisa kuwujudkan, kini tak lagi jelas, tertutup oleh begitu banyak masalah dan beban yang harus kutanggung. Masalah yang sering kali datang bertubi-tubi, seperti hujan yang turun di musim pancaroba ini.
Langit cerah seusai hujan

Sering kali aku lelah akan semuanya, dan merasa diperlakukan tak adil. Apalah artinya seorang Cova ini, hingga dia harus menanggung begitu banyak beban. Dia hanya wanita biasa, yang sering kali lemah dan lupa. Yah, aku bukan wonder woman, walaupun kadang ada yang menyebutku demikian. Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten, sekaligus menjadi wanita bekerja, itu sudah membuatku kewalahan. Belum lagi urusan kuliah, dan tetek bengek urusan di lingkungan kampungku. Semua kesibukan itu sangat menyita waktu dan energiku. Hingga beberapa kali aku lupa belum membayar tagihan asuransi pendidikan anakku. Lupa membayar honor office girl di kantorku, sampai 3 bulan. Untung si office girl ini, ga ngamuk-ngamuk. Lupa pula membukukan pengeluaran kas ibu-ibu kompleks, hingga akhirnya pada saat membuat laporan kas, aku harus nombokin kekurangannya. Lupa belum mengerjakan tugas-tugas kuliah, karena harus lembur di kantor. Sampai saat weekend pun aku harus lembur. Belum lagi urusan sekolah anak-anak, yang seringkali dadakan. Tak ketinggalan pula urusan dapur dan setrikaan. Ooohh.. aku sungguh lelah. Andai aku bisa melepaskan semuanya sejenak saja..

Pandanganku masih kearah luar jendela. Hujan yang makin deras, membuatku makin galau. Pemandangan di luar sana semakin buram karena kini mataku mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba, �Cova!� Mita memanggilku. Aku agak tersentak, buru-buru menahan air mataku, dan senyum palsupun terlukis di bibirku. Sungguh, aku tak ingin bicara dengan siapapun saat ini. Tapi seolah tak mengerti keadaanku, teman sekantorku itu menghampiri mejaku, dan duduk persis di depanku. Tanpa meminta ijin, tiba-tiba ratusan kata-kata keluar dari mulutnya. �Cova, aku pengen resign aja. Aku udah bosen di kantor ini. Orang-orangnya banyak yang ga bener, mau kerja malah tambah stress aja. Lagian kan sebenarnya aku kerja di sini bukan karena butuh uang. Kamu tau kan, suamiku bisa nyukupi semua kebutuhanku, bahkan sangat berlebih. Jadi gajiku dari sini ya buat aku seneng-seneng aja�. Aku hanya manggut-manggut tanpa memberi komentar, tapi dalam hati aku berkata �Sangat berbeda denganku. Aku bekerja disini karena aku memang perlu penghasilan, perlu uang, agar anak-anaku bisa hidup layak�.

Tanpa menunggu komentarku, Mita melanjutkan curhatannya lagi �Tapi kalau aku resign, aku bingung mo ngapain. Aku kan kerja cuma buat membunuh waktu aja, karena ga ada lagi yang bisa aku kerjain. Mau traveling, jalan-jalan, aku udah bosan. Udah semua negara aku jelajahi, apalagi daerah-daerah di Indonesia, semua udah aku datangi. Mau ngurusin anak-anak di rumah, anak-anakku justru yang ga mau diurusi. Mereka lebih senang mengurus diri sendiri. Mau kuliah lagi, buat apa lagi? Aku udah lulus S-2. Mau olahraga.. ah, aku ga mau jadi tambah kurus. Ah, Cova, aku mesti ngapain coba?�

Aku masih saja belum memberi komentar, aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sungguh berbeda keadaan si Mita dengan keadaanku. Aku terlalu banyak kesibukan, sedangkan dia bingung karena merasa tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Pada awalnya ada sedikit rasa iri di hatiku padanya, karena melihat hidupnya yang serba enak, nyaman, tentram, tanpa banyak urusan. Sedangkan aku harus terus berjuang demi meraih impian dan masa depan yang lebih baik. Namun setelah mendengar keluh kesahnya, aku justru bersyukur. Aku bersyukur karena aku masih punya impian, punya passion, punya tujuan yang ingin aku wujudkan. Jadi semua masalah, kesibukan, dan kerepotan, adalah demi meraih impian dan cita-citaku. Tak ada yang lebih nikmat dari sebuah keberhasilan yang kita raih dengan keringat. Dan semua kesibukan yang kujalani membuatku merasa berguna, untuk diri sendiri maupun orang lain. Coba kalau dalam hidup ini tak ada lagi yang ingin kita raih, sungguh hampa sekali hidup kita.

Monday, March 5, 2012

Dikejar Waktu

Menjadi ibu bekerja yang tidak mempunyai asisten rumah tangga, sungguh melelahkan bagiku. Urusan rumah dan pekerjaan di kantor harus bisa ku handle sendiri. Dan managemen waktu adalah hal yang paling penting dalam hal ini, agar semua urusan bisa kutangani dengan baik.



Selama tidak ada asisten, biasanya aku tiap hari bangun pukul 04.00 pagi. Dengan bangun jam segitu, aku mempunyai cukup waktu untuk mempersiapkan semua, termasuk memasak, menyiapkan sarapan, menyiapkan bekal anak-anak, mencuci piring, menyapu lantai, mandi, dandan, dan berbenah diri untuk berangkat ke kantor pada pukul 5.45 pagi. Alhamdulillah, walaupun cukup melelahkan tapi beberapa hari ini aku lumayan berhasil menerapkan managemen waktuku ini. Tapi tidak pagi ini.



*****

�Ma, bangun ma.. � dengan lembut suamiku membangunkanku pagi ini. Refleks aku membuka mata dan melirik jam di dinding. �Hah! Udah jam 5.20! Aduuuh.. aku kesiangan!� pikirku dengan panik. Buru-buru aku loncat dari tempat tidur, dan langsung berlari menuju dapur, bergegas menyiapkan segalanya. Padahal aku harus sudah siap ke kantor pada pukul 5.45, itu artinya aku hanya punya waktu 25 menit saja untuk mempersiapkan segalanya. Dan itu harus! Tak ada 1 urusanpun yang bisa di skip.. hadeeeh.. -__-


Dengan menahan rasa mulas di perutku, dan rasa nyut-nyutan di leherku akibat salah posisi tidur, aku buru-buru menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak-anakku. Akhirnya dalam waktu 15 menit aku berhasil membuat nasi goreng dan menghangatkan semur ayam yang kumasak tadi malam. Waktu hanya tinggal 10 menit lagi untukku mempersiapkan diri ke kantor. Dan tiba-tiba aku ingat, astaghfirullah.. aku belum sholat subuh! Ya Allah.. ampuni hambaMu ini yang mudah sekali melupakanMu. Gara-gara bangun kesiangan, kacaulah semuanya. 


Sholat subuh, mandi, dandan, sarapan dan menata bekal, cukupkah hanya dengan waktu 10 menit? Tentu saja tidak. Hopeless deh rasanya bisa tepat waktu. Dan benar saja, pukul 6.00 aku baru siap ke kantor, itupun minus sarapan dan dandan. Jam berangkat ke kantor memang hanya molor 15 menit, tapi ini Jakarta, beda 5 menit saja bisa berakibat fatal, karena kondisi jalan yang tidak bisa diprediksi. Yang pasti semakin siang jalanan akan semakin macet. 


Setelah kurang lebih 1 jam di perjalanan, dengan menahan rasa lemas dan pusing karena belum sarapan, akhirnya aku sampai di kantor. Alhamdulillah.. aku tidak terlambat. Tapi suamiku bisa dipastikan tak bisa lepas dari keterlambatan. Itu berarti suamiku harus mengganti jam keterlambatan selama 30 menit selepas jam pulang kantor nanti. Itu artinya dia akan terlambat menjemputku nanti sore, dan kami akan terlambat pulang kantor hari ini. Dan berarti akan berkurang pula waktuku buat anak-anakku hari ini. Maafkan mamamu ini ya nak.. :(.



*****

Ternyata managemen dan disiplin waktu itu sangat penting. Terlambat sebentar saja bisa mengakibatkan efek berantai seperti ini. Dan tentu saja aku sangat menyesal. Selama ini sebisa mungkin aku disiplin menjalani semua. Tapi aku ini wanita biasa juga, yang tak lepas dari rasa lelah dan lupa. Ohhh.. aku lelah.. aku butuh asisten.. help!

Wednesday, February 29, 2012

Menjelang Kepergiannya

Mataku terpaku ke layar monitor, di kanan kiriku berserakan berkas-berkas yang harus kuselesaikan. Maksud hati memang ingin membereskan semuanya secepat mungkin, tapi otakku tak bisa diajak kerja sama. Walaupun sudah berkali-kali membuka-buka berkas, tetap saja pikiranku tak bisa fokus. Ooh.. beginikah rasanya galau? Resah, takut, bimbang, dan gamang. Saat dia mengatakan akan mengakhiri semuanya, sebenarnya aku tak rela. Aku merasa seperti dibuang begitu saja. Tak pernahkah dia memikirkan bagaimana diriku ini tanpanya. Tak pernahkah dia berpikir bahwa aku sudah terlalu bergantung padanya. Bertahun-tahun kami saling mendukung dan melengkapi. Dan kini dia akan pergi, demi meraih kebahagiaannya sendiri. Lalu bagaimana denganku..?

 Aku masih saja dirundung pilu, terpuruk di pojok kubikelku, menyembunyikan perasaan sendu. Ingin rasanya menahannya pergi, tapi bagaimana lagi? Aku tak punya hak apa-apa atas dia. Aku bukan siapa-siapanya. Sungguh egois jika aku memaksanya tetap di sisiku. Ingin rasanya aku berteriak �Aku butuh kamu!�. Tapi itu tak mungkin kulakukan, karena dia bukan milikku.

Dua jam telah berlalu, dan belum satupun pekerjaan yang berhasil kuselesaikan. Aku masih saja memikirkan nasibku tanpa dia. Sebenarnya aku sudah sangat menyadari bahwa saat-saat seperti ini akan terjadi, saat-saat melepasnya pergi. Tapi saat ini benar-benar terjadi, aku tetap saja tak pernah siap. Tak siap menghadapi hari tanpanya. Aku masih saja resah.


Aku tahu satu-satunya cara yang harus kulakukan untuk menenangkan diri adalah dengan mencari penggantinya. Tapi tidak semudah itu. Bukankah hati tak bisa dipaksa? Dan aku sudah terlanjur merasa bahwa dialah yang paling tahu hatiku. Rasanya aku tak ingin mencari orang lain lagi. Aku takut sakit hati karena memilih orang yang salah. 


Tapi dia akan PERGI.. dan aku HARUS mencari pengganti..



*******

Note: DIA adalah seorang pembantu rumah tangga bernama Siti Rokhana, yang sudah mengabdi di rumahku selama 6 tahun. Dan kini dia harus mengakhiri kariernya, karena dirinya sedang hamil. Tentu saja hamil karena suaminya. Semoga kehamilannya selalu sehat, dan persalinannya lancar.

Thursday, December 29, 2011

Kisah di Penghujung Desember

Aku melihatnya sore itu, berdiri di tengah-tengah keramaian. Dari gerak geriknya sepertinya dia sedang tergesa-gesa.  Beberapa bulan kami tak bertemu, rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Kami tak bertemu dan tak berkomunikasi sama sekali. Padahal sebelum kejadian �itu�, kami bagaikan kembar siam yang tak terpisahkan. Saling mengisi dan saling berbagi. Tapi tanpa diduga harus muncul kejadian yang menggoreskan luka di antara kami. Dan sejak itu dia pun menjauh dariku.

Sore itu tiba-tiba mata kami saling bertemu. Sekilas kulihat ada kecanggungan dari bahasa tubuhnya saat dia melihatku. Seolah tanpa peduli semua itu, dengan reflex kulambaikan tanganku kearahnya,  dan mulutku tiba-tiba bersuara memanggilnya. Dia tertegun sesaat, kemudian bergegas menghampiriku. Dan dari jarak dekat tampak jelas ada sebuah kerinduan di matanya, sebuah kerinduan seperti yang kurasakan. 


Lega rasanya saat dia menjabat tanganku dan memelukku sesaat. Beberapa kata terlontar dari mulutnya. Semua berlangsung hanya sekejap saja. Ku tahu dia sedang tergesa-gesa, dan ku tahu dia berusaha menyembunyikan perasaannya. Walaupun tidak diungkapkan, tapi aku bisa merasakan bahwa dia bahagia saat melihatku. Dan aku pun begitu.


Pertemuan sesaat dengannya sore itu membuatku sadar, bahwa kami tak bisa saling membenci, walau kami pernah saling melukai.  Karena dalam cinta selalu ada kata maaf. Dan aku tahu masih ada cinta di antara kami. Cinta seorang sahabat. 



**********

Hari ini rencananya aku janjian bertemu dengannya.  Tapi, karena urusan pekerjaan yang tidak bisa kami tinggalkan, akhirnya pertemuan dengannya hari ini batal. Tak apa-apa, setidaknya kami sudah kembali saling bicara dan semua kebekuan yang selama ini menyelimuti kami, kini telah mencair. Kami merindukan saat-saat seperti dulu lagi. Saat bisa saling bercerita tentang hal-hal konyol dan tak penting. Saling mencela dan tertawa. Serta mengkhayalkan impian-impian kami.. sungguh indah. 

Aku baru merasakan betapa berharganya sebuah persahabatan, saat aku kehilangannya. Dan aku beruntung bisa mendapatkannya kembali. Aku percaya kejadian yang telah menimpa kami ini, membuat kami lebih dewasa. Bukankah selalu ada hikmah di balik setiap kejadian?



**********

Desember yang basah dan dingin, terasa hangat saat dilewatkan bersama sahabat. Langit yang biasanya mendung, kini tampak cerah, seolah ikut tersenyum. Di penghujung Desember, kututup kisahku di tahun 2011 ini dengan penuh suka cita.. Aku percaya semua derita akan berakhir bahagia..




Sampai jumpa di tahun 2012� Tahun yang penuh harapan dan semangat 

Salam untuk semua sahabatku � 

I will always love you.. 

^_^

Sunday, November 27, 2011

That�s What Friends Are For

When I was sad and angry..
You said �Don�t be emotional.. so you can think clearly and wisely�

When I felt so down and depressed.. I said �How poor I am..�
You said �Don�t even think and say like that.. because words have a powerful effect to our life..
Just think and say the positive one.. �How lucky I am�..
And luck will follow you�

When I needed someone to talk to.. but I could trust nobody..
You said �Just share it to me.. at least you can release the burden�

When I told you my secret.. I said �I wonder why I can tell you about this�
You said �That�s what friends are for..�

Thank you for being my friend
^__^



Monday, September 26, 2011

Ketika si Mbak Pergi

Malam tadi, pembantuku, si mbak, datang menghadap, setelah dia kembali dari liburan akhir pekannya. Semenjak dia menikah 2 tahun yang lalu, aku memang selalu mengijinkannya berlibur di akhir pekan, agar dia bisa berkumpul dengan suaminya. Biasanya sehabis liburan dia selalu kembali dengan membawa cerita dan curhatan seputar rumah tangganya. Tapi kali ini tidak seperti biasanya. �Bu, saya mau ngomong..� dengan hati-hati dia membuka percakapan. Nada bicara dan raut mukanya membuat perasaanku tidak enak. �Kemarin saya periksa ke bidan� lanjutnya. � Kata bidan saya positif hamil.. keknya ibu mesti cari pengganti saya�. Aku tak bisa menjawab apa-apa, hanya �Ooh..� yang keluar dari mulutku, speechless.

Seharusnya aku ikut bersuka cita atas berita gembira yang dia sampaikan itu. Sudah lama dia mendambakan ingin punya anak, dan sekarang keinginannya terwujud. Seharusnya aku katakan �Alhamdulillah yah..� atau �Selamat yah�, tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutku. Tentu saja aku ikut senang atas kehamilannya, tapi rasa itu tertutup oleh kegalauan yang tiba-tiba menyelimutiku. 

6 tahun sudah kami menjalani hidup bersama. Dia sudah seperti saudaraku sendiri, dia pun menganggap anak-anakku sebagai anaknya sendiri. Sifatnya yang penyayang dan penuh pengertian membuatku percaya dia bisa menjaga anak-anakku dengan baik selama aku tidak di rumah. Walaupun kalau dilihat dari pekerjaan lainnya dia tidak terlalu bagus. Masakannya tidak selalu pas dengan seleraku, hasil setrikanya tidak selalu halus, hasil cuciannya tidak selalu bersih, dan dia sering lupa menyapu kolong tempat tidur. Tapi tak apalah, manusia tak ada yang sempurna, aku terima saja, dan aku tidak pernah cerewet mengomentari pekerjaannya. Mungkin karena itulah dia jadi betah bekerja di tempatku. 

Dan sekarang saatnya kebersamaan kami harus berakhir. Aku tahu tak ada yang abadi, aku sadar saat seperti ini akan terjadi. Tapi masalahnya sekarang aku belum mendapatkan penggantinya :(. Galau, bingung dan ragu, akankah kutemukan pengganti yang sebaik dia, atau lebih baik dari dia. Kadang aku berpikir, andai aku tidak harus bekerja di luar rumah, pasti kegalauan seperti ini tak kan terjadi. Ah sudahlah.. tak ada gunanya berandai-andai, toh masalahnya sudah ada di depan mata.  Mau resign sekarang pun tidak semudah itu, justru malah akan menambah masalah saja. Mau cuti, sudah tak punya jatah cuti :(

Ya Allah berikan petunjukmu, aku harus selalu sabar dan terus ikhtiar untuk mendapatkan yang terbaik. Kurelakan si mbak pergi dengan gembira, semoga kebahagiaan selalu bersamanya. Dan semoga si mbak juga selalu mendoakanku, agar aku dapat menemukan yang terbaik, yang bisa ku percaya untuk menjaga investasi terbesarku, anak-anakku. 


NB: Bagi yang ingin membantu mencarikan pengganti si mbak, berikut persyaratannya:
  1. Wanita, usia 20 � 30 tahun
  2.  Sehat lahir dan batin
  3. Rajin, jujur, sopan, setia, dan penurut
  4. Menyayangi anak-anak
  5. Bisa memasak
  6. Tidak suka keluar malam
  7.  Tidak suka nonton sinetron
  8.  Tidak genit
  9. Tidak berwajah cantik
  10. Tidak berbodi seksi
Terima kasih  ^_^