Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts

Tuesday, February 5, 2013

[BeraniCerita#1] Enam Tiga Puluh


Kulirik jam tanganku, 6.30 pagi. Seperti biasa aku menunggunya di persimpangan jalan ini.  Menunggunya untuk berangkat sekolah bersama. Inilah saat yang selalu aku rindukan. Saat aku bisa melihat wajah cerianya dan kerlingan mata jenakanya, ketika dia berceloteh riang. Setiap hari ada saja yang dia ceritakan. Semua terasa indah didengar. Walaupun aku hanya meresponnya dengan senyuman, anggukan, atau kata "Ouu.." saja, tapi dia tak merasa keberatan. Dia memang sangat mengerti aku, seorang cowok dingin dan pendiam, begitu kata teman-temanku. Sedangkan dia seorang gadis periang yang tak bisa diam. Aku ibaratkan kami ini seperti Rangga dan Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta. Kami berbeda, tapi satu dalam cinta.

Tap.. tap.. Suara langkah kakinya mendekat. Dia selalu datang dengan setengah berlari. Rambut panjangnya yang diikat bandana berkibar menutupi sebagian wajah manisnya. Setelah ini dia pasti menyapaku riang "Hai.. Udah lama nunggu ya? Sori ya kelamaan". Dan selalu kubalas dengan anggukan saja. Tapi, kali ini dugaanku meleset. Dia tak menyapaku. Dia hanya diam dengan ekspresi datar, dan melanjutkan langkah kakinyatanpa melirikku sedikitpun. Aku segera menyusul di sampingnya. Seribu tanda tanya berkecamuk di otakku. Apakah dia ada masalah? Apakah dia marah? Apa dia sakit?

Kucoba tetap tenang. Tidak lama lagi dia pasti menceritakan keluh kesahnya seperti biasanya.  Sepuluh menit telah berlalu dari 6.30, dan dia tetap diam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Belum pernah aku sejengah ini berasa di sisinya. Aku tak bisa diam saja, aku tak tahan lagi. Akhirnya kuberanikan diri bertanya "Rin, ada apa?� Dia hanya menggeleng, tanpa menghentikan langkahnya.

Semakin jelas dia ada masalah. Belum pernah sekalipun dia mengabaikanku seperti ini. Dorongan rasa penasaran membuatku bicara lebih banyak �Kenapa kamu diam saja? Ada masalah apa?". Secara tak terduga dia menghentikan langkahnya, tepat di depan gerbang sekolah. Dengan mata berkilat dia menatapku tajam, dan berkata "Kamu benar-benar ingin aku bicara? Untuk apa? Untuk apa aku bicara, untuk apa aku banyak cerita kalau kamu tak pernah menanggapi. Bahkan aku tak pernah tahu selama ini kamu benar-benar mendengarku atau tidak . Aku bosan jadi radiomu!"

Kata-katanya deras mengguyurku hingga beku. Dan aku hanya bisa terpaku, memandangnya berlalu.

***
*Mendengarkan cerita dan keluh kesahnya, adalah salah satu cara mencintai. Tapi terkadang mendengar saja tidak cukup*

 ***
"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."

Thursday, January 17, 2013

[Cerita Fiksi] The Sweetest Birthday

Malam ini kubenamkan diri dalam kamar. Mencoba menghibur diri dengan mendengarkan lagu dari radio bututku yang suaranya tak lagi merdu. Hari ini ulang tahunku yang ke 17. Kata orang ini sweet seventeen. Dan konon harus dirayakan dengan meriah. Itulah yang dilakukan oleh sebagian besar teman-temanku. Tapi aku tidak begitu. Boro-boro mau merayakan ulang tahun, untuk makan sehari-hari saja susah.
"Selamat ulang tahun nduk.." Hanya ucapan itu saja yang kudapati dari ibuku. Tak ada menu spesial, apalagi kado istimewa. Semua tampak sama seperti hari-hari biasa. Menu sarapanku tetap sama, nasi dan kerupuk saja. Bahkan teman-teman sekolahku tak ada satupun yang mengingat ulang tahunku. Mereka sibuk menyiapkan diri untuk pesta ulang tahun Putri nanti malam. Ulang tahun dan umurku sama persis dengan Putri, tapi nasib kami berbeda. Putri adalah anak seorang pejabat kaya di daerahku. Pasti pesta sweet seventeennya malam ini sangat mewah dan meriah. "Ris, kamu nanti datang ke ulang tahun Putri kan?" tanya Ayu, teman sebangkuku, siang tadi. "Aku nggak bisa. Aku harus bantu ibuku bikin pesanan kue" jawabku sekenanya. Mana mungkin aku datang tanpa kado dan baju pesta?

Mataku masih nanar menatap langit-langit kamarku. Tiba-tiba kudengar suara ibu memanggilku "Nduk.. Ada teman-temanmu datang tuh". Hah? Apa aku tak salah dengar? Bukannya seharusnya mereka sedang berpesta? Pikirku dalam hati. Dengan malas aku menemui mereka. Aji, Rama, Azis, dan Dea. "Kalian bukannya ke pesta Putri?" tanyaku heran. "Tadi udah kesana kok" jawab Aji. "Tapi cuma sekedar ngucapin selamat aja. Kami nggak nyaman di pesta seperti itu" sambung Rama. "Jadi kami mau pesta di rumahmu aja" tambah Dea. "Nggak ada pesta di rumahku!" aku menjawab dengan ketus. "Kalau begitu kita adain aja" Aziz dengan penuh semangat mengungkapkan ide konyolnya, disertai kerlingan matanya yang jenaka.

Masih belum hilang keherananku melihat polah mereka, tiba-tiba, "Selamat ulang tahun!!! seru mereka bersamaan. Dan sebungkus gorengan plus beberapa buah minuman ringan langsung tersaji di depanku. "Kalian ingat?" tanyaku lirih, tak sanggup menahan keharuan. Senyum dan tawa mereka menghangatkan malam ini, malam sweet seventeenku yang manis. Tak ada kue tart, tak ada lilin, tak ada hiruk pikuk musik yang meriah. Pesta ulang tahunku yang sederhana namun indah.

#based on true story#


Special for:
1.    Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB) yang berulang tahun hari ini. KEB, sebuah komunitas yang para anggotanya membuatku mupeng sekaligus minder dengan karya-karya mereka. Emak-emak cantik, pinter, gaul, narsis dan multitalent bertebaran di sini. Dan aku harus bilang �Wow! Banyak wanita luar biasa di sini�. Karya-karya meraka sungguh menggugah, menginspirasi dan memotivasi. Ternyata emak-emak juga bisa berkarya dan merubah dunia. Dan aku bangga jadi bagian dari mereka.
Selamat Ulang Tahun KEB! Semoga makin mendunia ^^
#1stKEB - Satu Cinta dalam Inspirasi dan Karya - Ngeblog Terapi Jiwa
2.    Sahabatku dari masa unyu-unyu dulu, Diana, yang berulang tahun tanggal 17 kemarin. Maaf ya hanya bisa ngasih kado ini. Semoga menghibur ^^
Selamat Ulang Tahun cintaaaa� *peluk �n cium*
Tetap semangat menjalani hari-hari sebagai fulltime mom yaaa� *ngiri*

Wednesday, December 26, 2012

[CeritaMini] Laki-laki di Seberang Sana

gambar dari sini

Jakarta, di penghujung senja..

Dengan harap-harap cemas kupencet tombol call di hpku. Tertera nama laki-laki itu di sana, Ade. Seorang laki-laki yang pernah sangat memujaku, mengejarku, dan tak pernah sedikitpun mengabaikanku. Tapi kini aku ragu, masihkah pesonaku meluluhkan hatinya. Entah sejak kapan dia mulai dingin padaku. Tak pernah kuterima lagi pesan-pesannya melalui email, chating, sms, maupun telepon. Sejak dia pindah tugas ke Denpasar, kami memang tak bisa bertemu setiap saat. Jadi hanya lewat media itulah kami berkomunikasi. 

"Halo.. Assalamualaikum.. " Suara beratnya membuatku rindu sekaligus gugup seketika.
"Waalaikumsalam.. Apa kabar mas?"
"Alhamdulillah baik.. Ini siapa ya?"
Ya ampun, dia tidak mengenali suaraku, bahkan tak mengenali nomer telponku. Bagaimana mungkin? Apa dia sudah menghapus nomer hpku dari contact list-nya? Tiba-tiba aku merasa dibuang.
"Ini aku mas.. Masa' nggak hapal suaraku?"
"Eh.. Dek Hani.. Maaf..kirain siapa" jawabnya datar.
Disengaja atau tidak, jelas dia sudah berhasil melemahkan mentalku. Tapi bukan tipeku yang langsung mundur begitu saja.
"Mas masih di Denpasar kan?"
"Iya lah.. Mau kemana lagi?"
"Kok nggak pernah kasih kabar?"
"Maklum dek.. Aku sibuk banget akhir-akhir ini"
Jawaban klasik, yang kuartikan dengan "Aku nggak kasih kabar, karena aku nggak mikirin kamu lagi". Tapi apapun pikiran dia, aku harus menyampaikan niatku. Niat yang sudah lama aku simpan sebagai kejutan untuknya.
"Mas, aku mau main ke Denpasar. Boleh kan?" akhirnya kusampaikan maksudku dan berharap dia menyambut dengan suka cita.
"Kamu serius? Kenapa mendadak begini?"
Jleb! Bukan respon itu yang kuharapkan. Dari nada suaranya jelas terasa dia tak mengharapkan kedatanganku.
"Ini bukan mendadak mas. Dari dulu aku ingin sekali kesana. Mas juga pernah minta aku nengokin mas kan? Baru sekarang ini aku bisa ke sana"
"Jangan dulu ya. Aku lagi sibuk banget dek" dia menolakku!
"Kenapa mas? Benar karena sibuk? Atau ada sebab lain?"
Perasaanku menangkap sinyal yang tak wajar. Pasti ada yang tak beres sampai dia menolak kedatanganku.
"Dek, udah dulu ya. Pak bos nyuruh aku nyari berkas. Segera!"
Tut..tut.. Telponku diputus sepihak olehnya. Sungguh keterlaluan. Beginikah rasanya ditolak? Sakit sekali.

Denpasar, seminggu kemudian..

Sejak aku menelponnya hari itu. Tak ada kabar darinya sama sekali. Dan penyebab dia menolakku masih menjadi misteri bagiku. Itulah yang membawaku ke sini. Menempuh ribuan kilometer demi mencari jawaban atas rasa penasaranku. Dia tak bisa mencampakkanku begitu saja tanpa ada penjelasan yang masuk akal.

Berbekal catatan alamat yang pernah dia berikan dulu, aku berjalan di sebuah gang di pusat kota Denpasar. Semoga saja dia masih tinggal di sana. Tiba-tiba aku melihat sosok laki-laki berkulit terang dan berwajah tampan. Kemeja yang pas di badannya memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya yang atletis. Seketika itu jantungku terasa berdetak lebih cepat. Ingin sekali hati ini memanggil namanya "Mas Ade!". Namun seketika itu pula kuurungkan niatku saat mataku menangkap sosok lain di sisinya. Sosok itu menggelayut manja dalam rengkuhan mas Ade yang menatapnya dengan mesra. Sosok seorang laki-laki!

Thursday, November 29, 2012

A L I B I


�Kenapa kamu kasih foto itu ke dia?!� suara Haris meninggi menandakan emosi yang tak tertahankan.  �Dia itu laki-laki lain! Nggak pantas kamu kasih foto kek gini ke dia!� aku terus dicecarnya. Aku tak tahu harus menjawab apa. Mataku tertuju pada foto yang dia maksud.  Seorang wanita berwajah oriental dengan rambut lurus sebahu berwarna kemerahan, mengenakan lingerie seksi warna ungu yang memperlihatkan bentuk tubuh dan kulitnya yang mulus.  Posenya sangat menggoda layaknya model di sebuah majalah pria dewasa. Itu fotoku, hasil karya Haris, suamiku. Aku tak tahu darimana Haris tahu aku memberikan foto itu pada Adrian, teman kuliahku dulu.

Aku hanya bisa diam. Waktu terasa berhenti berputar.  Sayup-sayup terngiang di telingaku sebuah lagu yang seolah mengejekku.

? Kau tahu sesuatu
Yang ku ingin kau tak tahu
Kau tanya ini itu
Ku terdiam membisu ?


�Ada apa kamu dengan Adrian? Begitu spesialkah dia sampai-sampai kamu rela memberi sesuatu yang sangat pribadi? Kalian ada hubungan apa?!� pertanyaan Haris makin menusukku. Aku sangat paham betapa cemburunya dia. Foto itu memang tidak sepantasnya kuperlihatkan pada laki-laki lain, apapun alasannya.
�Kami hanya berteman� jawabku singkat. Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibirku. Tidak seperti biasanya, di mana aku selalu bisa bersilat lidah dengan segala alibi yang kucari-cari. �Nggak mungkin kalian cuma berteman! Foto itu terlalu pribadi untuk dishare pada teman biasa� nyata sekali Haris tak bisa menerima penjelasanku yang tak bisa disebut sebagai penjelasan itu.

? Kau terus memburuku
Dan tetap menuduhku
Kau terus pancing aku
Berusaha menjebakku ?


�Dia hanya ingin tahu mas.. Hanya penasaran� kujawab dengan suaraku yang melemah. Lagi-lagi pembelaanku terasa sangat hambar.  Dan tentu saja tak meredakan emosinya.  Dengan nada suara yang makin tinggi dia mendesakku �Kalau hanya teman biasa, kenapa kamu  ngasih foto terbuka dengan pose seperti itu?! Kenapa bukan foto yang biasa aja?!�

? Terdesak tak bisa menjelaskan
Ku tak mau membagi rahasia
Ku tak bisa cerita yang kau minta
Seandainya ku bisa berkata ?

? Alibi alibi alibi
Alibi ooo tolong aku
Alibi alibi alibi
Alibi ooo tolong aku ?


Kupejamkan mataku, mencoba menenangkan kegalauan diri.  Dan terngiang lagu itu lagi. Lagu favoritku. Dan sungguh aku tak menyangka aku harus mengalami peristiwa seperti di lagu itu. Aku berpikir keras, berusaha mencari cara melepaskan diri dari belenggu interogasi ini. Oh, andai aku bisa menghilang saat ini juga.

Suamiku masih menunggu pengakuanku. Beberapa detik telah berlalu, dan tiba-tiba seakan tak kusadari, bibirku bersuara dengan nada sinis, dan mataku menatap tajam kearahnya seolah menantang �Mas suka kan lihat foto-foto cewek seksi? Suka juga kan motret cewek-cewek setengah telanjang dengan pose menantang? Jadi kenapa mesti marah kalau aku seperti cewek-cewek yang mas kagumi itu? Kenapa marah kalau istrimu ini dikagumi laki-laki lain?�

 �������
Haris terdiam�
Aku diam..
Dan alibi�
Menertawakan kami�

*****



Cerita ini hanya fiksi belaka.
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, kejadian  dan jalan cerita, itu memang kesengajaan :P
Cerita ini terinspirasi oleh sebuah lagu dari Andra n the backbone dengan judul yang sama.