Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Monday, March 25, 2013

Berkawan dengan Monyet


Aku punya teman yang berasal dari Bali, sebut saja namanya Made. Namun teman-teman dekatnya tak ada yang memanggilkan dengan nama itu. Dia justru sering dipanggil dengan panggilan "Monyet!". Ya ampun, keterlaluan ya ngasih panggilan begitu. Padahal dia tak ada mirip-miripnya dengan monyet. Herannya si made ini tak pernah keberatan dengan sebutan itu. Aku penasaran dan bertanya padanya "Kenapa sih teman-teman dekatmu manggil kamu �monyet�?". Akhirnya dia menjelaskan, "Di Bali kan banyak monyetnya, nah meraka anggap aku ini salah satunya.. Hahaha".

Saat itu aku belum mengerti kalau Bali identik dengan tempatnya monyet, aku kan belum pernah ke sana. Nah, belakangan setelah beberapa kali ke Bali, barulah aku paham, ternyata di Bali itu banyak sekali monyet. Sepertinya ada banyak kerajaan monyet di sana. Sebut saja Desa Sangeh, sejak kecil aku sudah sering mendengarnya, karena setiap study tour sekolah selalu jadi salah satu tempat tujuannya. Ada lagi monkey forest di Ubud, yang sempat menjadi tempat syuting video klipnya Judika. Aku pernah melewati monkey forest ini, dan menyapa monyet-monyet jinak dan lucu di sana. Dan yang tak kalah terkenal adalah Uluwatu, dengan monyet-monyet yang bertubuh subur dan kekar. Perangainyapun lebih garang, tidak selucu monyet-monyet di Ubud. Bahkan aku pernah jadi korban kegarangan  monyet-monyet di Uluwatu itu.  Ceritanya ada di sini.

Sejak peristiwa memalukan di Uluwatu itu, aku jadi agak trauma dengan makhluk yang bernama monyet. Namun demi menyenangkan anak-anakku, yang menyukai hewan-hewan di alam lepas,  aku memberanikan diri mengunjungi kerajaan monyet lagi. Kali ini ada di Tabanan, tidak jauh dari Tanah Lot. Kalau kita berangkat dari Bedugul menuju Tanah Lot, pasti melewati tempat ini. Alas Kedaton namanya.


 Memang tak setenar tempat-tempat yang lain, namun pengalaman yang ditawarkan tak kalah unik. Kalau ada yang komentar "Ngapain jauh-jauh ke Bali cuma mau lihat monyet aja?", itu salah. Karena di Alas kedaton, kita tak hanya melihat monyet, tapi ada pula pura di sana. Namanya Pura Dalem Kahyangan Kedaton, yang memiliki empat buah pintu masuk. Pura ini berada di tengah-tengah hutan yang dihuni ratusan monyet.
bagian dalam pura


Cuma itu saja? Hmm..masih ada lagi. Di sini kita bisa menyaksikan kalong raksasa yang bergelantungan di ranting-ranting pohon. Uniknya, kalong-kalong jinak itu bisa kita ajak berfoto loh. Berpose dengan atribut bali, sambil 'menggendong' kalong berukuran jumbo, pasti memberi sensasi tersendiri. Tentu saja dengan pengawasan sang pawangnya, dan jangan lupa bayar ya.. Mau yang lebih menantang? Bisa coba foto bareng sama ular. Hiiii.. Kalau aku sih ogaaah..



Daripada dekat-dekat dengan ular, mendingan bercengkrama saja dengan monyet-monyetnya. Awalnya aku sempat was-was dan deg-degan. Tapi melihat perangai monyet-monyet yang begitu ramah, ketakutanku mulai mencair. Bahkan anak-anakku sangat rileks bermain dan memberikan kacang pada monyet-monyet itu. Mereka juga tak keberatan saat tangan dan kakinya ditarik-tarik para monyet lucu itu. 


Tertarik kesini? Kalau aku sih sebenarnya tidak terlalu suka monyet. Tapi anak-anakku sangat menyukai binatang. Jadi, aku sengaja mengajak mereka ke sini, agar mereka bisa mengenal monyet lebih dekat, di habitatnya langsung.

Nah bagi yang ingin mengelilingi alas kedaton ini, kalian bisa menggunakan jasa pemandu yang banyak menawarkan diri di depan pintu masuk. Walaupun hutan ini tidak luas, namun perlu juga pemandu untuk berjaga-jaga, siapa tahu monyetnya sedang sensitif dan galak. Jadi kalau ada apa-apa, pemandu ini bisa mengatasi. Dan cukup beri imbalan suka rela saja untuk jasa mereka ini.

Happy traveling ^^

Sunday, March 10, 2013

Museum Taman Prasasti in Memoriam

"Waah.. Bagus banget fotonya.." Aku takjub saat melihat sebuah foto berukuran 16R, yang menampilkan seorang wanita cantik bergaya misterius sedang berjalan di semacam pemakaman, dengan background pohon besar yang daunnya berguguran. Mengingatkanku pada setting film Hollywood bernuansa horor. Semula aku berpikir ini pasti di luar negeri. Tapi di mana ya?
"Itu di Taman Prasasti" sahut Mas Gathoe, sang pemilik foto.
"Taman Prasasti? di Indonesia?�
"Iyalah di Indonesia, di Jakarta, Tanah Abang" jawab Mas Gathoe dengan ekspresi santai, sambil merapikan karya masterpiecenya dengan hati-hati.

Sejak saat itu, aku jadi penasaran dengan yang namanya Taman Prasasti. Apalagi tempatnya tak jauh, hanya di Tanah Abang saja, masa� sih sampai nggak tahu ada tempat sekeren itu. Dan dari beberapa info yang aku dapat, ternyata Taman Prasasti memang tempat favorit para fotografer. Sering juga dijadikan tempat untuk foto prewedding. Mmm.. Pasti tempat benar-benar istimewa. Setelah memendam rasa penasaran bertahun-tahun lamanya, akhirnya aku memenuhi hasratku ke sana bersama suami tercinta. Apalagi kalau bukan untuk berfoto ria. Nggak mau kalah dong sama model dan fotografer ternama :D.

Museum Taman Prasasti
Sebenarnya Taman Prasati itu apa sih? Nama lengkapnya adalah Museum Taman Prasasti. Jadi jelas bahwa tempat ini adalah sebuah museum. Tapi jangan salah. Karena tempat ini bukan sebuah museum biasa. Museum terbuka ini memiliki koleksi prasasti, nisan dan makam, yang terbuat dari batu alam, marmer dan perunggu. Zaman dahulu kala, sebelum dibuka menjadi museum, Taman Prasasti ini adalah sebuah pemakaman Belanda dengan nama Kebon Jahe Kober. Jadi merinding nih, sepertinya seram ya. Tapi makin penasaran seperti apa sih rasanya jalan-jalan ke pemakaman.

Hari sudah menjelang siang saat kami tiba di stasiun Gondang Dia. Dari sana, kami menggunakan jasa bajai untuk mencapai lokasi museum yang terletak di Jalan Tanah Abang 1, Jakarta Pusat. Setelah sempat berputar-putar, akhirnya sampai di sebuah bangunan yang tak terlalu mencolok, tak seperti museum lainnya yang biasanya megah. Hingga kami ragu, betul nggak sih ini tempatnya? Tempat ini sepi sekali. Suasananya lebih mirip pemakaman daripada museum. Lah ini kan emang pemakaman.

aneka nisan dan makam
Memasuki bagian dalam, kami disambut oleh pilar-pilar berukuran besar, semacam prasasti. Ada tulisan indah terukir disana, kebanyakan berbahasa Belanda. Mungkin itu sebuah puisi atau sebuah quote, atau mungkin sebuah peringatan. Aku tak tahu artinya. Di sekitarnya terdapat ratusan nisan dan makam tokoh-tokoh penting di zaman Belanda dulu, baik dari orang Belanda, Inggris maupun Indonesia. Bahkan makamnya Soe Hok Gie, aktivis pergerakan mahasiswa pada tahun 1960-an ada di sini.

aneka patung
Adapula patung-patung manusia dan malaikat bersayap, persis dengan patung-patung di negeri Eropa sana. Patung-patung itu tampak sangat hidup, dengan berbagai macam ekspresi. Kebanyakan sih berekspresi kesedihan dan kehilangan. Dari detilnya yang sangat halus, jelas sekali patung-patung itu dibuat oleh pematung dan pemahat ahli di zamannya. Masuk Taman Prasasti ini bagaikan memasuki sebuah galeri seni para seniman. Ternyata tempat ini tak hanya menarik untuk foto-foto saja, tapi juga menyimpan karya seni tingkat tinggi dan bukti-bukti sejarah negeri ini.


Setelah lelah berkeliling dan berfoto-foto, kami leyeh-leyeh sejenak di bangku taman di bawah  pohon besar nan rindang. �Pasti pohon besar ini yang ada di foto waktu itu� gumamku. Pohon besar dengan daun yang berguguran, di sebuah pemakaman, ternyata sangat nyaman.. haha.. Seram? Ah, biasa aja. Kecuali kalau datang ke sini sendirian, atau datang pas malam hari. Itu baru horror.. hiiii.

***


Itu foto-foto dan ceritaku saat kesana pada tahun 2011 lalu. Udah lama banget ya. Kabarnya sekarang Museum Taman Prasasti sudah tak seperti dulu lagi. Pohon-pohon besar nan rindang itu sudah banyak yang ditebang. Beberapa bagian sudah banyak dirombak. Sayang sekali ya. Suasananya pasti tak seteduh dulu lagi. Entah apa alasannya penebangan itu dilakukan, padahal pohon-pohon itu sangat penting untuk penghijauan, dan meredam panasnya Jakarta. Ada yang bilang suasana Taman Prasasti sekarang lebih bersih dan terang benderang. Tapi kalau aku, lebih suka suasana yang teduh dan remang-remang.

Namun bagaimanapun juga tempat ini tetap layak untuk dikunjungi, terutama bagi yang penasaran seperti apa Taman Prasasti sekarang. So, aku tunggu ceritamu kawan.

Happy travelling ^^
jangan bersedih

Friday, February 15, 2013

Bogor Rasa Bali

walaupun gerimis tetap narsis
Selamat pagi teman-teman.. Adakah yang belum pernah ke Bali? Hmm..lumayan banyak juga ya. Yah maklumlah, walaupun Bali itu most wantednya tempat wisata, namun untuk kesana perlu modal dan effort lebih, terutama bagi yang tempat tinggalnya jauh dari Bali.  Tapi jangan berkecil hati karena kali ini aku akan mengajak teman-teman untuk merasakan nuansa bali, tanpa harus pergi jauh-jauh, dan tentu saja minim budget. Nah, yang pengen mencicipi rasa Bali, atau yang sedang kangen sama Bali, yuk ikuti tripku kali ini. Trip ke Bogor.

Loh kok ke Bogor sih? Apa miripnya sama Bali? Jangan membayangkan Bogor itu hanya daerah puncak atau kebun raya saja. Karena di Bogor ada sebuah tempat wisata yang sangat mirip dengan di Bali, yaitu sebuah pura. Pura yang diberi judul Pura Parahyangan Agung Jagatkarta ini merupakan pura terbesar di Jawa Barat dan bahkan yang terbesar di luar pulau Bali. Bahkan pura ini disebut-sebut sebagai pura terbesar kedua setelah Pura Besakih. Dan menurut keterangan beberapa orang temanku yang pernah kesana, pura ini tak hanya megah, namun pemandangannya juga sangat indah.

Demi menjawab rasa penasaranku maka aku melakukan one day trip ke Bogor bersama keluarga dan teman-temanku. Untuk mengunjungi pura ini dari Jakarta, transportasinya cukup mudah dan murah. Dan tentunya tidak perlu bermacet-macet ria seperti di daerah puncak, karena kami menggunakan transportasi kereta commuter line. Dengan tiket seharga Rp 9000 per orang, dan waktu tempuh 30 menit saja, kami sudah sampai di pusat kota Bogor. Praktis sekali bukan? Dari pusat kota Bogor kami ber-12 melanjutkan perjalanan ke pura yang ada di kaki Gunung Salak tersebut dengan mencarter angkutan umum. Dan ongkos per orangnya Rp 6.000 saja.

Seperti daerah pegunungan lainnya, jalan menuju kesana menanjak dan berkelok-kelok. Namun pemandangannya memang menawan. Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di Pura Parahyangan Agung Jakatkarta. Di depan pura kami disambut oleh bli penjaga pura yang menggunakan baju sembahyang warna putih dan udeng putih. Dia menjelaskan tata tertib yang harus dipatuhi. Wah, serasa ada di bali nih, ketemu bli-bli yang pakai udeng. Tapi sayang, kenapa mereka nggak ramah ya? Apakah memang begitu atau itu hanya perasaanku saja? Aku merasa bli yang disini perangainya berbeda dengan bli-bli di Bali sana yang ramah dan santun. Ah sudahlah, hatiku memang tak bisa berpaling dari bli yang di Tanah Lot itu :P.


Gerimis mulai turun saat kami memasuki area pura. Wah, sayang sekali, kami terpaksa harus menunggu hujan reda untuk bernarsis ria. Untungnya hujan tak berlangsung lama, dan cuaca berubah menjadi cerah. Pemandangan di sini memang sangat indah. Sebuah pura yang megah berlatar belakang pegunungan, dilengkapi dengan pelataran yang tumbuhi rumput hijau yang menghampar bagaikan sebuah permadani. Suasana yang sejuk dan asri membuat betah berlama-lama di sini. Dan dari ketinggian ini, pemandangan kota Bogor tampak menghampar indah, berpadu dengan langit biru dan awan yang cerah. Wow.. Keren..

Pemandangan Kota Bogor
Tempat ini memang cocok untuk refreshing. Tak heran banyak yang datang berkunjung, bukan dari kalangan umat Hindu saja. Bahkan beberapa turis manca negarapun tampak menikmati keindahan pura ini. Namun layaknya sebuah tempat ibadah, tentu kita tetap harus menghormati peraturan di pura ini. Salah satunya, bagi wanita yang sedang haid, dilarang memasuki area pura. Dan salah satu temanku ternyata saat itu sedang haid. Yaah, sayang, sudah jauh-jauh ke sini tapi hanya bisa pasrah menunggu kami di bawah.

pengunjung pura

Hanya sekitar 1 jam-an kami berada di sana. Rencana selanjutnya adalah ke Curug Cinangka. Tapi sayang, dalam perjalanan kami salah arah. Bukannya mendekati curug, tapi malah menjauhi curug. Yaah batal deh. Ya sudahlah, mungkin belum berjodoh. Semoga lain waktu bisa kesana lagi.\

jalan pulang


Sunday, February 3, 2013

Damn! I love Indonesia

Dia berdiri di sana pagi itu, seorang diri. Rambut panjangnya yang pirang kecoklatan, dan kulit putih kemerahannya sangat jelas menandakan dia bukan pribumi. Tanktop orange dengan kardigan warna hitam, dipadu celana kargo dan sepatu kets, kostum yang dipakainya hari itu. Dalam hati aku berpikir, mungkinkah si bule ini salah satu anggota rombongan trip kami? Tapi aku jadi ragu saat melihat tas yang dikenakannya. Bukan backpack yang biasa dipakai para traveler, tapi tas kerja kantoran, mirip punya ibuku.

Menjelang keberangkatan tanda tanyaku terjawab. Ya, dia ikut rombongan trip kami. "Halo selamat pagi. I'm Tara" begitu dia memperkenalkan diri. Unik juga pengalamanku traveling bareng bule begini. Tak disangka, ternyata bule asal New York ini tak kalah ndeso dan norak dari kita loh. Saking noraknya aku sampai merasa seperti jalan-jalan bareng anak umur 3 tahun. Bayangkan saja, dia begitu heboh melihat perkebunan teh. "Wow cool! Kereeeen!" kata dia dengan mata yang berbinar-binar. Setiap inchi jalan difotonya. Berkali-kali dia mesti pindah tempat duduk demi mendapatkan jepretan yang oke. Bahkan dia 'memaksa' turun di perkebunan teh demi bisa foto-foto. Kami yang sudah sangat terbiasa dengan kebun teh, terpaksa harus mengikuti dia. Ikut foto-foto juga, dan ikutan norak pastinya. Ternyata dia memang terobsesi dengan teh. Dan keinginannya adalah pengen minum teh tawar! Ya ampun, cuma gara-gara teh aja loh, seheboh itu.

Siapa yang tak kenal gemblong dan tahu sumedang? Yang biasa kena macet di daerah puncak pasti tahu. Siapa sangka makanan sederhana seperti ini ternyata bikin lidah teman manca negaraku ini ngiler setengah mati. "Hmm, so good, I like it! What is it?" kata dia. Kata-kata yang sama juga keluar dari bibirnya saat menyantap nasi padang bungkus. Satu porsi nasi padang yang isinya banyak sekali itu langsung tandas tak bersisa.

Beberapa waktu lalu, dia juga sempat mengunggah sebuah video di facebooknya. Video itu menampilkan perjalanannya dengan angkot di daerah Bogor. Tampak di video itu seorang pengamen memainkan sebuah lagu dengan ukelelenya. Pengamen, pemandangan yang biasa kita temui, sesuatu yang tak pernah kita anggap sebagai sesuatu, bahkan terkadang membuat kita merasa terganggu. Tapi justru membuat si teman buleku ini sangat terkesan. Video itupun menuai komen kekaguman dari keluarga dan teman-teman senegaranya.

Tara, gadis bule calon dokter ini, membuatku semakin sadar bahwa Indonesia itu memang benar-benar menarik. Alamnya, budayanya, kulinernya, semua sangat menggoda. Banyak warga negara lain mengagumi keindahan dan keunikan negeri kita ini, bahkan untuk hal-hal yang kita anggap sangat biasa. Jadi temans, tak perlu iri dan berkecil hati karena kita belum pernah ke luar negeri. Lihatlah sekeliling kita, lihatlah Indonesia. Keindahannya tiada tara. *Pesan untuk diri sendiri*

Saturday, February 2, 2013

Belitung, Apa Kabarmu?

Kalau ada yang mengira aku akan menulis tentang jalan-jalanku ke Belitung, maaf aku mengecewakan kalian. Ini bukan cerita senang-senang, tapi ini cerita tentang kegagalan. Kegagalanku menjangkau Belitung. Kegagalanku menapakkan kaki di bumi Laskar Pelangi itu. Sejak bertahun-tahun yang lalu keinginanku ingin jalan-jalan kesana sudah membara di hati. Tapi bagaikan sebuah cinta yang tak direstui, berkali-kali aku harus mengalami kegagalan. Mungkin memang aku dan belitung tak berjodoh. Hiks

gambar pinjam dari sini
Kegagalan yang pertama terjadi beberapa tahun yang lalu. Sesaat sebelum aku memesan tiket online. Tiba-tiba temanku yang tinggal di Bali "memaksa"ku berkunjung ke pulau dewata itu. Dengan segala rayuan tingkat dewa, tentu saja membuatku takluk juga. Bagaimana tidak, aku dijanjikan keliling bali, segala akomodasi dan transportasi for free. Tentu saja ini tak bisa kudapatkan jika aku ke belitung, dimana segalanya harus kutanggung secara mandiri. Menimbang semua hal tersebut, maka aku alihkan liburan ke belitung menjadi ke bali. Dan aku sama sekali tak menyesal.

Kegagalan kedua terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Aku sudah menyiapkan dana untuk keliling Belitung. Tapi dana tersebut malah terpakai untuk keperluan mudik lebaran. Yah, mau bagaimana lagi, masa' mau jalan-jalan harus ngutang. Terpaksa harus aku batalkan.

Dan kegagalan yang ketiga adalah kegagalan yang terparah sepanjang masa. Semoga teman-teman tak ada yang mengalaminya. Sekitar 3 bulan yang lalu aku sudah membeli tiket pesawat Batavia Air tujuan Tanjung Pandan, untuk penerbangan bulan Mei 2013 nanti. Biasalah, aku memanfaatkan momen promo, jadi belinya jauh-jauh hari. Tapi siapa sangka 3 hari yang lalu Batavia Air dinyatakan pailit, dan tidak beroperasi lagi. Aku langsung shock mendengar berita itu. Namun, aku tetap berusaha menenangkan diri dan berbaik sangka. Ya sudahlah kalau batal terbang, yang penting tiketnya bisa direfund.

Tapi makin hari aku malah makin galau, karena sampai detik ini masih belum ada kejelasan apakah tiketnya bisa direfund. Didatangi ke kantornya, ternyata sudah tutup. Aku telpon ke kantornya yang di bandara sukarno hatta, tak ada yang mengangkat. Sampai menghubungi kuratornya, tetap tidak ada penjelasan. Katanya dialihlan ke maskapai lain, tapi kenyataannya harga tiketnya menjadi jauh lebih mahal, sampai lebih dari 2 kali lipat harga tiket dari Batavia Air. Kenapa jadi konsumen yang dirugikan begini? Sungguh tak ada perlindungan bagi kami. Harga tiket Rp 2,5 juta bukan nilai yang sedikit bagiku. Rasanya sungguh menyesakkan dada, jika uang sebanyak itu harus hilang sia-sia.

Gagal sudah rencana ke Belitung, dan uang tiket terancam hangus. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa selain menunggu dan berdoa, semoga pihak terkait mau bertanggung jawab.

Belitung, apa kabarmu? Kabarku tidak baik-baik saja.


*Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan #7HariMenulis dari @birokreasi*


Thursday, January 31, 2013

Trip Gunung Padang (3): Berburu Curug Cikondang

 Cerita sebelumnya ada di sini

"Kalau hujan gini keknya was-was juga deh klo harus ke curug. Soalnya jalannya licin. Apa nggak jadi aja?" Usul seorang teman tripku. Wah, bisa terancam batal nih rencana ke curug. Kulihat raut kecewa di wajah teman-temanku yang lain. Akhirnya kuusulkan "Udah sampai sini sayang banget kalo nggak sekalian ke curug. Mendingan tetep jalan aja, pelan-pelan. Semoga hujannya cepet reda". Syukurlah banyak yang mendukung. Perjalananpun dilanjutkan.

Namun ternyata yang dikuatirkan temanku memang benar. Jalan menuju curug amatlah susah dilalui oleh mobil elf yang kami tumpangi. Jalanan sempit, licin, menanjak, berkelok-kelok, dan banyak yang berlubang. Aku yang duduk di bangku belakang tak kuasa menahan tubuh hingga terpental-pental. Duh, sakit semua badanku. Yah, mau bagaimana lagi, memang medannya keras begini. Tak hanya itu, beberapa kali kami sempat salah jalan. Maklumlah, banyak persimpangan yang mirip. Temanku yang pernah kesinipun, sempat terkecoh juga.

Tapi untunglah hujan sudah reda, jadi satu kekhawatiran telah teratasi. Dan medan yang sulit memang sepadan dengan keindahan yang disajikan. Di antara jalan yang berkelok-kelok terhampar perkebunan teh yang sangat memanjakan mata. Kamipun menyempatkan diri foto-foto di sana.

gadis manis pemetik teh :P
Semakin dekat dengan curug, kami menemui beberapa lokasi penambangan emas. Wah, tanah Cianjur ini ternyata sangat kaya. Seharusnya masyarakat di sana terjamin kemakmurannya. Tapi kenyataannya kehidupan di sana sangat sederhana. Bahkan toiletpun tak ada yang layak. Aku terpaksa menahan hasrat ingin pipis gara-gara itu.
jejak petualang menuju curug
Menjelang senja kami sampai di curug cikondang. Untuk mencapai lokasinya kami harus berjalan kaki lagi. Nggak papa, sesuatu yang indah memang harus diraih dengan susah payah. Dan benar. Pemandangan yang kami temui sungguh dahsyat. Seumur hidup aku belum pernah melihat air terjun sebesar itu. Deburan airnya membuat merinding. Aku sungguh merasa sangat kecil. Air terjun yang besar dan indah ini terasa mengintimidasiku. Sepertinya musim hujan membuat debit air di curug ini semakin besar.
The Great Curug Cikondang
Aku memilih menikmati curug ini dari jauh. Mau turun main air rasanya ngeri.. Hihi.. Dan sepertinya teman-temanku yang lain berpikiran sama denganku. Akhirnya kegiatan yang kami lakukan di sana tak lain adalah foto-foto! Yah beginilah kalau jalan-jalan bareng para traveler narsis.. Hahaa..
Happy traveling ^^
traveler narsis


*Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan #7HariMenulis dari @birokreasi*


Wednesday, January 30, 2013

Trip Gunung Padang (2): Jelajah Situs Megalitikum

 
Cerita sebelumnya ada di sini

Gemiris mulai turun lagi, kamipun bergegas melanjutkan perjalanan ke Situs Gunung Padang. Jalan yang kami lalui masih sama kondisinya, berkelok-kelok dan berlubang. Dan di kanan kiri jalan terbentang perkebunan teh yang luas. Sungguh indah dan menyejukkan mata. Tak berapa lama sampailah kami di Situs Megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. Sebuah situs megalitikum yang terbesar di Asia Tenggara. Dan gerimis belum juga reda. Namun kami memutuskan untuk tetap naik ke bukit tempat situs megalitikum itu berada. Ah cuma gerimis ini, paling sebentar lagi reda, pikir kami.

Dengan semangat 45, kami berbekal payung dan tentu saja kamera, menaiki setiap anak tangga, yang jumlahnya mencapai 700 anak tangga! Wow! Nggak kebayang pegelnya. Sebenarnya ada jalur lain yang jumlahnya hanya 400 anak tangga. Namun treknya lebih susah, licin, curam, dan terjal. Kami yang jiwa juangnya kurang militan, memilih trek memutar saja. Biar lambat asal selamat.. Hehehe..


tangga asli yang terjal dan berliku
tangga buatan
Sebenarnya apasih situs megalitikum itu? Ah, paling cuma lihat batu-batu doank. Eh tapi batu-batu yang ini bukan sembarang batu. Batu-batu andesit besar ini semuanya berbentuk limas persegi memanjang, yang membentuk sebuah bangunan. Katanya dulu batu-batu ini tersusun berdiri, tapi karena pengaruh cuaca dan waktu, beberapa batu mulai tertidur, alias roboh. Beberapa ahli ada yang berpendapat bahwa bukit tempat batu-batu itu berada sebenarnya adalah sebuah piramida. Mereka meyakini bahwa di bawah permukaan bukit itu terdapat sebuah ruangan. Benar atau tidak, sampai sekarang riset masih terus dilakukan. Wah, kalau benar itu sebuah piramida, perlu segera dilakukan penggalian. Aku membayangkan Indonesia punya piramida yang lebih megah dari piramida di Mesir. Di dalam piramidanya ada muminya juga nggak ya? Hehe..malah ngayal.

situs megalitikum

Ah, khayalanku buyar karena air hujan yang turun makin deras. Padahal kami belum juga selesai menempuh semua anak tangga. Di sela-sela nafas yang ngos-ngosan, kami harus mempercepat langkah mencari tempat untuk berteduh. Untunglah di atas bukit itu, ada semacam saung dan menara. Sambil menunggu hujan reda, kami menikmati pemandangan batu-batu andesit itu dari menara. Hujan membuat suasana situs semakin mistis, redup namun tetap indah. Pemandangan alam di sekitar bukit itu tak kalah elok. Tak sia-sia aku bersusah payah menaiki ratusan anak tangga dan diguyur hujan begini. Namun hujan tetap saja menghambat langkahku. Aku jadi tak leluasa mengeksplore situs ini. Dan yang paling penting, aku tak puas bernarsis ria.

Tapi apapun kondisinya, sebuah perjalanan harus dinikmati. Memang cuaca di gunung padang saat ini sangat moody, layaknya anak ABG yang emosinya tak tertebak. Sebentar-sebentar hujan, sebentar-sebentar reda, hujan lagi, terus reda lagi. Seperti itu berkali-kali. Dan sebagai traveler yang berjiwa dewasa, aku harus mampu menyesuaikan moodnya. Saat hujan reda aku manfaatkan untuk berkeliling bersama seorang pemandu. Dengan logat sundanya yang kental, dia menjelaskan berbagai mitos dan sejarah keberadaan situs ini. Ada satu yang kuingat jelas, saat pak pemandu menunjukkan sebuah batu yang disebut sebagai batu pandang. Saat duduk di batu pandang ini, kita bisa memandang kearah gunung gede pangrango. Karena itulah bukit ini dinamakan Gunung Padang, yang berasal dari kata Gunung Pandang. Selain itu masih banyak batu-batu unik lain, ada batu gong, batu gamelan, batu duduk, batu lumbung, bahkan ada batu dengan bekas tapak kaki harimau.
memandang gunung gede pangrango #bukanfotoPrewedding
Sayang hujan mulai turun lagi lebih deras, dan memaksa kami menghentikan kegiatan eksplorasi. Ya sudah, tak apalah, mau bagaimana lagi. Rencananya setelah ini kami melanjutkan perjalanan ke curug Cikondang, curug dengan debit air yang sangat besar. Tapi dengan kondisi hujan deras begini, rasanya cukup mengkhawatirkan mengingat kondisi medannya yang cukup sulit dilalui.

Bagaimana selanjutnya? Jadikah kami ke curug cikondang? Simak terus kisah ini di postingan berikutnya, hanya di Runaway Diary ^^

Bersambung ke Trip Gunung Padang 3..

 *Tulisan ini dibuat dalam rangka meramaikan #7HariMenulis dari @birokreasi*

Tuesday, January 29, 2013

Trip Gunung Padang (1): Jejak Sejarah Stasiun Lampegan

Musim hujan sering kali membuat orang malas untuk jalan-jalan alias traveling. Terlebih lagi ke tempat yang medannya cukup sulit. Tapi tidak diriku. Demi menjawab rasa penasaranku akan keberadaan sebuah situs prasejarah, maka aku melakukan perjalanan ini, walaupun kondisi cuaca tidak menentu.

Tidak banyak yang tahu bahwa di Indonesia terdapat situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Dan banyak yang tidak menduga bahwa situs tersebut letaknya tidak jauh dari Jakarta, yaitu di Gunung Padang, Cianjur. Bahkan beberapa orang yang tinggal di Cianjurpun tidak mengetahui keberadaan situs ini. Mungkin karena lokasinya yang tidak mudah dijangkau membuat situs ini tidak setenar tempat wisata lain.

***

Hari sabtu pagi aku bersama 11 orang traveler lainnya berangkat dari Jakarta. Rencananya one day trip kami kali ini akan mengunjungi 3 tempat sekaligus, yaitu Stasiun Lampegan, Situs Megalitikum Gunung Padang, dan Curug Cikondang. Cuaca hari itu memang tidak dapat diprediksi. Terkadang cerah, tapi tak lama berubah menjadi berawan. Bahkan pada saat melewati puncak Bogor, kami diguyur hujan yang sangat deras, dilengkapi dengan turunnya kabut yang sangat tebal, yang membuat jarak pandang kami menjadi pendek. Terus terang aku merasa ngeri, serasa ada di dunia lain. Dan sempat was-was, jika hujan sederas ini sepertinya acara mengeksplore situs jadi terbatasi. Untunglah itu tak berlangsung lama. Perlahan saat kami telah melampaui daerah puncak, hujan dan kabut mulai reda.

terowongan Lampegan
bergaya di depan stasiun
Tapi setelah beberapa jam perjalanan semakin dekat dengan tempat tujuan, kondisi jalan justru semakin parah. Jalan berkelok-kelok, menanjak, dan banyak yang berlubang. Musim hujan semakin memperparah keadaan, karena kondisi jalan menjadi licin. Sebelum sampai ke situs gunung padang, kami mampir dulu ke stasiun Lampegan yang letaknya kira-kira sekitar 8 km sebelum situs tersebut. Di stasiun itu kami makan siang bersama, dan tentu saja berfoto ria.

nikmatnya makan siang bersama
Dan inilah penampakan Stasiun Lampegan. Stasiun yang dibangun tahun 1884 ini, masih berdiri kokoh dan tampak aura mistis nan eksotis. Terutama jika kita masuk di terowongannya yang gelap, dengan pilar-pilar yang berbaris rapi. Konon bagi yang bisa 'melihat', di terowongan ini ada sebuah kereta yang lewat hilir mudik, dengan penumpang yang berpakaian ala Belanda jaman dulu. Iih jadi merinding. Ada pula yang bilang, terowongan Lampegan ini merupakan terowongan pertama di Indonesia yang dibangun pada masa penjajahan Belanda. Dan katanya pembangunannya memakan banyak korban jiwa. Pantesan saja suasananya terkesan angker.

bagian dalam terowongan
Saat kami kunjungi, stasiun tersebut sedang diperbaiki, karena sebelumnya sempat terjadi longsor. Beberapa truk yang mengangkut bahan bangunan lalu lalang. Di sekitar stasiun berserakan besi-besi panjang. Dan para tukang sibuk dengan pekerjaannya. Namun semua itu tak membuat kami jengah untuk berfoto-foto. Walaupun banyak mata yang memandang aneh pose-pose ajaib kami.  Hehehe..

Charlie's Angels wanna be
Bersambung ke Trip Gunung Padang 2..

Tuesday, January 8, 2013

Menghirup Segarnya Curug Cilember


Ingin menikmati segarnya air pegunungan dengan sungai dan air terjunnya? Atau ingin menikmati rimbunnya pepohonan di hutan dengan ratusan kupu-kupu? Inginkempingatau sekedar leyeh-leyeh menghilangkan kepenatan? Semua ada di sini! Tak perlu jauh-jauh dari Jakarta. Tempat wisata yang satu ini memang layak untuk dikunjungi. Selain dekat, juga murah meriah. Di samping itu tempat wisata ini sangat baik untuk edukasi anak-anak. Dengan mengenalkan alam sejak dini, tentu akan menumbuhkan kecintaan pada bumi. Di manakah itu? Di Wana Wisata Curug Cilember. Masih di kawasan Puncak Bogor. Jalan masuknya dekat dengan Taman Matahari, atau sekitar seberangnya Cimory Riverside. Yuk intip perjalanan kami!

Bagi waterfall lover, pasti tempat ini sudah tidak asing lagi. Keindahan air terjunnya memang yang menarik para pengunjung untuk datang kesini. Ada beberapa air terjun di Curug Cilember ini, dari Curug Satu hingga Curuh Tujuh. Curug satu adalah curug tertinggi, lokasinya paling atas. Kemudian diikuti curug dua, tiga, empat, lima dan enam. Dan curug paling bawah yang letakknya paling dekat dengan pintu masuk adalah Curug Tujuh. Curug Tujuh inilah yang paling bersahabat, karena lokasinya paling mudah dijangkau. Sedangkan curug-curug lainnya susah diakses. Selain lokasinya yang lebih jauh, kondisi medannyapun susah dilalui. Konon katanya jalannya licin, terjal, dan berbatu.

jalan menuju curug

main di sungai
Berhubung kami kesana bersama anak-anak, maka kami cukup puas hanya sampai dengan curug tujuh saja. Dari pintu masuk wana wisata sampai ke curug tujuh, jalannya lumayan rapi dan mudah dilalui. Kami harus berjalan kaki dari parkiran menuju curug itu. Tapi perjalanan terasa mengasyikkan, karena kami disuguhi pemandangan yang sangat asri. Pohon-pohon pinus yang rindang dan menjulang dengan sungai yang mengalir di sela-selanya, menemani sepanjang perjalanan kami. Ada beberapa tenda yang didirikan di sana. Tempat ini memang menyediakan tanah terbuka untuk kemping. Ada pula beberapa pondok kayu yang disewakan bagi pengunjung yang ingin menginap. Sepertinya asyik juga ya, menginap di sebuah pondok kayu dalam hutan. Romantis sekali.

pondok kayu dengan sungai di sebelahnya
 Sekitar setengah perjalanan, kami menemui sebuah tempat penangkaran kupu-kupu. Dan kami sempat mampir sebentar untuk melihat ratusan kupu-kupu yang ada disana. Aku membayangkan bakal melihat kupu-kupu yang berwarna-warni, tapi ternyata tidak ada. Kupu-kupu yang ada di sana kebanyakan berwarna gelap. Tapi tidak apa, setidaknya anakku jadi tahu bagaimana proses metamorfosis kupu-kupu. Eh iya, ternyata bukan hanya kupu-kupu yang ada di sana. Adapula buaya, maksudku beberapa anak buaya. Sepertinya dikembangbiakkan juga di sana.

tempat penangkaran kupu-kupu
kupu-kupu yang jinak
 Dan akhirnya kami sampai ke Curug Tujuh. Wow indah sekali! Tapi sayang keindahan itu sedikit terganggu karena banyaknya pengunjung yang memadati curug itu. Yah maklumlah, kami kesana saat long weekend, tentu banyak yang berlibur kesana. Tua, muda, anak-anak, bahkan lansia, ada di sana. Benar-benar tempat favorit. Awalnya terbayang akan berendam di sana, menikmati curahan air terjun yang dingin. Tapi kuurungkan, setelah melihat banyaknya orang di sana. Jadi kami hanya menikmati pemandangan yang ada, dan nyemplung di bagian yang paling dangkal. Untuk foto-fotopun agak kerepotan, karena di setiap spot dipenuhi manusia. Harus menunggu sampai orang-orangnya agak berkurang, barulah kami berfotoria.

curug tujuh saat ramai pengunjung
Jika ingin kesana aku sarankan jangan waktu long weekend. Atau kalau bisa pas weekday saja. Dijamin puas menikmati air terjun tanpa gangguan banyak orang. Mmm.. Kapan lagi ya?