Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts
Showing posts with label Yogyakarta. Show all posts

Tuesday, December 25, 2012

Jogja Kembali (Lagi) - Part 6


Saya menemukan guesthouse alias penginapan ini dari situs Yogyes. Saya sudah membaca ulasan tentang tempat ini di salah satu blog, intinya tempatnya cukup nyaman tetapi jauh dari kota. Sang pemilik blog yang menginap di penginapan ini dukunya menyewa motor dari pemilik penginapan dengan harga �bagus�. Saya tertarik untuk tinggal di tempat ini, bukan karena ada rental motornya.
Namanya House 24 karena berada di Jalan Jogokaryan No. 24. Bus kota dari dan menuju teminal langsung bisa didapat dari depan penginapan. Tetapi bus kota ini tidak lewat di malam hari setelah pukul 6, itu informasi yang saya peroleh dari masyarakat sekitar, sepertinya bukan hoax karena memang di malam hari tidak ada lagi kendaraan umum masuk kota. Naik becak dari sekitar Kraton 25,000 sampai penginapan. Capek deh muahalnya�.
Di balik urusan kamar, sisi plusnya saya dapat makan. Nasi goreng
di hari pertama dan mi goreng di hari kedua
Porsi kecil yang penting telurnya dapat 1 utuh

Seperti biasa gambar dan kenyataan memang jauh berbeda. Saya terpana dengan ukuran kamar yang mini. Wah wah�ga lagi deh menginap di sini lagi. Untuk pelayanan sih baik, karena komunikatif dan ada wi fi juga di penginapan ini.  Sayangnya di malam hari sepanjang jalan Jogokaryan sepi mamring dan tempat makan pun susah dicari. saya harus berjalan sampai ke ujung jalan, dekat pompa bensin untuk menemukan warung makan. Warung ayam kremes. Untungnya enak ayamnya dan harganya pun tidak menggila. Harga wajar. 

Sepi sunyinya jalan ini membuat saya tidak betah. Ukuran ramai dan nyamannya jalan buat saya adalah ketika banyak minimarket, atm, dilalui kendaraan umum dan juga banyak warung makan di sekitar penginapan. Buat saya itu yang utama dan yang membuat penginapan nyaman ditinggali atau tidak.
Untuk harga semalam dikenakan 110,000 rupiah. Check in mulai jam 1 siang dan check out jam 12 siang. Kamar mandi letaknya kurang dari selangkah dari kamar tidur. AC dan TV tersedia dan bekerja dengan cukup baik. Tetap saja kesimpulannya terlalu sempit dan jauh dari pusat keramaian. Semua kamar ver-AC di lantai 1 dan yang tidak ver-AC di lantai 2. Somehow saya pilih di lantai 2 karena tidak terdengar derap kaki dan lalu lalang orang di halaman yang tredengar sampai dalam kamar.
Tapi�jika Anda petualang sejati yang tidak masalah dengan jarak saya menyarankan tempat ini karena dekat dengan daerah penginapan para bule di daerah Prawirotaman. Jalan Jogokaryan juga dekat dengan Taman Sri Wedari tempat pertunjukan Ramayana setiap hari dipentaskan non-stop sejak tahun 70-an. Asyik kan�

Jogja Kembali (Lagi) - Part 4

Sudah 3 bulan setelah kunjungan terakhir saya ke Jogja baru ada waktu lagi untuk meniuliskan ceita tentang kunjungan saya ke kota ini. Cerita bagian ke empat ini adalah cerita tentang pejalanan saya ke Keraton Jogja alias Sultan Palace, istana tempat Sultan Jogja bertempat tinggal.

Saya menginap di daerah Jogokaryan, di penginapan House 24. Untuk menuju ke pusat kota dari tempat saya tinggal lumayan "jauh". Untuk tipe orang yang suka naik kendaraan umum dan jalan kaki sih buat saya tidak masalah. Tetapi karena pacar saya tambun maka ia malas berjalan kaki jauh, kasihan juga bulir keringatnya mengucur deras di bawah terik matahari Jogja kala itu. akhirnya kami menggunakan angkutan bus kota yang berjalan super ngebut persis bus mini ijo juusan Mojokerto-Surabaya. Atau bisa dikata ini bus kota ukuran lebih kecil dari bus kota jurusan Kupang - Bungurasih dengan kecepatan yang sama. Wusssss....

Bus bisa dijangkau dengan mudah persis di jalan raya depan penginapan. Penginapan saya namanya House 24 persis di sebelah Hotel Seno. Saya naik bus kota dengan tujuan Keraton Jogja. Dari Jalan Jogokaryan jaraknya ditempuh hanya kurang dari 10 menit. Saya turun di Alun-alun. Saya kurang tahu Alun-alun Utara atau Selatan tempat saya turun. Karena sudah pernah mngunjungi tempat ini sebelumnya maka saya menggunakan kemampuan navigasi ala kadarnya untuk menemukan Keraton.

Jangan salah, bangunan mirip Keraton memang sudah terlihat dari jauh ketika saya turun di Alun-Alun (bus tidak berhenti tepat di depan Keraton), tetapi itu bukan bangunan utama Keraton yang sebenarnya. Saya membaca buku Lonely Planet milik pacar yang mewanti-wanti para turis supaya berhati-hati karena banyak scammers alias penipu di sana. Mereka akan menawarkan jasa menunjukkan arah Keraton tetapi turis diarahkan pada bangunan Keraton yang tidak dibuka untuk umum dan pemandu itu akan bilang bahwa Keraton masih tutup. Mereka akan mengajak turis berkeliling-keliling termasuk ke Museum Kereta Keraton. Sampai-sampai buku panduan LonelyPlanet mengingatkan bangunan yang asli adalah bangunan dengan jam bulat besar di halamannya. Kraton buka dari jam setengah delapan pagi dan tutup jam 4 sore.

LonelyPlanet 100% benar. Dari alun-alun mendekati bangunan Kraton saya sudah ditawari "penipu" yang mengatakan bahwa loket di dekat mereka. "Sini mbak loket Kratonnya bla bla bla bla" Saya terus berjalan mengikuti rombongan anak sekolah (yang mustahil ditipu oleh scammers). Memasuki gang kecil saya bersyukur tidak salah jalan. Apalagi setelah melihat Museum Kereta kencana di sebelah kanan saya, atinya saya memang sudah dekat dengan Keraton.

Sampai di halaman banyak bus parkir dan saya melihat jam bulat besar di halaman Kraton..."berhasil" pikir saya. Eh..sudah sampai pun masih ada yang berkata,"Kraton belum buka Mbak, ayo liha-lihat batik dulu, Museum Kereta b;la bla bla..Kraton buka jam 9 bla bla bla bla.." Whoaaaa masih nekad saja pikir saya. Saya menyeruak kerumunan pengunjung yang mayoritas anak sekolah. saya langsung menuju petugas tiket wisatawan internasional. Petugasnya berpakaian abdi dalem dan menyapa kami dengan banyak bahasa mulai Inggris, Prancis, dan sebagainya. Kereen. Saya membayar 13,000 Rupiah per pengunjung jadi berdua 26,000 saja. Plus saya dapat 2 stiker Kraton Jogja.

Masuk ke dalam kompleks Kraton inilah yang saya temukan :

Di bagian depan, persis ketika kita masuk dari pintu utama terdapat ukiran kepala "buto" kalau tidak salah disebut "kolo"
Fungsinya menakuti makhluk-makhluk jahat yang ingin mengganggu ketentraman pemilik rumah.
Lihatlah mata merah melotot dan lidah si monster yang menjulur menyeramkan.

Jika di masyarakat modern rumah diisi dengan peralatan audio visual canggih maka di dalam Kraton pun lengkap terdapat seperangkat gamelan yang diberi nama Kyahi Gunturmadu.
Lihatlah lantai yang berpola, itu bukan karpet permadani loh, melainkan ubin yang berpola cantik persis seperti motif pada permadani  ya?
Ini adalah bagian keraton tempat seperangkat gamelan disimpan. Gamelan tidak boleh dimainkan sembarang orang, termasuk pengunjung.
Ini adalah bangunan di pelataran depan. Selalu ada kolo dan lambang Kesulatanan Jogja di atasnya.
Ini saya berfoto di depan reco, alias arca dengan pentungan yang terletak di sisi kiri kanan bangunan pada gambar di atas. fungsinya sebagai penjaga. Besar dan seram sekali kan? Cocok lah untuk jadi penjaga pintu masuk wilayah kediaman raja. Niatan awal saya ingin berfoto sambil tersenyum, hasil jepretan saya berfoto sambil meringis menahan panas sinar matahari.

Benar-benar kedua arca mendapat keistimewaan, ada atap yang bisa melindunginya dari panas matahari dan guyuran hujan. Walaupun saya tidak mendapat sumber akurat untuk postingan kali ini tapi saya yakin arca-arca ini diperlakukan seperti benda hidup bernyawa sehingga sangat dijaga, dipelihara, dan diberi sesaji juga.




Ini adalah lambang kesultanan Jogja. Huruf pada lambang ini adalah huruf pertama pada aksara Jawa , "Ha (dibaca ho) sebagai inisial Raja Jogja Hamengkubuwono

Kolo bentuk lain yang dipasang di bagian atas pintu masuk ke ruangan lain


Ini salah satu bangunan favorit saya, sebuah gazebo yang peruntukannya saya kurang tahu. Yang jelas indah sekali.
Jika dilihat bagian kaca dilukis dengan gaya Eropa. percampuran budaya Barat agaknya ikut mempengaruhi bentuk gazebo ini. Jika saya perhatikan juga, bagian atapnya mirip dengangaya bangunan pagoda di Cina.


Di salah satu bangunan di dalam kompleks Keraton terdapat bangunan yang tidak bisa dimasuki oleh umum.
Salah satu bangunan yang saya foto hanya bagian depannya ini menunjukkan penjaga pintu sudah berubah dari arca buto yang seram menjadi singa yang masih seram dengan mata merah menyala. Singa membawa tameng yang dicengkeram dengan sikap siaga. Saya rasa pada bangunan ini budaya Eropa lebih mendominasi. Mungkin saja patung singa ini hadiah dari raja lain dari eropa atau dipesan khusus oleh Sultan pada jaman itu dari Eropa.
Di bagian belakang singa mengapit cermin besar bergaya Victoria juga terdapat 2 patung bergaya tentara Romawi yang ditempel di dinding.
Untuk cerminnya, entah mengapa dihadapkan ke arah jalan menuju bangunan ini, mungkin untuk menolak bala atau juga agar tamu berhias sebelum masuk ke dalam bangunan. Perhatikan juga lantainya ya? Batu pualam alias marmer yang awet bertahan ratusan tahun.
Mengingat saya berkunjung ke Keraton tanpa pemandu wisata jadi saya mengagumi dan berasumsi sebagai orang awam tentang seluk beluk Keraton. Coba perhatikan bagian ini. Tampak pilar bangunan yang indah ya? Terlihat tua tapi indah. berukir dan berbalur pahatan  daun-daun yang merambat. Sementara jika Anda perhatikan lagi pot bunga yang saya ambil fotonya adalah pot bunga yang sudah pecah kemudian kepingannya disatukan kembali. Bisa jadi pot-pot bunga dan guci di bagian bawah ini adalah hadiah dari kerajaan sebuah dinasti di Cina atau barang rampasan perang dari VOC atau pihak lain. Guci yang nampak di depan ini menurut saya berubah fungsi dari tempat air menjadi guci pot bunga. Pastinya barang-barang seperti pot dan guci di gambar saya yakin bukan buatan Indonesia.
Bagian lampu juga tak luput dari pengamatan saya. Penampakannya sangat tua, renta, dan sedikit lusuh. Semoga bisa bekerja dengan baik. Pertanyaannya kemudian, di tahun berapakah lampu-lampu ini dibeli dan dipasang? Pastinya saat itu sudah ada listrik bukan? Berarti mungkin saja usia lampu ini tidak setua yang saya bayangkan. Mungkin dipasang di tahun 70an.

Anda lihat bangunan di seberang itu? Bangunan itu termasuk yang tidak boleh dimasuki pengunjung. Saya memotret dari kejauhan. tampak asisten rumah tangga lebih modern, bercelana panjang batik, berblangkon, tapi berkaos merah.

Indah dan unik ya arsitekturnya? Magis bercampur artistik, menurut saya loh ya
Foto ini diambil tahun 2010 dan sama persis dengan foto terakhir yang saya ambil di tahun 2012.

Abdi dalem atau pegawai Kraton sedang membawa sesaji.  Tampaknya seperti sesaji :P

Keterangan lebih kanjut tentang sesaji yang saya ambil dari salah satu ruang di dalam Kraton Yogya

Salah satu bangunan seperti ruang penyimpanan yang tidak boleh dimasuki

Di salah satu bangunan katon terdapat bangunan khusus tempat penyimpanan alat masak dan peralatan makan. Di tempat ini terdapat guci air, filter air seperti tampak pada gambar, tea set dan berbagai perabot lain yang digunakan di dapur dan di meja makan. Di gambar adalah saya di tahun 2010 :)

Kentongan raksasa ini diletakkan di gerbang menuju Ruang penyimpanan (museum) batik dan ruang penyimpanan  lainnya

Meriam tua yang disimpan di kompleks Kraton Jogja

Pintu menuju ruang penyimpanan koleksi batik Sultan dan keluarganya

Silsilah salah satu Sultan Hamengkubuwono (saya lupa yang ke berapa)



Abdi Dalem sedang bertugas. ketika mengambil foto ini saya tidak sengaja nimbrung masuk ke kelompok lain. Sederhana sekali kan kantor administrasinya. Saya sebenarnya ingin bertanya banyak tetapi pemandu kelompok yang tidak sengaja saya ikuti lebih banyak mengatur pembicaraan. Yang jelas paara Abdi Dalem ini saat itu sedang mengatur jadwal masuk anggota.



Ini adalah replika Prajurit Patangpuluh. Ada beberapa kesatuan dalam keprajuritan di wilayah kekuasaan Sultan. Semoga posting lain waktu bisa memberikan ceritanya lebih lengkap.


Bangunan dekat pintu utama masuk kompleks Kraton ini adalah tempat digelarnya hiburan yang diadakan setiap hari mulai jam setengah sepuluh pagi. Untuk hari Jumat yang digelar macapat alias membaca cerita (babad) dengan melagukannay. Sementara jari Sabtu pertunjukan tari.


Pagelaran tari yang lakonnya sudah tidak teringat lagi. Foto ini diambil di tahun 2010 

Foto 2 penari cantik dari hari yang sama ketika saya berkunjung di tahun 2010

Di kunjungan terakhir pementasan yang saya saksikan adalah macapat. Penonton tidak mendapat cerita jadi hanya 15 menit saya dan pacar duduk, kami segera beranjak pergi. Para turis pun tidak semangat menonton berlama-lama. Pembaca cerita saat itu bapak yang sudah sepuh. Menurut keterangan ibu yang berfoto bersama saya ini, buku yang dibaca diambil dari perpustakaan dan usianya puluhan bahkan ratusan tahun. Setiap buku berisi cerita yang ditulis oleh Sultan dan masing-masing Sultan punya gaya bahasa dan penulisan sendiri sehingga membaca buku dan menyenandungkannya sangatlah sulit. Huruf Jawa (Aksara Jawa) yang tertuilis pun berbeda dengan yang dipelajari siswa sekolah saat ini. Tidak ada tanda baca dan tanda bunyi. 

Senang mengunjungi Kraton. Saya jadi ingin berkunjung lagi tetapi kali ini menulis dengan detail semua cerita dari setiap sudut Kraton. Entah berapa lama waktu yang saya butuhkan nantinya. Semoga terlaksana. Segala tulisan yang membantu posting ini akan saya terima dengan senang hati. Saya banyak berasumsi di tulisan kali ini karena keterangan yang saya dapatkan minim mengingat kedatangan saya tanpa pemandu. Next time better.

Jogja Kembali (Lagi) - Part 5

Jika Anda berkunjung ke Keraton Jogja, jangan lupa untuk merasakan santapan a la raja. Saya berkesempatan mencicipi nikmatnya hidangan para raja di Bale Raos.

Bale Raos adalah restoran yang terbuka untuk umum di bagian belakang Keraton. Jika Anda ingin mampir tanpa mengunjungi Kraton juga bisa, lewat jalan kecil, namanya aduh..lupa... yang jelas jalannya di samping Kraton.

Saya berkunjung kurang lebih pukul 10, jadi restoran ini masih sepi. Saya mengambil meja di dekat AC karena cuaca di luar luar biasa panas. Meja makan ditata cantik dengan nuansa kuning-hijau dan batik. Pelayan datang mengisi gelas dengan air putih, complimentary, kapan ya diisi jus buah gratis he he he. Saya sempat membaca sekilas beberapa menu serta penjelasannya. Di buku menu lengkap dituliskan penjelasan tentang tiap-tiap hidangan dan siapa yang menyukai menu tersebut. Penyukanya tentu saja mulai Hamengkubuwono, Sultan Jogja ke 8 sampai leluhur dan keturunannya.



Soal harga, tidak perlu khawatir, sangat terjangkau. Semahal satu paket nasi Mc.D lah. Tapi suasananya pasti berbeda dong, lebih ayem dan adem di Bale Raos ini. Di dinding restoran terdapat testimoni pengunjung lengkap dengan nama dan tanda tangannya. Umumnya mereka adalah pesohor dan pejabat di negeri ini. Ada juga pengunjung asing di sini. Mantab!




Setelah menunggu kurang lebih 20 menit, pesanan kami datang. Saya memesan Nasi Golong Set dan pacar memesan Nasi Traditional Set. Untuk minuman saya merekomendasikan pacar saya memesan Beer Djawa (non alkohol) dan saya memesan Jus Mangga (Mangga Juice bukan Mango Juice loh tulisannya :P )

Nasi Golong Set terdiri dari semangkuk sayur bening berisi bayam dan jagung muda dipipil. Di piring terdapat nasi 2 kepal kecil. Ada juga trancam isinya parutan kelapa bumbu yang diurap dengan cacahan kasar mentimun, kacang panjang, irisan tipis kol, tak daun kemangi yang rasa campurannya manis, sedikit pedas dan segar. Dua iris telur rebus dan Aayam bumbu merah. Saya kurang paham ini ayam bumbu bali atau ayanm bumbu bakar, yang jelas ayamnya empuk dan bukan ayam potong. Ayam kampung asli nikmat. Hidangan ini pas sekali dimakan saat makan siang atau cuaca terik  Enak..tapi saya sedikit menyesal karena menu saya menu "biasa" saja. Soal rasa sih enak sekali tapi isinya biasa saja. terlalu sederhana.





Menu pacar saya lebih "menarik" Menu nasi Traditional Set lebih terlihat seperti hidangan raja. Nasinya disajikan seperti kubah (tumpeng mini) dengan nas putih di bawah dan nasi merah di ujungnya. Nasionalis seklai kan? Dilengkapi dengan urap-urap, tampaknya sih daun singkong muda bercampur bumbu dan cabe merah dan hijau dilengkapi dengan kerupuk puli (istilah Jawa Tengahnya saya kurang paham, krupuk gender kalo tidak salah).  Untuk ulasan nasi dan urapnya saya hanya mengira-ngira karena saya tidak bisa mencicipi, ludes disantap pacar saya yang kelaparan. Ini baru hidangan nasi saja di piring karena masih ada nampan kedua berisi hidangan yang jauh lebih "ningrat" dibanding milik saya.



Di nampan kedua ada 2 piring kecil dan 1 mangkuk kecil. Di masing-masing piring ada tahu tempe bacem yang warnanya tidak terlalu coklat tetapi legit dan manis. Saya berkesempatan mencicipi hidangan ini karena saya minta dengan "paksa" pada pacar he he he. Piring kedua berisi ayam berbumbu seperti bumbu daging lapis dengan irisan tomat dan cabai merah segar. Dan mangkuk ketika diberikan pacar untuk saya. Ini mangkuk dengan hidangan terajaib yang pernah saya makan dan saya lihat. Sepintas mirip kolak, bukan sayur lodeh dan bukan juga kari. Kuahnya bersantan putih tapi di dalamnya ada bola daging. Jadi ini bakso versi Sultan. Kuahnya kuah santan guruh berbumbu enak. Bola dagingnya bertekstur bagus dan rasanya manis. Jogja banget ya..semua serba manis.


Untuk minumannya Beer Djawa luar biasa enaknya. Gabungan kayu secang, kayu manis, dan rempah lainnya menghasilkan minuman yang wujudnya persis seperti bir tetapi rasanya 1000x lebih enak daripada bir. Walaupun saya belum pernah minum bir saya jamin yang ini lebih enak, sehat, dan berkhasiat, Disajikan dingin nikmat sekali. Pacar sempaty meminta resepnya dan pelayan menjelaskan serta mencatatkan resepnya dengan senang hati, mungkin karena pacar bule jadi lebih mudah dapat fasilitas resep, he he. Sayang saya tidak mencatat ulang jadi saya tidak ingat lagi apa saja rempah-rempah yanbg digunakan dalam membuat Beer Djawa ini. Untuk minuman saya, jus mangga enak dan segar seperti jus mangga pada umumnya. Yang jelas lebih kental dan enak. Sepertinya enak memang menjadi kata kunci dalam tulisan tentang Bale Raos ini :)

Pencuci mulut dilanjut dengan menu Manuk Enom alias si Burung Muda. Ukurannya mini sekali, pantas harganya 7000 rupiah. Menyesal saya hanya memesan 1 porsi. Dibuat dari campuran tapai singkong dan agar-agar puding ini enak sekali. Saya bukan penggemar tapai singkong tetapi untuk Manuk Enom ada pengecualian pastinya. Lucunya untuk bagian sayap ditancapkan emping melinjo di masing-masing sisi. Pikir saya emping hanya hiasan, tetapi ketika saya gigit emping dan pudingnya...wah mak nyussss luar biasa kombinasi rasanya. Kok bisa ya? Pandai sekali koki pencipta puding ini.

Manuk Enom, si Burung Muda. Perut siapa tuh yang tambun? he he he

Intinya jangan lewatkan makan di Bale Raos. Very recommended. Tak sabar ingin ke Bale Raos lagi. Berapa uang yang saya habiskan untuk bersantap di sini? Cek nota yang saya tempelkan berikut ini, bukan bermaksud pamer tapi sekedar berbagi info :)

Nasi Traditional Set 40.000
Nasi golong 35.000
Beer Djawa 14.000
Jus Mangga 12.500
Manuk Enom 7.000

Pajak 10%
Pelayanan 4%

Total 125.000 puas jadi raja dan ratu sehari :)

Saturday, October 6, 2012

Jogja Kembali (Lagi) -- Part 3

Cerita terakhir adalah terdampar di Terminal Giwangan Jogja. Saya ingin pergi ke Borobudur tapi tidak tahu ke mana arah yang dituju. Saya celingukan, lihat kiri dan kanan kok tidak ada papan yang jelas yang menunjukkan Borobudur. Saya tengok ke kiri tulisannya Bus Jurusan Jakarta dll, saya tengok ke kanan tulisannya Jurusan Parangtritis. Waduuh�saya ingin bertanya kepada petugas peron tapi ada calo bus di dekatnya. Saya paling sebel karena mereka biasanya sok tahu dan sok nimbrung padahal tidak ditanya. 

Akhirnya sang penyelamat datang, seorang petugas kebersihan datang menyapu. Ketika dia menyapu lantai di dekat kursi saya saya bertanya padanya tentangbus jurusan Borobudur. �Sebelah kanan, pintu ketiga mbak belok kanan.� Oh..rupanya saya harus masuk lorong sebelah kanan yang bertulis Parangtritis itu, lurus terus sampai menemukan belokan ketiga yang papannya bertulis Muntilan � Borobudur. Kami pun mengarah ke tujuan, setelah berbelok kami turun tangga. Bus ada di bawah.

Pemandangan sepi terminal dari lantai 2 ruang tunggu terminal
Weks..busnya mirip bus ijo jurusan Mojokerto � Surabaya. Terminal bawah ini sepi. Tidak beda dengan terminal bemo bayangan. kaget juga, untuk kota seterkenal Jogja saya pikir terminalnya lebih ramai. Saya naik di bus ini. Awalnya ingin memberikan membayar 3 tempat untuk saya dan pacar, untung tidak saya lakukan. Karena apa? Mahal� L

Suasana di dalam bus jurusan Giwangan - Borobudur
Bus berangkat setelah kurang lebih 15 menit menunggu penumpang. Mungkin ada 6 orang penumpang di bus saat itu. Saya bertanya pada penumpang lain tariff ke Borobudur tapi dia tidak tahu, entah sengaja entah tidak. Dan�karena kebodohan saya tidak bertanya pada petugas kebersihan tentang ongkos bus saya pun merasa tertipu. Ongkosnya Rp. 20.000,- per orang untuk perjalanan kurang dari 1 jam. Dengan bus mini yang sama jeleknya dari Mojokerto � Surabaya cuma bayar Rp. 7000,- Saya benar-benar kesal karena saya yakin ongkos resminya tidak semahal itu, walaupun sampai sekarang  saya tidak tahu berapa.

Bus melewati 3 terminal. Terminal Jombor, di sini saya melihat bus TransJogja pertama kalinya. Perjalanan lanjut ke Terminal Sleman dan kemudian Terminal Muntilan. Tentu saja terakhir kami berhenti di Terminal Borobudur. Semua terminal ini terminal kecil yang tidak ramai. Saya sudah bersiap dengan jurus tolak tawaran ketika kami akan sampai di Terminal Borobudur. Belum menyentuh tanah dari atas bus para fans menawarkan jasa mulai becak, ojek, dan dokar (kereta kuda).  Saya sudah belajar dari catatan blogger lain bahwa dari terminal lokasi candi tidak jauh. Saya menolak dan mereka tetap mengekor.
Saya di dalam bus

�Ayo Borobudur, becak mbak, mister twenty, 20 ribu mbak�

�Nggak pak..� sambil terus berjalan.

Lama-kelamaan ,� Jauh lo mbak, bener saya ga bohong. 10 ribu deh. ayo mbak�

Saya tetap berjalan menjauh..berniat mencari depot, dan..saya menuju arah yang salah.

�Borobudurnya ke arah sana mbak..� kata tukang ojek. Dari parkir bus langsung ke arah kiri melewati pasar. Ini juga aneh masa dari terminal tidak ada penanda arah mana ke candi dan mana ke tempat lainnya. Harusnya penanda arah dibuat dan ditulis besar-besar termasuk arahnya.

�Mbaknya mau ke mana to kok muter-muter?� Tanya pak ojek. Kesal saya dibuatnya, ngeyel terus minta dipakai jasanya.
�Cari makan pak,� kata saya agak ketus.
�Oh..nanti mbak di pintu masuk candi ada banyak warung, ayo ngojek saja mbak.�

Huaaaaa emosi. Lagipula pacar tidak berani naik motor jelas saya tidak mau ngojek. Saya berjalan sesuai �petunjuk� pak ojek. Dan..mana warungnya�oh tidaaaak.kok sepi begini. Akhirnya saya menemukan satu warung. Dan karena daftar harga dipasang saya jadi makin percaya diri untuk melangkah. Setelah beberapa pengalaman sebelumnya  �ditipu� di warung-warung dengan harga turis di Jogja saya berketetapan hati hanya makan di tempat yang ada harganya saja.

Saya makan di warung yang bertuliskan Siomay Bandung. Di sebelah kiri jalan kurag lebih 30 meter dari pasar - terminal.  Harganya normal. Rp. 7,000 untuk nasi goreng Rp. 5000,- untuk mi instan dll. Dengan suasana yang sepi tetap saja 2 3 kali ada bus pariwisata membawa penumpang ke arah yang akan saya tuju. Oke..saya tidak salah jalan.

Setelah makan kami berjalan ke Candi. Mulai saya lihat bule bersepeda onthel, bule berjalan..ah ya..ini benar Borobudur batin saya. Di pintu masuk langsung saya belok ke kiri di jalan setapak setelah diarahkan petugas parkir. Pintu khusus pejalan kaki tidak ada dan tidak ada papan petunjuk. Cuma PINTU MASUK, dan setelah pagar bertulis PARKIR MOBIL, PARKIR BUS PARIWISATA..oalah�.

Toiletnya berbalik 180 derajat dengan di Terminal Giwangan. Toiletnya bersih walaupun terlihat belum disapu. Mungkin jarang dipakai. Ada kotak sumbangam sebelum pipis he he.  Dari toilet tersebar puluhan kios cinderamata dan warung, dan� sekali lagi tidak ada petunjuk jelas loket tiket. Dibandingkan dengan misalnya, WBL di Lamongan yang juga luas paling tidak di sini pengelola memasang banyak rambu-rambu peringatan, peta lokas, dan juga yang terpenting appan penunjuk arah. Yah�clingukan lagi. Saya jalan saja mengikuti orang-orang. Saya tidak tahu mana barat, timur, dan selatan. Pedagang sudah mulai merayu dan menjajakan barang dagangan.

Saya menemukan loket bagi turis domestik � rakyat jelata saya menyebutnya. Tiketnya Rp. 30.000,-. Setelah selesai membeli tiket saya langsung menuju bangunan berdinding jendela-jendela kaca besar yang khusus untuk turis asing, tempat saya membeli tiket untuk pacar. Sebelumnya saya titipkan tas saya, penitipan ini dekat dengan bangunan kaca tadi. Dan akhirnya untuk rasa penasaran saya terjawab. Dari dulu saya penasaran kenapa bule-bule masuk ruangan kaca dan kami turis local tidak. Jawabannya $20. Ya, $20 harga tiket yang mebedakan turis local dan internacional. Begitu kaca saya buka adeeeem AC-nya. Orang-orang bersantai dan nyaman sekali. Wuiiiih kaget saya ketika tiket masuk bule $20, terakhir saya cek di website setahu saya mereka membayar Rp.150.000,- ternyata salah. Turis asing membayar Rp. 188.000,- dengan kurs 1 dollar 9400 dipampang di jendela loket. setelah membayar ada petugas yang kalem dengan setumpuk kain batik. Saya tidak memakai dan pacar juga tidak mau. Saya tunjukkan saja padanya.

�Silakan kopi atau air mineral� ujar petugas ini sambil tangannya menyilakan.
What? Gratis kopi atau air mineral? Oalah dapat welcome drink to ceritanya. Ck ck ck ck memang beda ya 30 ribu dan 188 ribu itu.

Kami juga melewati metal detector dengan petugas yang ramah, dan setelah keluar dari pintu ruang kaca beberapa pemandu wisata menawarkan jasa.

Singkat kata saya berjalan-jalan di tengah teriknya siang. kami lebih banyak duduk bersantai dan menikmati keindahan Borobudur. Sampai kemudian kami memutuskan mengabadikan momen dengan jasa tukang foto keliling. Tukang foto ini dari Koperasi Pegawai Borobudur kalau tidak salah. Biaya tiap foto, dengan pose yang bisa Anda pilih di koleksi tukang foto, seharga Rp. 30.000,- Saya mencoba menawar setengah hati. Tidak tega, pak fotografer ini kan mencari nafkah dengan jujurnya dan dengan skillnya. Bagi saya pedagang yang menaikkan harga dagangan berkali-kali lipat termasuk yang tidak jujur. dia menunjukkan daftar harga dari koperasinya seharga Rp.100.000,- untuk 3 kali foto (paket). Katanya satuan juga boleh seharga yang saya sebut sebelumnya. Akhirnya kami membuat 2 foto dan puas dengan hasilnya. 

Borobudur memang menakjubkan. Saya bergaya sok pemandu wisata mengingat pacar banyak bertanya. Singkatnya saya bilang padanya bahwa "membangun" ulang Borobudur seperti menyusun ribuan keping puzzle. Di banyak bagian candi memang ada batu buatan modern yang disusun bersama batuan asli candi. Pasti karena kepingannya hilang entah di mana, atau mungkin rusak sepenuhnya. Sesekali saya mencuri dengar keterangan pemandu wisata yang sedang menjelaskan tentang candi dan cerita pada relief candi. Untung sekali ketika mendengarkan penjelasan pemandu yang berbahasa Indonesia ataupun Inggris. Giliran pemandu berbahasa Jepang saya cuma terpana kagum, he's so fucking fluent in speaking Japanese ha ha.
Relief pada dinding candi

Indahnya cerita pada dinding candi. Detil dan sungguh luar biasa kemampuan
nenek moyang dalam menciptakan bangunan megah.

Bagian yang kosong diisi keping batu baru. Entah di mana kepingan-kepingan
yang hilang ini

Batu-batu baru, dengan paku di tengah ditambahkan untuk
menopang bagian yang kosong

Bagian yang hampir aus dimakan usia

Pada bagian ini terlihat bahwa ada keping batu yang tidak sesuai dengan
keping lainnya

Relief candi yang berusia ribuan tahun

Di bagian paling atas (puncak) adastupa yang dibuka dengan Buddha di dalamnya.
Saya melihat ada pengunjung yang berdoa di dekat stupa ini.
Sekarang Borobudur juga lebih ketat pengamanannya, ada petugas yang mengatur
dari sisi mana pengunjung masuk dan keluar.
Di mana-mana juga ada papan pengumuman yang melarang pengunjung naik ke stupa.


Cuaca sungguh panas saat itu. Kami tidak banyak melihat Candi. Hampir setiap 20 menit kami duduk. kaki sih masih kuat melangkah tapi sunggu cuaca yang ekstrim panasnya membuat pantat saya ingin rehat ha ha. Satu pesan saya, jangan lupa menggunakan tabir surya (sunblock), membawa topi (lebih baik topi yang lebar) atau payung sendiri, dan bawa air minum secukupnya sehingga tidak dehidrasi. Sebagai catatan di lokasi candi tidak ada penjual minum, adanya toilet ha ha ha.

Setelah kurang lebih 3 jam mengelilingi candi kami menuju pintu keluar. Dari sisi candi ada tulisan EXIT besar-besar. Dan ternyataaa membutuhkan waktu hampir 30 menit mencapai pintu keluar, karena kita akan menangkal rayuan penjual wajarlah jika jadi lebih lama.

Menuju pintu keluar ada 2 museum yang bisa kita kunjungi yaitu Museum Perahu Nusantara dan Museum Borobudur. Saya hanya mengunjungi museum pertama. Yang kedua tidak kami kunjungi karena pacar saya lelah luar biasa. Saya juga sih. Terlebih kami harus mengejar bus dari Terminal Borobudur karena berdasar info bus terakhir berangkat jam 4 sore.

Di sepanjang jalan keluar puluhan pedagang menjajakan barang dagangannya. Pacar saya sampai dengan hebih bilang,"Tidak! Thank you!" kesal juga karena pedagangnya sangat kukuh, tapi bagus juga sih mereka pedagang sejati :) Berikut ada tips yang ingin saya bagi berkaitan dengan pedagang di wilayah Candi Borobudur:


  • Jika Anda dari Surabaya silakan datang ke Toko Suvenir Mirota di Jalan Sulawesi. Jangan membeli suvenir di kawasan wisata seperti Borobudur dan tempat-tempat lain di Yogya. Jika tidak pandai menawar Anda akan sangat-sangat menyesal. Atau singkatnya mengurangi energi menawar barang. Lagi pula membawa banyak suvenir tentu berat kan :)
  • Jangan membuat kontak mata (eye contact) dengan para pedagang jika tidak ingin terus dikerubuti.
  • Mereka akan menawarkan barang dagangan dengan harga 4 sampai 5 kali lipat harga normal. Terus saja berjalan. Semakin lama mereka mengikuti kita harga akan terus dikurangi.

"50 ribu mbak."
"Nggak pak."
"40 deh mbak."
"Nggak pak."
"Ayo mbak mumpung di Borobudur. 30 deh mbak" dan seterusnya



Topi petani alias caping yang dijual ke
turis seharga 75 ribu
Dengan penawaran alot kami dapat
seharga 30 ribu
  • Bolpoin bambu tawar seharga Rp. 5000 untuk 10 buah. 10 ribu adalah harga terendah yang ditawarkan pedagang siapa tahu boleh kurang.
  • Arca mini dengan stupa Borobudur, Buddha, dll bisa dibeli dengan harga Rp. 10.000 coba tawar lebih rendah dari harga yang saya dapatkan misalnya Rp.7500,- siapa tahu beruntung.
  • Baju-baju batik mending beli di Malioboro atau sekalian di Pasar Beringharjo.
  • Caping Pak Tani idola para turis ditawarkan sampai Rp.75,000 untuk turis. Saya mendapat seharga Rp. 30.000 unkuran sedang dan tebal. Di Mirota caping pak tani djual dengan harga Rp.20.000,- saja
  • Miniatur Borobudur bisa didapat dengan harga 10-15ribu. Tawar lebih rendah lagi mengingat saya tidak jago menawar.
  • Anyaman lukis Candi Borobudur dari bambu bisa ditawar sampai Rp.15.000,- saya tidak membeli tapi seingat saya penjual menawarkan sampai 20ribu.
  • Uleg-uleg dan piring batunya ditawarkan 40-70ribu. Beli di pasar saja. Khusus untuk uleg dan piring dengan desain bunga dan desain imut lainnya memang  menarik dan setahu saya tidak dijual di kota lain jadi silakan menawar dan semoga beruntung :)

Jalan keluar menuju gerbang memang diarahkan menuju lokasi pedagang. Banyak pedagang menawarkan dagangan dengan muka memelas. Silakan pilih untuk tetap fokus pada rencana perjalanan atau menaruh rasa iba pada pedagang. Seorang ibu pedagang berhasil merayu pacar saya ketika kami duduk makan di warung dekat pusat oleh-oleh. Dia berhasil menjual kipas bambu biasa yang tidak bagus menurut saya. 2 kipas seharga 15ribu. Dia sudah merayu pacar saya dengan menjajakan hampir seluruh dagangan. Pacar saya sudah menolak dengan tegas dan setelah hampir 10 menit dia pun luluh hanya untuk mengusir ibu itu pergi. Setelah pergi..ada pedagang lain, wanita tua juga. Tapi kali ini tidak ada lagi rasa iba.

Saking capeknya pacar saya tidak mau lagi berjalan. Naiklah kami becak ke terminal. Tidak ada lagi rencana naik andong untuk penghematan. Becak 10,000 per orang. Jaraknya dekat tapi kami sudah capek menawar. Sesampai di terminal kami menunggu bus yang belum datang. hanya ada 1 bus di terminal dan itu bukan jurusan yang ingin kami naiki.

Saya bertemu turis lain. Saya tanya dia mau ke kota atau tidak dia mengiyakan. Saya tanya dia tinggal di mana dia bilang di kawasan Malioboro di puat kota. Saya di kawasan pinggir di Jogokaryan. Saya sempat mendapat info untuk turun di terminal Jombor dan lanjut dengan bus ke arah Jogokaryan. Tampaknya tidak semua orang di Jogja familiar dengan angkutan umum. Para bapak dari DLLAJR juga tidak tahu bagaimana cara mencapai Jogokaryan dari Borobudur. Akhirnya saya setuju untuk ngekor bule itu ke Terminal Jombor.

Saya tanya berapa dia membayar dari Jombor ke Borobudur, dia bilang Rp.12,000,- wah saya makin kecewa dengan tarif awal saya dari Terminal Giwangan ke Borobudur yang Rp. 20,000. Menurut saya dari Jombor ke Giwangan tidak mencapai Rp. 8000,- tarif wajarnya. Maklum saya pengguna angkutan umum sejati jadi agak sewot jika tarif dinaikkan semena-mena. Ini belum apa-apa. Ketika kami di dalam bus, bule ini duduk di belakang saya dan pacar kondektur datang meminta ongkos.
Saya tanya, "Turun Jombor berapa?"
"Twenty."
"Nggak pak"
"Twenty, dua puluh" dengan setengah memaksa.
"Lima belas" kata saya
"Ya thirty dua orang."
Giliran bule di belakang membayar dia langsung minta 20ribu jelas-jelas dia tahu saya bayar berapa karena saya duduk di depannya. Bule ini tidak mau membayar 20ribu dan dia bilang sebelumnya hanya bayar 12ribu. Kondektur tetap memaksa. Akhirnya saya bilang fifteen. Dan kondektur pun mau dibayar 15ribu sama dengan saya. Bule ini pun geleng-geleng heran

Inilah yang saya tidak suka. tarif dinaikkan semena-mena. Harusnya ada tarif yang dibuat jelas ke lokasi-lokasi wisata tertentu. Bagi saya citra Indonesia dipertaruhkan di sini. Ketidakjelasan tarif dan tidak adanya pengumuman membuat turis mudah dibohongi. Sungguh memalukan bagi saya yang orang Indonesia. Lebih baik seperti tiket Borobudur yang menulis tarif berbeda untuk turis domestik dan manca negara.

Lucunya mendekati terminal Jombor saya bertanya pada sopir di sebelah kami rute tercepat menuju Jogokaryan. Pak sopir menjawab bahwa saya tidak harus turun di Jombor, saya lupa apa nama tempatnya yang jelas setelah wilayah Gamping. Jadi ketika bule turun di Jombor dia menunggu kami. Saya bilang saya lanjut perjalanan. Kondektur pun menyuruh kami turun, tapi karena sopir memberi tahu kondektur bahwa kami akan turun di tempat lain jadi kami pun duduk manis lagi.

Logikanya karena kami turun di tempat yang jauh dari tujuan awal, Terminal Jombor kami harus membayar ekstra. Saya sudah mempersiapkan uang jika diminta menambah biaya. Herannya sampai saya turun saya tidak diminta menambah ongkos. Bahkan ketika turun kondektur yang tadi memaksakan tarif menjadi orang yang super ramah. Saya yakin pada dasarnya para kru bus ini ramah dan baik hati, tapi yang membuat saya sebal mereka menaikkan tarif bagi turis lokal maupun domestik semena-mena. Karena saya tidak tahu patokan tarif resmi jadi ketika berangkat saya manut saja ketika dikenakan tarif mahal. Pulangnya, tarif berangkat saya jadikan acuan..

Posting selanjutnya...cerita di seputar kota Jogja....