Showing posts with label Self Healing. Show all posts
Showing posts with label Self Healing. Show all posts

Monday, December 3, 2012

Seberapa Kuat Tekadmu?


Sebuah toko buku.. Selalu itu yang aku cari di setiap tempat perbelanjaan. Dan malam yang indah itupun kami berdua melangkahkan kaki ke sebuah toko buku yang diberi nama Gramedia. Aku tahu suami tidak suka berlama-lama di sebuah toko buku, tapi dia selalu rela menemaniku ke sana. Kuapit lengannya saat memasuki toko itu. Mataku mulai menebarkan pandangan ke arah ratusan buku yang tertata rapi, dan berhenti pada tulisan "Best Seller". Kubisikkan kata-kata yang mungkin terdengar janggal di telinganya "Kelak bukuku akan ada ditumpukan itu.. Best seller". Tak ada respon dari suamiku. Mungkin dia menganggap aku ini hanya mengigau saja, alias bermimpi. Ah andai dia tahu, dulu jauh sebelum dia jadi pacarku, aku pernah berkata pada diriku sendiri saat aku melihatnya pertama kali "Dia akan jadi milikku". Dan beberapa tahun kemudian dia benar-benar jadi milikku. Aku percaya ini bukan suatu kebetulan saja.



Tapi menjadi seorang penulis tidak semudah mencari pasangan hidup. Bagaimana bisa jadi penulis bestseller kalau menulis saja jarang. Bagaimana mau jadi novelis kalau menulis yang pendek saja susah. Pikiran suamiku yang menganggapku hanya bermimpi memang benar. Karena kenyataannya aku belum berbuat apa-apa untuk mewujudkan impianku. Menulis blog yang hanya sekedar meluapkan isi otak saja, masih belum rutin. Lagi-lagi waktu yang kujadikan kambing hitam. Padahal kalaupun Allah memberiku banyak waktu luang, belum tentu aku bisa menggunakan waktu itu untuk berusaha dengan sungguh-sungguh.

Sesungguhnya modal utama yang kita butuhkan untuk mewujudkan impian itu bukan waktu, bukan uang atau kesempatan. Tapi yang kita butuhkan adalah niat dan tekad yang kuat. Sekuat apakah tekad kita untuk meluangkan waktu, sebesar apakah niat kita untuk mencari kesempatan. So friends.. Jgn cuma bermimpi.. Tapi wujudkan dengan berusaha bersungguh-sungguh. Mengutip kata-kata tokoh Christian Grey dalam novel Fifty Shades of Grey "I don't subcribe to luck or chance. The harder I work the more luck I seem to have". Jadi jangan berharap keberuntungan atau kesempatan itu datang kalau kita tidak berusaha.

Monday, November 26, 2012

Galau v.s Gaza


Pernahkah teman-teman merasa sedih, terluka, tersakiti, terdzolimi tanpa bisa membela diri? Atau putus asa karena apapun usaha untuk memperbaiki keadaan tak kunjung mendapatkan hasil. Bahkan kondisinya semakin buruk saja. Dan diri ini semakin terjebak dalam belenggu tekanan batin yang tak berkesudahan. Kemana aku harus mencari perlindungan bagi batinku ini? Luka yang dulu pernah tertoreh belum lagi sembuh, kini semakin parah dengan goresan luka baru yang lebih dalam.

Apapun kondisi batinku saat ini, aku mencoba untuk bersikap senormal mungkin. Tetap tersenyum manis saat teman menyapa, dan tetap tertawa mendengar canda tawa mereka, seolah aku ini bahagia. Bagiku itu terapi bagi jiwaku. Mensugesti diri bahwa aku ini baik-baik saja. Meyakinkan diri bahwa aku ini kuat jiwa dan raga. Kucoba melakukan aktivitasku seperti biasanya. Bekerja, berbagi ide, dan cerita dengan teman-teman sekantor. Walaupun sesekali aku tak bisa fokus dengan obrolan mereka itu.  Rasa perih karena luka yang tak kasat mata ini, sempat beberapa kali membuyarkan konsentrasiku.

"Pray for Gaza" kulirik judul pamflet yang ditempel di papan pengumuman. Siang ini ada pengajian di masjid kantorku. Kulangkahkan kakiku menuju rumah Allah tersebut. Sesuatu yang jarang aku lakukan, karena aku lebih sering sholat di ruanganku. Tak ada yang kuharapkan dari pengajian itu. Aku hanya mengikuti kemana kakiku melangkah. Dan aku bersyukur karena kakiku melangkah ke arah yang benar.

Topik pengajian kali ini membuatku benar-benar merasa malu. Rasanya tak pantas aku berkeluh kesah karena masalah sepele ini. Iya sepele, karena walaupun sakit hatiku parah, tapi aku masih bisa bekerja dengan tenang, bercanda dengan teman, dan menjalani kehidupan normalku yang lain. Jauh sekali dengan yang dialami penduduk Palestina saat ini. Mereka harus memperjuangkan hidup dan agama dibawah tekanan serangan bom tak berkesudahan. Walaupun rumah, masjid sekolah, semua hancur, tapi semangat mereka tak pernah hancur. Betapa banyak kehilangan yang mereka alami, harta benda, keluarga, anak-anak dan sanak saudara. Tapi mereka tak gentar sedikitpun. Tak bisa membayangkan kalau aku mengalami yang dialami warga Palestina saat ini.

Masih pantaskah aku berkeluh kesah? Dikaruniai hidup damai tentram, dan punya banyak hal yang tidak dipunyai semua orang. Punya saudara dan keluarga yang lengkap, serta anak-anak yang cerdas dan sehat. Tinggal di Indonesia yang indah dan kaya. Sungguh begitu melimpah nikmat yang Allah berikan padaku. Tapi aku putus asa hanya karena satu masalah saja.. Astaghfirullah..

Thursday, May 3, 2012

Di Balik Rinai Hujan

�Tik.. tik..tik..� perlahan hujan turun membasahi kaca jendela di samping kubikelku. Kulayangkan pandanganku keluar. Aku menyukai hujan. Rintik-rintik hujan yang membasahi bumi, sungguh terasa menyejukkan. Tapi makin lama pandanganku makin kabur, tertutup oleh air hujan yang makin lama makin deras. Kabur dan semakin tak jelas. Seperti itulah yang kurasakan atas hidupku ini. Sesuatu yang tampak jelas dulu, kini lama-lama semakin samar. Segala hal yang kurencanakan, kuimpikan dan kudambakan, yang kulihat begitu indah dulu, dan yakin bisa kuwujudkan, kini tak lagi jelas, tertutup oleh begitu banyak masalah dan beban yang harus kutanggung. Masalah yang sering kali datang bertubi-tubi, seperti hujan yang turun di musim pancaroba ini.
Langit cerah seusai hujan

Sering kali aku lelah akan semuanya, dan merasa diperlakukan tak adil. Apalah artinya seorang Cova ini, hingga dia harus menanggung begitu banyak beban. Dia hanya wanita biasa, yang sering kali lemah dan lupa. Yah, aku bukan wonder woman, walaupun kadang ada yang menyebutku demikian. Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten, sekaligus menjadi wanita bekerja, itu sudah membuatku kewalahan. Belum lagi urusan kuliah, dan tetek bengek urusan di lingkungan kampungku. Semua kesibukan itu sangat menyita waktu dan energiku. Hingga beberapa kali aku lupa belum membayar tagihan asuransi pendidikan anakku. Lupa membayar honor office girl di kantorku, sampai 3 bulan. Untung si office girl ini, ga ngamuk-ngamuk. Lupa pula membukukan pengeluaran kas ibu-ibu kompleks, hingga akhirnya pada saat membuat laporan kas, aku harus nombokin kekurangannya. Lupa belum mengerjakan tugas-tugas kuliah, karena harus lembur di kantor. Sampai saat weekend pun aku harus lembur. Belum lagi urusan sekolah anak-anak, yang seringkali dadakan. Tak ketinggalan pula urusan dapur dan setrikaan. Ooohh.. aku sungguh lelah. Andai aku bisa melepaskan semuanya sejenak saja..

Pandanganku masih kearah luar jendela. Hujan yang makin deras, membuatku makin galau. Pemandangan di luar sana semakin buram karena kini mataku mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba, �Cova!� Mita memanggilku. Aku agak tersentak, buru-buru menahan air mataku, dan senyum palsupun terlukis di bibirku. Sungguh, aku tak ingin bicara dengan siapapun saat ini. Tapi seolah tak mengerti keadaanku, teman sekantorku itu menghampiri mejaku, dan duduk persis di depanku. Tanpa meminta ijin, tiba-tiba ratusan kata-kata keluar dari mulutnya. �Cova, aku pengen resign aja. Aku udah bosen di kantor ini. Orang-orangnya banyak yang ga bener, mau kerja malah tambah stress aja. Lagian kan sebenarnya aku kerja di sini bukan karena butuh uang. Kamu tau kan, suamiku bisa nyukupi semua kebutuhanku, bahkan sangat berlebih. Jadi gajiku dari sini ya buat aku seneng-seneng aja�. Aku hanya manggut-manggut tanpa memberi komentar, tapi dalam hati aku berkata �Sangat berbeda denganku. Aku bekerja disini karena aku memang perlu penghasilan, perlu uang, agar anak-anaku bisa hidup layak�.

Tanpa menunggu komentarku, Mita melanjutkan curhatannya lagi �Tapi kalau aku resign, aku bingung mo ngapain. Aku kan kerja cuma buat membunuh waktu aja, karena ga ada lagi yang bisa aku kerjain. Mau traveling, jalan-jalan, aku udah bosan. Udah semua negara aku jelajahi, apalagi daerah-daerah di Indonesia, semua udah aku datangi. Mau ngurusin anak-anak di rumah, anak-anakku justru yang ga mau diurusi. Mereka lebih senang mengurus diri sendiri. Mau kuliah lagi, buat apa lagi? Aku udah lulus S-2. Mau olahraga.. ah, aku ga mau jadi tambah kurus. Ah, Cova, aku mesti ngapain coba?�

Aku masih saja belum memberi komentar, aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sungguh berbeda keadaan si Mita dengan keadaanku. Aku terlalu banyak kesibukan, sedangkan dia bingung karena merasa tak ada lagi yang bisa dikerjakan. Pada awalnya ada sedikit rasa iri di hatiku padanya, karena melihat hidupnya yang serba enak, nyaman, tentram, tanpa banyak urusan. Sedangkan aku harus terus berjuang demi meraih impian dan masa depan yang lebih baik. Namun setelah mendengar keluh kesahnya, aku justru bersyukur. Aku bersyukur karena aku masih punya impian, punya passion, punya tujuan yang ingin aku wujudkan. Jadi semua masalah, kesibukan, dan kerepotan, adalah demi meraih impian dan cita-citaku. Tak ada yang lebih nikmat dari sebuah keberhasilan yang kita raih dengan keringat. Dan semua kesibukan yang kujalani membuatku merasa berguna, untuk diri sendiri maupun orang lain. Coba kalau dalam hidup ini tak ada lagi yang ingin kita raih, sungguh hampa sekali hidup kita.

Wednesday, February 1, 2012

Kisah Sayur Asem yang Terbuang

Di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran ibukota, tinggallah sepasang pengantin baru yang berbahagia. Layaknya pengantin baru lainnya, hari-haripun terasa indah dijalani berdua. Seperti pagi itu, setelah menyelesaikan tugasnya mencuci, sang istri bergegas pergi ke tukang sayur. Hari itu dia akan menjalankan misinya yang sudah dia rancang beberapa hari sebelumnya. Dia akan memasak untuk suami tercintanya. Bagi kebanyakan wanita mungkin memasak bukanlah sesuatu yang istimewa. Tapi bagi sang istri, itu pekerjaan yang sama sekali tidak mudah, karena dari kecil hingga dewasa, dia tak pernah memegang pekerjaan dapur. Dan hari itu demi memberi kejutan penuh cinta kepada suaminya, dia rela bersusah payah.

�Hari ini aku mo masak sayur asem aja ah.. tambah tempe goreng ma sambel pasti seger� kata sang istri dalam hati sambil melirik suaminya yang sedang sibuk mengutak-utik motor barunya. Segera dia sibuk mencari resepnya di beberapa tumpukan majalah Sedap Sekejap. Cukup banyak majalah dan buku-buku resep masakan yang dia punya, tapi belum pernah dia praktekkan satupun sampai hari itu. Menyiapkan peralatan masakpun tak kalah hebohnya. Ternyata memasak benar-benar membuatnya kerepotan. Tapi dia tetap semangat dengan misinya. 


Setelah sukses membuat dapur berantakan, akhirnya sang istri berhasil juga menyelesaikan misinya. �Ah akhirnya jadi juga masakan pertamaku.. mmm.. enak juga. Saatnya dihidangkan nih.. Pasti suamiku seneng� pikir sang istri dengan riang. Dia lihat suaminya sedang asyik di depan tivi menyaksikan perlombaan Moto-gp. Dengan tenang dan penuh percaya diri dia siapkan hasil masakannya di depan suaminya. �Ayo mas makan dulu� ajaknya dengan lembut sambil meletakkan satu per satu hasil masakannya. 


�Apa itu?� tanya sang suami sambil melirik sekilas kearah sayur asem buatan sang istri. �Sayur asem mas� jawab sang istri. �Ouuu..� hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut suaminya, sambil matanya tetap tertuju kearah tivi, seolah dia tidak tertarik sama sekali dengan masakan istrinya. Melihat respon yang tidak menyenangkan dari suaminya, perlahan-lahan rasa percaya diri sang istri pudar. �Ga mo nyobain?� tanya sang istri. Dan suaminya cuma menggeleng. Jleb! Hatinya seperti tertusuk belati, sakit sekali. Tega sekali suaminya tidak menghargai jerih payahnya. Berhari-hari dia rencanakan semua ini, dan dari pagi buta dia sudah menyiapkan semuanya, tapi suaminya tak mau menyentuh masakannya sama sekali. Separah itukah hasil masakannya hingga suaminya tak sanggup untuk mencoba sesuap saja. Hancur berantakan hatinya, seberantakan dapurnya hari itu. Dia sangat kecewa.


Sambil menahan air mata yang menggantung di pelupuk mata, dia ambil sayur asem dari depan suaminya. Dengan penuh emosi dia buang sayur asem itu ke wastafel. Bukan itu saja, sayur asem yang masih ada di pancipun dia buang semua. Ya, hari itu sayur asem yang dibuat dengan penuh cinta harus terbuang dengan sia-sia. Melihat tindakan sang istri yang aneh, suaminya bertanya �Kenapa sayurnya dibuang?�. �Ga ada yang mau makan sayur ini� sahut sang istri dengan emosi. Dan sang suami tak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa bingung melihat kelakuan sang istri. Dia tak menyadari bahwa istrinya sangat kecewa dan sakit hati.


�Tega sekali dia, setidaknya dia kan bisa mencoba dulu masakanku. Tapi ini ga dicoba sama sekali. Dia ga menghargai jerih payahku. Aku kan susah payah demi dia. Gombal banget kata-kata cintanya, nyatanya dia tak bisa mengerti perasaanku.. � sang istri meratapi nasibnya sambil terisak. Tentu saja tidak di depan suaminya. Dia terlalu gengsi untuk memperlihatkan perasaan yang sebenarnya. 


*********

Setelah beberapa bulan berlalu, barulah terungkap bahwa sang suami ternyata alergi alias sangat tidak suka sayur asem. Hanya melihat penampakannya saja sudah bisa membuatnya hilang selera makan, apalagi mencoba, bisa-bisa malah jadi mual. Itulah alasannya kenapa dia tak mau mencoba sayur asem buatan istrinya.




Makanya bu.., mbak.., jeng.., dan semua para istri.. kalau ingin membuat kejutan untuk suami, lebih baik cari tahu dulu kegemarannya apa, dan yang tidak disukai apa, jadi tidak harus kecewa dengan penolakan seperti kasus di atas. Juga untuk para suami.., pak.., mas.., adek.., seharusnya kalian menghargai jerih payah istri dan mengerti perasaannya. Jangan terlalu egois. Apa sih susahnya berkorban sedikit saja, toh hasilnya buat para suami juga. Sang istri jadi makin sayang, dan pelayanan jadi makin memuaskan ;).


Cinta itu butuh komunikasi, keterbukaan, kemampuan untuk memahami dan mengerti.

Sunday, November 27, 2011

That�s What Friends Are For

When I was sad and angry..
You said �Don�t be emotional.. so you can think clearly and wisely�

When I felt so down and depressed.. I said �How poor I am..�
You said �Don�t even think and say like that.. because words have a powerful effect to our life..
Just think and say the positive one.. �How lucky I am�..
And luck will follow you�

When I needed someone to talk to.. but I could trust nobody..
You said �Just share it to me.. at least you can release the burden�

When I told you my secret.. I said �I wonder why I can tell you about this�
You said �That�s what friends are for..�

Thank you for being my friend
^__^



Monday, October 3, 2011

Kenapa Nge-blog?

�Kamu bikin blog?�
�Wah aku nggak tau kamu punya blog�
�Bikin blog? Kaya� kurang kerjaan aja�
�Hahaha.. narsis�
�Hari gini masih jaman ya ngeblog?�


Itulah komentar teman-temanku waktu aku mengabarkan blog baruku. Dari nadanya sepertinya mereka meragukan kemampuanku.. hihihi.. Aku maklum kok, aku tidak bertampang bisa menulis. Apalagi untuk urusan perinternetan dan design grafis.. wiih gaptek! Aku sendiri juga ragu dengan kemampuanku, apalagi orang lain. Lalu kenapa aku tiba-tiba tertarik membuat blog? Berikut ini alasannya:

1.    For my self healing
Semua bermula dari kegalauanku, rasanya jiwa dan pikiranku ini dipenuhi hal-hal yang membuat aura positifku meredup. Kecewa, sakit hati, sedih dan putus asa. Ingin rasanya melupakan semua itu. Dan dengan mengingat hal-hal yang menyenangkan adalah salah satu cara mengobatinya. Maka mulailah ku tulis hal-hal yang membuatku senang. Saat menuangkannya dalam tulisan, otomatis pikiranku focus di tulisan tersebut, dan otomatis pula hal-hal yang membuatku galau terlupakan. Dan saat aku membaca kembali tulisanku, aku menyadari.. �Hey, ternyata aku mengalami banyak masa-masa menyenangkan.. Jadi kenapa mesti galau saat Allah memberiku sedikit kesusahan..?�

2.    To arrange my mind
Aku ingin tulisanku, pemikiranku, pengalamanku, tertata dan tersimpan rapi, sehingga aku tidak perlu repot-repot mencari file-nya saat aku ingin membacanya. Nah jawabannya ada di blog. Aku menjadikan blogku ini semacam diary. Berhubung sekarang zamannya internet, maka diary juga lewat internet dong, masa� pakai buku agenda yang ada gemboknya.. hihihi..

3.    To build self confident
Awalnya aku hanya memberitahukan blog ku ini ke orang-orang terdekatku saja. Maklum masih tidak percaya diri, malu karena blogku masih acak-acakan. Tapi saat mereka mengapresiasi blogku ini, perlahan rasa percaya diriku mulai muncul. Wah ternyata aku bisa! Semua komentar mereka, baik yang memuji maupun mengkritik, makin meningkatkan percaya diriku dan semangatku untuk terus berkarya.. cie.. :D. Makasih temans..

4.    To share with others
Bahagia rasanya kalau ada teman yang menyukai blogku. Apalagi bisa membuat mereka terhibur, rasanya aku ikut terhibur pula. Maka aku berusaha untuk menuliskan hal-hal yang baik di blogku ini. Walaupun kadang ada versi curhat juga, tapi bukan untuk diratapi, cuma buat sharing saja. Aku tahu banyak teman-temanku yang mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. Dengan kutuliskan sedikit pengalaman burukku, aku berharap mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri :).

So buat teman yang masih ragu ingin memulai ngeblog karena tidak berbakat menulis atau gaptek seperti aku ini, ayolah mulai saja.. �learning by doing� itu lebih efektif teman.. Kamu bisa! Kalau aku memang lemot di bidang beginian, jadi maklum saja ya kalau blogku tampilannya begini-begini saja :).

Tuesday, September 20, 2011

Don't be Emotional

Beberapa hari yang lalu tiba-tiba aku menerima sms dari temanku �hoi! lo kemana aja sih? Ditelpon nggak diangkat, disms nggak dibales. Pas lo ada masalah, gue selalu ada buat lo, sekarang pas gue ada masalah besar kek gini, lo malah nggak peduli sama sekali. Lo nggak pernah nanyain kabar gue!�
Deg! Apa salahku? Setahuku aku sudah berusaha mendampingi dia, mendengar keluh kesahnya, memberikan saran jika dia minta, dan menjaga rahasianya. Apapun yang aku bisa akan kulakukan untuk membantunya menyelesaikan masalah. Tapi tiba-tiba dia bilang aku tidak pernah menanyakan kabarnya. Jadi usahaku selama ini tidak dia anggap? Apa semua yang aku lakukan buat dia tak berarti apa-apa? 
Ups.. hampir saja aku terbawa emosi. Aku berusaha mengendalikan diri. Tak ada gunanya menyangkal kata-katanya, malah makin memperkeruh suasana. Aku berusaha mengerti perasaannya. Aku ingat aku pernah merasakan perasaan seperti itu. Di saat aku ada masalah atau sakit hati, aku sering merasa sendiri. Ingin berbagi ke orang lain, tapi sepertinya mereka tak bisa mengerti.  Bahkan kadang aku merasa teman-temanku malah menghakimi dan menjauhi. Aku merasa diperlakukan tidak adil. Aku selalu berusaha membantu teman-temanku, tapi di saat aku butuh mereka, mereka justru menjauh. Ya, tentu saja itu hanya perasaanku saja. Maklum saat itu aku sedang galau, pasti hanya focus memikirkan diri sendiri saja, dan merasa diri ini yang paling menderita sedunia.
Kalau dipikir-pikir, rasanya tidak bijak jika aku menyalahkan mereka karena masalahku. Teman-temanku bukan diriku, mereka punya dunia sendiri, punya urusan sendiri, dan punya masalah sendiri. Mana mungkin mereka bisa memikirkanku setiap saat. Tak bijak pula jika aku menuduh mereka tak memperdulikanku. Tentu saja mereka peduli dan punya rasa simpati kepadaku. Tapi bukan berarti mereka selalu bisa membantuku. Seharusnya rasa peduli dan simpati itu sudah cukup memberiku semangat. 
Seiring dengan berjalannya waktu aku makin memahami itu. Sakit hatiku dan masalahku, tidak bisa hilang dengan mengharapkan bantuan orang lain. Karena kadang malah berakhir kecewa. Berharaplah hanya kepada Allah :D. Tumben ya, aku bisa berpikir bijak.. hehe. Dari pengalamanku, sharing kepada teman yang dipercaya memang bisa meringankan beban, tapi pemecahannya tetap ada di tangan kita. Besar kecilnya masalah tergantung dari cara pandang kita, parah tidaknya rasa sakit hati tergantung bagaimana kita mensikapi.  Jadi semua kembali pada diri sendiri. Aku selalu percaya, tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan. Bukankah dibalik setiap kesulitan pasti ada kemudahan? Dan setiap peristiwa pasti ada hikmahnya, walau aku sering terlambat menyadarinya. 
�Jangan emosional..� saat seseorang mengatakan ini padaku, aku berpikir seolah-olah dia menyepelekan perasaan dan masalahku. Tapi sebenarnya tidak, justru kata-kata ini adalah kunci pengendalian diri. Tentu saja kalau benar-benar dilakukan. Emosi yang berlebihan sering kali menutup akal kita, hingga kita tidak bisa berpikir jernih. Bahkan masalah yang sebenarnya sederhana menjadi semakin rumit karena emosi yang berlebihan. Dan yang lebih parah lagi sikap emosional ini tanpa kita sadari sering membuat orang-orang terdekat kita sakit hati.  Wah maaf ya, kalau kata-kataku jadi seperti menggurui. Semua ini untuk mengingatkan diri sendiri :D. So friends.. Don�t be emotional.. so you can think clearly and act wisely.. Dan satu lagi, fokuslah pada pemecahan masalah, jangan berlarut-larut �mencari sebab serta mencari alasan� (red: diambil dari lirik lagunya Exist), apalagi mencari kambing hitam� :D