Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-Jalan. Show all posts

Sunday, October 7, 2012

7 TIPS JITU MEMBELI SUVENIR WISATA


Mumpung Hari Minggu dan saya sempat Jalan-jalan ke Tempat Wisata dekat Rumah, banyak sekali Wisatawan dari Luar Daerah (Luar Pulau) dan Mancanegara yang menghabiskan Akhir Pekannya di Kota Sabang. Nah bagi para wisawatawan tentunya sebelum kembali kedaerah masing-masing akan mencari souvenir sebagai oleh oleh. Berikut tips jitu yang sempat saya CoPasBu (Copi dan Paste he he he Plus sedikit Bumbu ) dari travel.detik.com.
Bagai agenda wajib, membeli suvenir jadi kegiatan yang tidak boleh ditinggalkan saat traveling. Sayangnya, suvenir yang dibeli kadang cacat atau tidak asli buatan daerah tersebut. Agar tidak kecewa, ikuti 7 tips berikut. Dikumpulkan detikTravel, Selasa (2/10/2012) berikut adalah 7 tips membeli suvenir saat traveling:
  1. Beli barang khas daerah itu. Selain menjadi buah tangan, suvenir juga dibeli untuk mengenang dan sebagai tanda telah menjejakkan kaki di suatu daerah. Oleh karena itu, sebelum membeli sebaiknya Anda mencari tahu lebih dahulu suvenir apa yang khas di daerah tersebut.Sebagai contoh, saat Anda liburan ke kawasan Papua, carilah suvenir khasnya seperti koteka. Sedangkan saat liburan ke kawasan Flores, carilah suvenir berupa kain tenun ikatnya yang khas. Hindari pula membeli barang yang umum ditemukan di tempat lain, seperti gantungan kunci.
  2. Cari tahu kawasan belanja. Kawasan perbelanjaan di suatu destinasi kadang bukan cuma satu tempat saja, tapi terbagi di beberapa lokasi. Untuk mendapatkan suvenir dengan variasi yang lebih banyak dan harga yang lebih murah, tidak ada salahnya jika Anda mencari tahu kawasan-kawasan belanja yang ada di daerah tujuan.
  3. Mampirlah ke banyak toko. Jangan percaya pada satu toko yang Anda kunjungi. Biasanya, sebuah toko akan mengatakan barang yang dijual di tempatnya adalah yang paling murah. Sebaiknya, Anda juga masuk ke toko lain atau bahkan kawasan belanja lain agar mendapat perbandingan harga dan barang dari toko sebelumnya.
  4. Tentukan budget.Saat membeli suvenir kadang seorang turis tidak memperhitungkan berapa biaya yang dikeluarkan. Semua barang yang dianggap menarik bisa saja dibeli. Begitu sudah sampai di penginapan barulah ia sadar uangnya habis untuk membeli suvenir.Nah, untuk menghindari hal ini, sebaiknya Anda sudah memperhitungkan berapa biaya yang akan dikeluarkan untuk membeli suvenir. Jangan sampai Anda kehabisan uang sebelum pulang ke daerah asal.
  5. Perhatikan kualitas barang. Saat membeli suvenir, jangan lupa untuk mencari tahu kualitas barang yang Anda incar. Biasanya, barang dengan kualitas baik tidak mudah rusak. Sebagai contoh, jika Anda membeli barang pecah belah seperti keramik, pilihlah keramik yang tebal. Jangan sungkan pula bertanya ke penjual barang mana yang memiliki kualitas baik. Keramik dengan kualitas baik tidak akan mudah pecah dengan warna yang lebih tahan lama. Selain itu, perhatikan juga barang yang Anda beli ada kecacatan atau tidak. Belilah barang yang memiliki bentuk sempurna tanpa cacat yang bisa merusak bentuknya.
  6. Teliti sebelum membeli.Nah, ini dia yang tak kalah penting diperhatikan saat Anda membeli suvenir. Telitilah sebelum membeli, perhatikan tempat pembuatan suvenir. Terkadang, cinderamata suatu daerah justru dibuat oleh daerah lain, atau bahkan negara lain. Ini tentu mengurangi makna suvenir yang niat awalnya sebagai kenang-kenangan dari suatu destinasi. Oleh karena itu, belilah suvenir yang dibuat asli di daerah tersebut.
  7. Untuk makanan, perhatikan tanggal kadaluarsa. Buah tangan kadang tak harus berupa barang pajangan, bisa juga berupa makanan. Khusus oleh-oleh seperti ini, Anda harus memperhatikan tanggal kadaluarsanya. Jangan sampai makanan yang dibeli sudah dekat tanggal kadaluarsa atau bahkan sudah lewat. Ini bisa bahaya untuk kesehatan.

Saturday, October 6, 2012

Jogja Kembali (Lagi) -- Part 3

Cerita terakhir adalah terdampar di Terminal Giwangan Jogja. Saya ingin pergi ke Borobudur tapi tidak tahu ke mana arah yang dituju. Saya celingukan, lihat kiri dan kanan kok tidak ada papan yang jelas yang menunjukkan Borobudur. Saya tengok ke kiri tulisannya Bus Jurusan Jakarta dll, saya tengok ke kanan tulisannya Jurusan Parangtritis. Waduuh�saya ingin bertanya kepada petugas peron tapi ada calo bus di dekatnya. Saya paling sebel karena mereka biasanya sok tahu dan sok nimbrung padahal tidak ditanya. 

Akhirnya sang penyelamat datang, seorang petugas kebersihan datang menyapu. Ketika dia menyapu lantai di dekat kursi saya saya bertanya padanya tentangbus jurusan Borobudur. �Sebelah kanan, pintu ketiga mbak belok kanan.� Oh..rupanya saya harus masuk lorong sebelah kanan yang bertulis Parangtritis itu, lurus terus sampai menemukan belokan ketiga yang papannya bertulis Muntilan � Borobudur. Kami pun mengarah ke tujuan, setelah berbelok kami turun tangga. Bus ada di bawah.

Pemandangan sepi terminal dari lantai 2 ruang tunggu terminal
Weks..busnya mirip bus ijo jurusan Mojokerto � Surabaya. Terminal bawah ini sepi. Tidak beda dengan terminal bemo bayangan. kaget juga, untuk kota seterkenal Jogja saya pikir terminalnya lebih ramai. Saya naik di bus ini. Awalnya ingin memberikan membayar 3 tempat untuk saya dan pacar, untung tidak saya lakukan. Karena apa? Mahal� L

Suasana di dalam bus jurusan Giwangan - Borobudur
Bus berangkat setelah kurang lebih 15 menit menunggu penumpang. Mungkin ada 6 orang penumpang di bus saat itu. Saya bertanya pada penumpang lain tariff ke Borobudur tapi dia tidak tahu, entah sengaja entah tidak. Dan�karena kebodohan saya tidak bertanya pada petugas kebersihan tentang ongkos bus saya pun merasa tertipu. Ongkosnya Rp. 20.000,- per orang untuk perjalanan kurang dari 1 jam. Dengan bus mini yang sama jeleknya dari Mojokerto � Surabaya cuma bayar Rp. 7000,- Saya benar-benar kesal karena saya yakin ongkos resminya tidak semahal itu, walaupun sampai sekarang  saya tidak tahu berapa.

Bus melewati 3 terminal. Terminal Jombor, di sini saya melihat bus TransJogja pertama kalinya. Perjalanan lanjut ke Terminal Sleman dan kemudian Terminal Muntilan. Tentu saja terakhir kami berhenti di Terminal Borobudur. Semua terminal ini terminal kecil yang tidak ramai. Saya sudah bersiap dengan jurus tolak tawaran ketika kami akan sampai di Terminal Borobudur. Belum menyentuh tanah dari atas bus para fans menawarkan jasa mulai becak, ojek, dan dokar (kereta kuda).  Saya sudah belajar dari catatan blogger lain bahwa dari terminal lokasi candi tidak jauh. Saya menolak dan mereka tetap mengekor.
Saya di dalam bus

�Ayo Borobudur, becak mbak, mister twenty, 20 ribu mbak�

�Nggak pak..� sambil terus berjalan.

Lama-kelamaan ,� Jauh lo mbak, bener saya ga bohong. 10 ribu deh. ayo mbak�

Saya tetap berjalan menjauh..berniat mencari depot, dan..saya menuju arah yang salah.

�Borobudurnya ke arah sana mbak..� kata tukang ojek. Dari parkir bus langsung ke arah kiri melewati pasar. Ini juga aneh masa dari terminal tidak ada penanda arah mana ke candi dan mana ke tempat lainnya. Harusnya penanda arah dibuat dan ditulis besar-besar termasuk arahnya.

�Mbaknya mau ke mana to kok muter-muter?� Tanya pak ojek. Kesal saya dibuatnya, ngeyel terus minta dipakai jasanya.
�Cari makan pak,� kata saya agak ketus.
�Oh..nanti mbak di pintu masuk candi ada banyak warung, ayo ngojek saja mbak.�

Huaaaaa emosi. Lagipula pacar tidak berani naik motor jelas saya tidak mau ngojek. Saya berjalan sesuai �petunjuk� pak ojek. Dan..mana warungnya�oh tidaaaak.kok sepi begini. Akhirnya saya menemukan satu warung. Dan karena daftar harga dipasang saya jadi makin percaya diri untuk melangkah. Setelah beberapa pengalaman sebelumnya  �ditipu� di warung-warung dengan harga turis di Jogja saya berketetapan hati hanya makan di tempat yang ada harganya saja.

Saya makan di warung yang bertuliskan Siomay Bandung. Di sebelah kiri jalan kurag lebih 30 meter dari pasar - terminal.  Harganya normal. Rp. 7,000 untuk nasi goreng Rp. 5000,- untuk mi instan dll. Dengan suasana yang sepi tetap saja 2 3 kali ada bus pariwisata membawa penumpang ke arah yang akan saya tuju. Oke..saya tidak salah jalan.

Setelah makan kami berjalan ke Candi. Mulai saya lihat bule bersepeda onthel, bule berjalan..ah ya..ini benar Borobudur batin saya. Di pintu masuk langsung saya belok ke kiri di jalan setapak setelah diarahkan petugas parkir. Pintu khusus pejalan kaki tidak ada dan tidak ada papan petunjuk. Cuma PINTU MASUK, dan setelah pagar bertulis PARKIR MOBIL, PARKIR BUS PARIWISATA..oalah�.

Toiletnya berbalik 180 derajat dengan di Terminal Giwangan. Toiletnya bersih walaupun terlihat belum disapu. Mungkin jarang dipakai. Ada kotak sumbangam sebelum pipis he he.  Dari toilet tersebar puluhan kios cinderamata dan warung, dan� sekali lagi tidak ada petunjuk jelas loket tiket. Dibandingkan dengan misalnya, WBL di Lamongan yang juga luas paling tidak di sini pengelola memasang banyak rambu-rambu peringatan, peta lokas, dan juga yang terpenting appan penunjuk arah. Yah�clingukan lagi. Saya jalan saja mengikuti orang-orang. Saya tidak tahu mana barat, timur, dan selatan. Pedagang sudah mulai merayu dan menjajakan barang dagangan.

Saya menemukan loket bagi turis domestik � rakyat jelata saya menyebutnya. Tiketnya Rp. 30.000,-. Setelah selesai membeli tiket saya langsung menuju bangunan berdinding jendela-jendela kaca besar yang khusus untuk turis asing, tempat saya membeli tiket untuk pacar. Sebelumnya saya titipkan tas saya, penitipan ini dekat dengan bangunan kaca tadi. Dan akhirnya untuk rasa penasaran saya terjawab. Dari dulu saya penasaran kenapa bule-bule masuk ruangan kaca dan kami turis local tidak. Jawabannya $20. Ya, $20 harga tiket yang mebedakan turis local dan internacional. Begitu kaca saya buka adeeeem AC-nya. Orang-orang bersantai dan nyaman sekali. Wuiiiih kaget saya ketika tiket masuk bule $20, terakhir saya cek di website setahu saya mereka membayar Rp.150.000,- ternyata salah. Turis asing membayar Rp. 188.000,- dengan kurs 1 dollar 9400 dipampang di jendela loket. setelah membayar ada petugas yang kalem dengan setumpuk kain batik. Saya tidak memakai dan pacar juga tidak mau. Saya tunjukkan saja padanya.

�Silakan kopi atau air mineral� ujar petugas ini sambil tangannya menyilakan.
What? Gratis kopi atau air mineral? Oalah dapat welcome drink to ceritanya. Ck ck ck ck memang beda ya 30 ribu dan 188 ribu itu.

Kami juga melewati metal detector dengan petugas yang ramah, dan setelah keluar dari pintu ruang kaca beberapa pemandu wisata menawarkan jasa.

Singkat kata saya berjalan-jalan di tengah teriknya siang. kami lebih banyak duduk bersantai dan menikmati keindahan Borobudur. Sampai kemudian kami memutuskan mengabadikan momen dengan jasa tukang foto keliling. Tukang foto ini dari Koperasi Pegawai Borobudur kalau tidak salah. Biaya tiap foto, dengan pose yang bisa Anda pilih di koleksi tukang foto, seharga Rp. 30.000,- Saya mencoba menawar setengah hati. Tidak tega, pak fotografer ini kan mencari nafkah dengan jujurnya dan dengan skillnya. Bagi saya pedagang yang menaikkan harga dagangan berkali-kali lipat termasuk yang tidak jujur. dia menunjukkan daftar harga dari koperasinya seharga Rp.100.000,- untuk 3 kali foto (paket). Katanya satuan juga boleh seharga yang saya sebut sebelumnya. Akhirnya kami membuat 2 foto dan puas dengan hasilnya. 

Borobudur memang menakjubkan. Saya bergaya sok pemandu wisata mengingat pacar banyak bertanya. Singkatnya saya bilang padanya bahwa "membangun" ulang Borobudur seperti menyusun ribuan keping puzzle. Di banyak bagian candi memang ada batu buatan modern yang disusun bersama batuan asli candi. Pasti karena kepingannya hilang entah di mana, atau mungkin rusak sepenuhnya. Sesekali saya mencuri dengar keterangan pemandu wisata yang sedang menjelaskan tentang candi dan cerita pada relief candi. Untung sekali ketika mendengarkan penjelasan pemandu yang berbahasa Indonesia ataupun Inggris. Giliran pemandu berbahasa Jepang saya cuma terpana kagum, he's so fucking fluent in speaking Japanese ha ha.
Relief pada dinding candi

Indahnya cerita pada dinding candi. Detil dan sungguh luar biasa kemampuan
nenek moyang dalam menciptakan bangunan megah.

Bagian yang kosong diisi keping batu baru. Entah di mana kepingan-kepingan
yang hilang ini

Batu-batu baru, dengan paku di tengah ditambahkan untuk
menopang bagian yang kosong

Bagian yang hampir aus dimakan usia

Pada bagian ini terlihat bahwa ada keping batu yang tidak sesuai dengan
keping lainnya

Relief candi yang berusia ribuan tahun

Di bagian paling atas (puncak) adastupa yang dibuka dengan Buddha di dalamnya.
Saya melihat ada pengunjung yang berdoa di dekat stupa ini.
Sekarang Borobudur juga lebih ketat pengamanannya, ada petugas yang mengatur
dari sisi mana pengunjung masuk dan keluar.
Di mana-mana juga ada papan pengumuman yang melarang pengunjung naik ke stupa.


Cuaca sungguh panas saat itu. Kami tidak banyak melihat Candi. Hampir setiap 20 menit kami duduk. kaki sih masih kuat melangkah tapi sunggu cuaca yang ekstrim panasnya membuat pantat saya ingin rehat ha ha. Satu pesan saya, jangan lupa menggunakan tabir surya (sunblock), membawa topi (lebih baik topi yang lebar) atau payung sendiri, dan bawa air minum secukupnya sehingga tidak dehidrasi. Sebagai catatan di lokasi candi tidak ada penjual minum, adanya toilet ha ha ha.

Setelah kurang lebih 3 jam mengelilingi candi kami menuju pintu keluar. Dari sisi candi ada tulisan EXIT besar-besar. Dan ternyataaa membutuhkan waktu hampir 30 menit mencapai pintu keluar, karena kita akan menangkal rayuan penjual wajarlah jika jadi lebih lama.

Menuju pintu keluar ada 2 museum yang bisa kita kunjungi yaitu Museum Perahu Nusantara dan Museum Borobudur. Saya hanya mengunjungi museum pertama. Yang kedua tidak kami kunjungi karena pacar saya lelah luar biasa. Saya juga sih. Terlebih kami harus mengejar bus dari Terminal Borobudur karena berdasar info bus terakhir berangkat jam 4 sore.

Di sepanjang jalan keluar puluhan pedagang menjajakan barang dagangannya. Pacar saya sampai dengan hebih bilang,"Tidak! Thank you!" kesal juga karena pedagangnya sangat kukuh, tapi bagus juga sih mereka pedagang sejati :) Berikut ada tips yang ingin saya bagi berkaitan dengan pedagang di wilayah Candi Borobudur:


  • Jika Anda dari Surabaya silakan datang ke Toko Suvenir Mirota di Jalan Sulawesi. Jangan membeli suvenir di kawasan wisata seperti Borobudur dan tempat-tempat lain di Yogya. Jika tidak pandai menawar Anda akan sangat-sangat menyesal. Atau singkatnya mengurangi energi menawar barang. Lagi pula membawa banyak suvenir tentu berat kan :)
  • Jangan membuat kontak mata (eye contact) dengan para pedagang jika tidak ingin terus dikerubuti.
  • Mereka akan menawarkan barang dagangan dengan harga 4 sampai 5 kali lipat harga normal. Terus saja berjalan. Semakin lama mereka mengikuti kita harga akan terus dikurangi.

"50 ribu mbak."
"Nggak pak."
"40 deh mbak."
"Nggak pak."
"Ayo mbak mumpung di Borobudur. 30 deh mbak" dan seterusnya



Topi petani alias caping yang dijual ke
turis seharga 75 ribu
Dengan penawaran alot kami dapat
seharga 30 ribu
  • Bolpoin bambu tawar seharga Rp. 5000 untuk 10 buah. 10 ribu adalah harga terendah yang ditawarkan pedagang siapa tahu boleh kurang.
  • Arca mini dengan stupa Borobudur, Buddha, dll bisa dibeli dengan harga Rp. 10.000 coba tawar lebih rendah dari harga yang saya dapatkan misalnya Rp.7500,- siapa tahu beruntung.
  • Baju-baju batik mending beli di Malioboro atau sekalian di Pasar Beringharjo.
  • Caping Pak Tani idola para turis ditawarkan sampai Rp.75,000 untuk turis. Saya mendapat seharga Rp. 30.000 unkuran sedang dan tebal. Di Mirota caping pak tani djual dengan harga Rp.20.000,- saja
  • Miniatur Borobudur bisa didapat dengan harga 10-15ribu. Tawar lebih rendah lagi mengingat saya tidak jago menawar.
  • Anyaman lukis Candi Borobudur dari bambu bisa ditawar sampai Rp.15.000,- saya tidak membeli tapi seingat saya penjual menawarkan sampai 20ribu.
  • Uleg-uleg dan piring batunya ditawarkan 40-70ribu. Beli di pasar saja. Khusus untuk uleg dan piring dengan desain bunga dan desain imut lainnya memang  menarik dan setahu saya tidak dijual di kota lain jadi silakan menawar dan semoga beruntung :)

Jalan keluar menuju gerbang memang diarahkan menuju lokasi pedagang. Banyak pedagang menawarkan dagangan dengan muka memelas. Silakan pilih untuk tetap fokus pada rencana perjalanan atau menaruh rasa iba pada pedagang. Seorang ibu pedagang berhasil merayu pacar saya ketika kami duduk makan di warung dekat pusat oleh-oleh. Dia berhasil menjual kipas bambu biasa yang tidak bagus menurut saya. 2 kipas seharga 15ribu. Dia sudah merayu pacar saya dengan menjajakan hampir seluruh dagangan. Pacar saya sudah menolak dengan tegas dan setelah hampir 10 menit dia pun luluh hanya untuk mengusir ibu itu pergi. Setelah pergi..ada pedagang lain, wanita tua juga. Tapi kali ini tidak ada lagi rasa iba.

Saking capeknya pacar saya tidak mau lagi berjalan. Naiklah kami becak ke terminal. Tidak ada lagi rencana naik andong untuk penghematan. Becak 10,000 per orang. Jaraknya dekat tapi kami sudah capek menawar. Sesampai di terminal kami menunggu bus yang belum datang. hanya ada 1 bus di terminal dan itu bukan jurusan yang ingin kami naiki.

Saya bertemu turis lain. Saya tanya dia mau ke kota atau tidak dia mengiyakan. Saya tanya dia tinggal di mana dia bilang di kawasan Malioboro di puat kota. Saya di kawasan pinggir di Jogokaryan. Saya sempat mendapat info untuk turun di terminal Jombor dan lanjut dengan bus ke arah Jogokaryan. Tampaknya tidak semua orang di Jogja familiar dengan angkutan umum. Para bapak dari DLLAJR juga tidak tahu bagaimana cara mencapai Jogokaryan dari Borobudur. Akhirnya saya setuju untuk ngekor bule itu ke Terminal Jombor.

Saya tanya berapa dia membayar dari Jombor ke Borobudur, dia bilang Rp.12,000,- wah saya makin kecewa dengan tarif awal saya dari Terminal Giwangan ke Borobudur yang Rp. 20,000. Menurut saya dari Jombor ke Giwangan tidak mencapai Rp. 8000,- tarif wajarnya. Maklum saya pengguna angkutan umum sejati jadi agak sewot jika tarif dinaikkan semena-mena. Ini belum apa-apa. Ketika kami di dalam bus, bule ini duduk di belakang saya dan pacar kondektur datang meminta ongkos.
Saya tanya, "Turun Jombor berapa?"
"Twenty."
"Nggak pak"
"Twenty, dua puluh" dengan setengah memaksa.
"Lima belas" kata saya
"Ya thirty dua orang."
Giliran bule di belakang membayar dia langsung minta 20ribu jelas-jelas dia tahu saya bayar berapa karena saya duduk di depannya. Bule ini tidak mau membayar 20ribu dan dia bilang sebelumnya hanya bayar 12ribu. Kondektur tetap memaksa. Akhirnya saya bilang fifteen. Dan kondektur pun mau dibayar 15ribu sama dengan saya. Bule ini pun geleng-geleng heran

Inilah yang saya tidak suka. tarif dinaikkan semena-mena. Harusnya ada tarif yang dibuat jelas ke lokasi-lokasi wisata tertentu. Bagi saya citra Indonesia dipertaruhkan di sini. Ketidakjelasan tarif dan tidak adanya pengumuman membuat turis mudah dibohongi. Sungguh memalukan bagi saya yang orang Indonesia. Lebih baik seperti tiket Borobudur yang menulis tarif berbeda untuk turis domestik dan manca negara.

Lucunya mendekati terminal Jombor saya bertanya pada sopir di sebelah kami rute tercepat menuju Jogokaryan. Pak sopir menjawab bahwa saya tidak harus turun di Jombor, saya lupa apa nama tempatnya yang jelas setelah wilayah Gamping. Jadi ketika bule turun di Jombor dia menunggu kami. Saya bilang saya lanjut perjalanan. Kondektur pun menyuruh kami turun, tapi karena sopir memberi tahu kondektur bahwa kami akan turun di tempat lain jadi kami pun duduk manis lagi.

Logikanya karena kami turun di tempat yang jauh dari tujuan awal, Terminal Jombor kami harus membayar ekstra. Saya sudah mempersiapkan uang jika diminta menambah biaya. Herannya sampai saya turun saya tidak diminta menambah ongkos. Bahkan ketika turun kondektur yang tadi memaksakan tarif menjadi orang yang super ramah. Saya yakin pada dasarnya para kru bus ini ramah dan baik hati, tapi yang membuat saya sebal mereka menaikkan tarif bagi turis lokal maupun domestik semena-mena. Karena saya tidak tahu patokan tarif resmi jadi ketika berangkat saya manut saja ketika dikenakan tarif mahal. Pulangnya, tarif berangkat saya jadikan acuan..

Posting selanjutnya...cerita di seputar kota Jogja....

Friday, October 5, 2012

Jogja Kembali (Lagi) -- Part 2


ing bagian kedua kali ini adalah tentang perjalanan kami dari Surabaya ke Jogja. Monggo disimak...

Sengaja kami naik bus patas Eka jurusan Surabaya � Jogja. Awalnya pacar saya memaksa naik kereta. Saya tidak kurang argumen untuk meyakinkannya agar kami naik bus karena lebih mudah menuju Candi Borobudur, objek wisata pertama kami. Terlebih hotel yang kami tinggali check-in nya jam 1 siang, jadi kami harus menghabiskan pagi di hari Kamis 20 September dengan kegiatan yang lebih bermakna, ya�berpanas ria di Candi Borobudur.


Kami tiba di Terminal Purabaya � Bungurasih Surabaya sekitar jam 11 malam. Bus yang kami naiki langsung tancap gas setelah kami duduk. Seperti biasa semua mata memandang kami, mungkin karena bukan weekend jadi mereka pada heran liat bule. harga karcis Surabaya-Jogja Rp. 68.000 sudah termasuk makan di Rumah Makan Duta di Ngawi. Murah meriah�disbanding kereta kelas eksekutif (yang ber-AC) yang mencapai Rp. 125.000.

Saya tidak tahu tepatnya di mana bus kami berhenti dan setelah hampir setengah jam kami dioper ke bus Eka giliran selanjutnya. Untung kami dapat kursi di bagian belakang. tempat ini sangat saya rekomendasikan karena kaki bisa selonjor di pegangan tangga pintu belakang. Setelah heboh cekikikan pacar baru sadar sepatu MBT-nya tertinggal di bus sebelumnya. Oalah�saya yakin saja sepatu itu akan ketemu. Benar saja, setelah saya sampaikan kepada awak bus saya langsung disambungkan via telepon pada awak bus sebelumnya. mereka menyimpan sepatu itu dan akan diserahkan kepada markas (pool) bus Eka � Mira di daerah Tropodo Sidoarjo. Kami hanya tinggal menunjukkan bukti karcis ketika mengambil sepatu tersebut di pos satpam. Alhamdulillah..satu masalah selesai.


Kami sampai sekitar jam 6. 15 di Terminal Giwangan � Jogja. Sampai tujuan hanya tinggal 7 orang, hampir semua penumpang  turun di Solo.  Seperti yang sudah saya duga saya akan disambut puluhan fans, ternyata..benar juga. Calo dan awak bus heboh menawari kami, apalagi tahu saya bersama bule..turis abis ceritanya. Saya tidak menghiraukan dan langsung naik tangga ke ruang tunggu di atas. Sebenarnya saya tidak tahu pasti saya harus ke mana untuk menunggu bus tujuan Borobudur, tapi saya cuek saja bergegas meninggalkan kerumunan. petugas loket peron sudah hadir di pagi hari, calo bus masih saja nekat menghampiri. Saya bilang saja saya tunggu jemputan ketika ditanya hendak ke mana, titik. Loket peron Rp. 200 sayang saya harus bayar padahal di Terminal Purabaya peron sudah ditiadakan.

Di sisi kiri adalah bus jurusan luar kota saya lupa pastinya
Sebelah kanan dari gambar ada pintu yang mengarah pada bus jurusan kota-kota sekitar Jogja
(Parangtritis, Muntilan, Sleman, dll)

Tidak ada informasi untuk bus dalam kota.
Apakah memang ruang tunggu hanya untuk bus luar kota saja?

Sampai dalam ruang tunggu terminal saya terpana, ruang tunggunya kotor dan tidak terawat. Saya ingat betul di Terminal Purabaya lantainya disapu berkali-kali. Pagi, siang, sore setiap saya ke sana lantainya bersih walaupun tidak kinclong ubinnya. Paling tidak tidak ada sampah. Saya ingat betul 2 tahun yang lalu ketika pergi bersama kakak terminal ini jauh lebih bagus. Sayang kok tidak berbenah. Saya pergi ke kamar kecil dan sambil menahan nafas karena bau dan kotornya kamar kecil itu tetap saya berniat buang hajat.  Ketika giliran pacar yang pergi ke kamar kecil saya berpesan sambil mempersiapkan dirinya menghadapi kejutan joroknya toilet itu. Dia sangat tidak suka, apa boleh buat karena terpaksa. Perut juga lapar tapi saya tidak menangkap kesan yang nyaman di terminal tersebut  sehingga saya malas makan. Kios-kios pun belum banyak yang buka. 

Lantai yang belum disapu dan kursi yang tidak dicat kembali

Dulu di kotak ini ada televisi dengan siaran Yogya TV
Sekarang kosong melompong kotaknya :(

Semoga saja Terminal Giwangan segera dipercantik. Toilet terutama. Papan penunjuk arah juga lebih banyak ditempel sehingga memudahkan turis seperti saya. Semoga...

Apa yang terjadi selanjutnya? Berhasilkah saya menemukan bus jurusan Borobudur di Jumat pagi hari saat itu? Berasa sandiwara radio ya? Oke deh silakan dilanjut pada posting selanjutnya, tentang perjalanan menuju Borobudur.

Jogja Kembali (Lagi) -- Part 1


Jogja sebutan umum Yogyakarta memang kota yang menarik untuk dikunjungi. Keaslian budaya yang masih dipegang kuat seperti penulisan nama jalan dengan huruf jawa (aksoro jowo), batik yang melengkapi segala macam pernak-pernik kehidupan, dan kuliner tradisional yang terjaga rasanya membuat kota ini menarik untuk dikunjungi.

Setelah 4 kali mengunjungi Jogja dengan teman jalan berbeda saya pun mendapat pengalaman yang berbeda tentang kunjungan saya terakhir minggu lalu selama 3 hari dari tanggal 20 September sampai 22 September. Kunjungan pertama saya lakukan bersama teman-teman SMP hampir 15 tahun yang lalu, standarnya kami mengunjungi Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Jalan Malioboro. Karena acara dilakukan beramai-ramai dengan teman sekelas maka tidak ada yang terlalu berkesan di sini. Saya buta arah tapi selalu ada guru pendamping yang membantu. Tipikal liburan rame-rame anak sekolahan. 

Kunjungan kedua masih bersama teman-teman SMA, 4 tahun kemudian kali ini kami mengunjungi Pantai Parangtritis, Kaliurang, dan Jalan Malioboro tanpa candi. Pengalaman yang tak terlupa tentu saja foto-foto dengan bule yang super norak jika diingat kembali tapi sudahlah. Liburan kala itu juga tidak berkesan.  

Kunjungan ketiga saya mengunjungi teman yang kuliah di sana untuk 2 hari saja. Pengalaman baru bagi saya karena saya naik bus cepat dari Surabaya ke Jogja sendiri dan hanya mengandalkan jemputan teman di terminal Giwangan � Jogja. Kesan yang mendalam dari kunjungan singkat yang ketiga adalah : makanan murah dan jalanan yang membingungkan, semua tampak sama.

Saya, tidak nampak di gambar.
Ada kakak, Papa, teman kakak dan ibunya
Ajiiib rame-rame
Kunjungan keempat saya lakukan bersama keluarga, bersama kakak dan ayah saya. Kali ini terasa spesial karena ini adalah liburan kami yang pertama setelah ibu meninggal. Kawan kakak saya tinggal di Jogja dekat daerah Kotagede kemana-mana kami selalu diantar, jadi rasa petualangan tidak terlalu dominan. Tetap saja kami mencoba beberapa hal baru. Tujuan pertama  kami pergi makan di warung gudeg Mbarek Hj. Ahmad di daerah UGM. Bukan warung tepatnya rumah makan. Penuh tanda tangan artis dengan harga seporsi nasi gudeg yang membuat saya ingin kabur tidak membayar he he he. Hebatnya gara-gara gudeg Yu Djum saya jadi cinta gudeg. Sebelumnya saya selalu anti gudeg. Kami mengunjungi Candi Prambanan dan saya tidak membayar biaya kamera, saya lupa berapa bayarnya. Saya sembunyikan kamera di tas..kamera saja kok ya kena pajak. Kami juga mengunjungi Candi Borobudur. Kami mengunjungi keraton Jogja dan selanjutnya seperti biasa jalan-jalan di beberapa tempat belanja di Jogja.
Saya dengan dandanan jadul bersama
abdi dalem Keraton


Kunjungan kelima saya pergi bersama kakak dan pacar saya (saat ini sudah mantan). Seperti biasa destinasi awal adalah urusan perut. Jadi kami ke depot gudeg Hj. Ahmad lagi. Dilanjut foto-foto di depan kampus UGM. 

Agar tidak terlalu "gosong" ketika mengunjungi Borobudur kami langsung berangkat menuju candi Buddha terbesar itu. Kami melewati Candi Mendut dan berdecak kagum sejenak sebelum lanjut ke Candi Borobudur. Capek mengitari candi perut harus diisi. Kami pun mencoba kuliner khas dari restoran yang menjual semua makanan dari bahan jamur namanya �Jejamuran�. Rasanya enak  dan harganya bersahabat, ini yang T.O.P. Letaknya di Sleman, di luar Jogja sih. Tapi pasti dilewati dari Borobudur. Tinggal belok ke kiri dari perempatan. Wajib coba ya?
Pepes Jamur, Omelette Jamur, tongseng jamur...
Ada juga pertanian jamur yang bisa dilihat di restoran ini
Adalah kakak saya yang browsing soal restoran ini. Saya sudah lupa menu apa saja yang say apesan tapi es carica-nya luar biasa. Porsinya memang bukan porsi besar tapi mak nyuuus

Kami berusaha mengeksplor kota dengan melakukan lebih banyak kegiatan bersenang-senang. Tujuan utama pasti Kraton Jogja, pergi ke Pasar Beringharjo. Di keraton saya nonton pertunjukan tari dan duduk di tikar bersama para bule lain karena saya telat dapat kursi dengan spot yang bagus. Dengan terkadang menjulurkan kaki takut kesemutan saya bertemu pasangan bule dari Belanda. Si pria punya mata dengan kombinasi yang unik, ada warna kuning kecoklatan di sekeliling pupil matanya. Saya benar-benar takjub. Biasanya warna biru atau hijau atau coklat tanpa warna kuning kecoklatan yang pernah saya lihat. 

Malamnya, seolah bukan ke Jogja jika tidak ke Jalan Malioboro, saya dan kakak mencoba tato temporer seharga Rp. 30,000,-. Nantinya kami menyesal karena di Pasar Ampel - Surabaya harganya cukup Rp. 10,000,- saja. Artis tato-nya mirip Charlie ST 12, dan dia sadar akan kemiripannya wealah..... Setelah dari malioboro kami ingin mampir ke Angkringan Lik Man yang tersohor itu. Bukannya dapat Lik Man dapatnya Lik siapa gitu..lupa namanya. Angkringannya pun biasa saja tapi memang benar-benar ramaiiiiii.
Pada kunjungan terakhir kami berencana menikmati kuliner kegemaran Sultan Jogja di Bale Raos, apa daya saat itu Bale raos dibooking untuk pesta pernikahan. ya sudahlah�next time better.

Next time-nya pada kunjungan saya yang keenam, alias bulan September ini saya lakukan. Kali ini sangat special karena saya pergi bertamasya dengan pacar saya. Bukan karena keromantisan perjalanan kami yang sangat spesial, tapi pengalaman bersama pacar saya yang bule yang semakin membuka mata saya tentang kota Jogja. Cerita yang ingin saya bagikan lumayan panjang dan terlalu membosankan jika dimuat dalam satu posting saja. Jadi...silakan lanjut ke bagian selanjutnya ya? :D

Monday, September 24, 2012

TUGU SIMPANG GARUDA : SETIAP ORANG PASTI LEWAT TUGU INI :)


Sebuah Tugu yang Penulis Belum Tahu Detail Sejarahnya. Setiap Orang Sabang Pasti melewati Tugu ini. Bukan Karena dikeramatkan, namun karena posisi Tugu ini memang berada tepat di bundaran jalan yang menghubungkan ke semua arah. Mudah-mudah Koneksi Bagus Besok Bisa di Upload lagi Denahnya via Google Earth :) :) :)

TAMAN MERPATI KOTA SABANG : MERPATI JINAK SAHABAT ANAK :)

Hmm... Gak Tahu Mau Nulis Apa nich... Taman Merpati (Gak Tahu Nama Resminya Apa) Yang Pasti ini juga Cocok dijadikan buat tempat refreshing sore hari, apalagi yang punya Anak kecil yang baru bisa berjalan. Teringat Saat Anak masih umur 2 tahun sangat suka bahkan Ngambek kalau Sore tidak diajak ke Taman Merpati ini.

SABANG : KM NOL INDONESIA PALING BARAT

Meski sebenarnya Pulau Terluar Paling Barat Indonesia bukanlah Pulau Weh (Kota Sabang) namun sebuah pulau karang kecil yang terletak disebelah Barat Pulau Breuh. Namun Tugu KM Nol Indonesia secara Resmi ditancapkan di Kota Sabang
Tugu Nol Kilometer RI atau biasa disebut Monumen Kilometer Nol merupakan sebuah penanda geografis yang unik di Indonesia. Hal ini berkaitan perannya sebagai simbol perekat Nusantara dari Sabang di Aceh sampai Merauke di Papua. Tugu ini bukan saja menjadi penanda ujung terjauh bagian barat di Indonesia tetapi juga menjadi objek wisata sejarah bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Lokasi tugu ini terletak di areal Hutan Wisata Sabang tepatnya di Desa Iboih Ujong Ba�u, Kecamatan Sukakarya, sekitar 5 km dari Pantai Iboih. Letaknya di sebelah barat kota Sabang sekitar 29 kilometer atau memakan waktu sekitar 40 menit berkendara.
Tugu adalah simbol pengenang dimana arti pentingnya justru sering kali terlupakan dan bahkan diremehkan dengan cara tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, selayaknya warga negara yang baik turut menjaga keberadaannya dengan tidak melakukan aksi vandalisme seperti mencorat-coret fasilitas atau pun merusak fasilitasnya.
Tugu kilometer Nol adalah sebuah bangunan setinggi 22,5 meter dengan bentuk lingkaran berjeruji. Bagian tugu dicat putih dan bagian atas lingkaran menyempit seperti mata bor. Puncak tugu ini terdapat patung burung Garuda menggenggam angka nol dilengkapi prasasti marmer hitam yang menunjukkan posisi geografisnya. Di lantai pertama monumen terdapat sebuah pilar bulat dan terdapat prasasti peresmian tugu yang ditandatangani Wakil Presiden Try Sutrisno, pada 9 September 1997. Di lantai kedua terdapat sebuah beton bersegi empat dimana tertempel dua prasasti yaitu prasasti pertama ditandatangani Menteri Riset dan Teknologi/Ketua BPP Teknologi BJ. Habibie, pada 24 September 1997.
Dalam prasasti itu bertuliskan penetapan posisi geografis KM-0 Indonesia tersebut diukur pakar BPP Teknologi dengan menggunakan teknologi Global Positioning System (GPS). Prasati kedua menjelaskan posisi geografis tempat ini yaitu 05 54" 21,99 Lintang Utara - 95 12" 59,02" Bujur Timur. Data teknis berdirinya tugu ini tertoreh di atas lempeng batu granit yang menyebutkan �Posisi Geografis Kilometer 0 Indonesia, Sabang. Lintang: 05o 54� 21.42� LU. Bujur: 95o 13� 00.50� BT. Tinggi: 43.6 Meter (MSL). Posisi Geografis dalam Ellipsoid WGS 84�.
Dirangkum Dari Berbagai sumber khususnya dari www.indonesia.travel :)

Wednesday, November 16, 2011

Panorama di Benteng Anoi Itam

Lautan Luas nan biru terbentang di belakang adalah foto asli view laut dari Benteng Anoi itam. Benteng peninggalan jaman penjajahan Jepang. benteng model ini tersebar hampir seluruh kawasan pulau Sabang.
Di Belakang Benteng Anoi Itam....