Thursday, August 9, 2012

Bosan Jadi Pegawai

Berangkat ke kantor dari jam 6 pagi, pulang kantor jam 7 malam. Begitu setiap hari. Belum lagi di kantor dijejali beban kerja yang tinggi yang sangat menguras energi fisik dan mental. Ditambah lagi dengan lalu lintas di perjalanan yang selalu macet dan makin menambah stres saja. Sesampainya di rumah, aku tak bisa leyeh-leyeh begitu saja. Segala urusan rumah tangga dan anak-anak siap menunggu untuk kutangani. Beginilah kondisiku sehari-hari sebagai wanita bekerja sekaligus ibu rumah tangga. Alhamdulillah sejauh ini dapat aku jalani, walaupun dengan kemampuan yang terbatas. Tapi meskipun begitu, aku sering mengalami kebosanan atas berbagai rutinitasku itu. Rasanya diri ini disetir dan diprogram untuk melakukan hal-hal yang itu-itu saja, tanpa kebebasan sejenak untuk menjalanin kesenangan pribadi, dan menjalani hal-hal yang aku senangi.

Sering aku merenungi apa yang aku kujalani kini. Alhamdulillah aku punya pekerjaan, bisa menafkahi anak-anakku dengan cukup, bisa sesekali mengirim uang untuk orang tua dan adikku. Tidak jarang beberapa orang iri dengan yang aku raih sekarang. Tapi tidak tahukah mereka bahwa yang aku jalani ini memaksaku untuk mengorbankan sesuatu yang berharga yaitu freedom, time and passion. Freedom adalah kebebasanku, karena sebagai pegawai aku harus mengikuti segala aturan yang ada, termasuk waktu kerja. Telat sedikit saja gaji dipotong. Sedangkan kalau bekerja sampai lewat waktu tak diberi reward. Tidak adil memang. Time adalah waktuku bersama anak-anakku. Bisa dibayangkan dari dini hari hingga malam hari aku di luar rumah, pasti waktu untuk bersama anak-anak sangat sedikit. Passion adalah hasrat dan gairah untuk mewujudkan impianku. Karena pekerjaan yang aku jalani sekarang bukanlah passionku.

Terpikir olehku untuk mengundurkan diri dari pekerjaan demi mengembalikan freedom, time and passionku. Tapi untuk mundur tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Terutama faktor finansial yang pasti akan berkurang karena tak ada lagi income yang aku hasilkan. Mau tak mau hal ini pasti mengganggu kestabilan rumah tangga. Bagiku mungkin mudah untuk menyesuaikan diri hidup pas-pasan. Tapi bagi anak-anak tentu itu sangat sulit.

Karena itu aku ingin merintis usaha sendiri agar di saat aku resign nanti, aku punya pegangan. Tapi sampai sekarang memang belum ada yang aku jalani serius. Pernah beberapa kali karena diajak teman, aku ikut bisnis semacam MLM. Dan beberapa kali terbengkalai begitu saja. Mungkin karena tak ada passion di bidang ini. Pernah juga aku membantu temanku dagang baju muslim untuk anak-anak. Tapi proses kulakannya benar-benar merepotkan. Dan aku kapok menjalaninya. Mungkin karena cuma membantu, jadi masalah bagi keuntungan juga tak jelas. Menjadi penjual bantal juga pernah, dan tidak laku. Akhirnya bantalnya aku pakai sendiri..hehe..

Setelah aku gagal dengan bisnis yang berhubungan dengan perdagangan barang, aku mulai berpikir, mungkin aku lebih berbakat di bidang penjualan jasa. Waktu kuliah dulu, aku pernah menjadi guru les privat, dan alhamdulillah hasilnya lumayan. Aku cukup laris di masa itu. Aku bisa menabung, beli baju buat sendiri dan buat adikku, beli tiket pulang kampung, dan bisa mentraktir teman-temanku. Sepertinya aku cukup berbakat di bidang ini. Mengingat keberhasilan itu, aku berniat ingin bisa kembali menjalaninya dengan lebih serius. Tapi bukan berbentuk les privat yang datang ke rumah. Rencananya aku akan membuka tempat les di rumahku. Untuk awalnya aku akan membuka les baca, tulis, dan hitung untuk anak-anak yang akan masuk SD. Kupikir pangsa pasarnya cukup lumayan karena sebagian besar warga komplekku adalah pasangan usia muda yang anak-anaknya masih kecil-kecil, antara usia TK dan SD. Selain itu bisnis ini tak membutuhkan modal uang yang banyak. Paling hanya untuk menata salah satu  ruangan di rumah sebagai tempat belajar mengajar. Selebihnya hanya modal ilmu, mental, kesabaran, dan kecintaan pada anak-anak. Semoga rencanaku ini bukan hanya jadi wacana saja.





NB:
Maaf ya jeng Popi.. postingannya jadi lebih dari satu paragraf, soalnya sekalian numpang curhat.. hehe..  Anggap saja yang diikutsertakan GA yang paragraf terakhir saja. Semoga tetap berkenan ya.. :)


No comments:

Post a Comment